Perubahan Iklim dan Evolusi Bahasa

0
277

Perubahan iklim memang mempengaruhi kehidupan di bumi. Tim peneliti University of Miami mencoba mencari tahu hubungan antara perubahan iklim dengan evolusi bahasa.  Penelitian  ini berangkat dari fenomena perubahan suara pada sejumlah bahasa. Mereka memulai dari nada pada bahasa-bahasa di dunia.

“Sebab, banyak bahasa di dunia memasukkan nada dan tinggi-rendah suara ke dalam makna bahasa,” kata Caleb Everett, pakar linguistik, yang memimpin penelitian ini. Dalam jurnal Proceeding National Academy of Sciences, Everett menulis banyak bahasa di dunia menggunakan nada yang kompleks. “Tiga atau lebih nada suara kontras,” ujarnya. Hal tersebut biasanya terjadi di daerah-daerah lembab. Sedangkan bahasa dengan nada sederhana sering terjadi di daerah kering, baik di daerah dingin ataupun gurun.

Karena itu, pria yang juga profesor di Departemen Antropologi ini memperkirakan kondisi geografis suatu negara dapat menjelaskan bagaimana bahasa berevolusi. Namun evolusi tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan iklim jangka pendek, melainkan dalam jangka panjang.  “Manusia dan bahasa beradaptasi dengan hal tersebut.”

Dia memberikan contoh adaptasi bahasa dan suara tersebut. Manusia yang tinggal di udara kering, menurut Everett, akan mengalami penurunan elastisitas pita suara yang menghasilkan suara vokal. Kondisi ini menyulitkan manusia menghasilkan nada suara yang kompleks, terutama pada musim dingin.

Sebaliknya, iklim yang hangat dan lebih lembab dapat menghasilkan banyak variasi nada suara vokal. “Khususnya suara getar dan lembut,” tulis Everett. Walhasil, seseorang yang tinggal di iklim lembab dapat  ‘memainkan’ suara mereka.

Dalam penelitian kali ini, Everett dan timnya meneliti lebih dari 3.700 bahasa. Setelah berkutat dengan ribuan bahasa dan nadanya tersebut, mereka berhasil mencatat 629 bahasa dengan nada kompleks. Sebagian besar ditemukan di daerah tropis di Afrika, Asia Tenggara, beberapa di Amerika Utara, dan Amazonia.

Science Daily | Foto: Kent.ac.uk