Perjuangkan Kesejahteraan, Awak Kapal Perikanan Sulawesi Utara Bentuk Serikat Pekerja

0
345
Deklarasi SAKTI di Bitung, Sulawesi Utara.

Bitung (Samudranesia) – Bitung sebagai kota industri perikanan selama ini banyak menyerap tenaga kerja sebagai awak kapal ikan dan pekerja di pabrik unit pengolahan ikan. Dalam mendukung produksi perikanan tangkap, di Bitung saat ini diperkirakan terdapat 8000 awak kapal perikanan yang bekerja pada sekitar 1.074 kapal ukuran 1-200 GT.

Untuk meningkatkan kesejahteraan, perlindungan dan posisi tawar awak kapal perikanan, sejumlah awak kapal perikanan kota Bitung mendeklarasikan pembentukan Serikat Awak Kapal Perikanan Sulawesi Utara (SAKTI). Kegiatan yang dirangkaikan dengan rapat kerja tersebut diselenggarakan pada hari Rabu, 14 Oktober 2020 di Bitung.

Ketua SAKTI, Arnon Hiborang mengatakan bahwa SAKTI merupakan transformasi dari Forum Awak Kapal Perikanan Bersatu (FORKAB) yang telah terbentuk pada 13 Desember 2019 lalu.

“Kami bertransformasi setelah dalam perjalanan satu tahun ini banyak kasus dan kejadian yang menimpah awak kapal perikanan yang butuh advokasi dan pendampingan,” kata Arnon dalam keterangannya yang diterima redaksi, Jumat (16/10).

Dia menjelaskan bahwa mayoritas Awak Kapal Perikanan selama ini bekerja tanpa Perjanjian Kerja Laut dan ketiadaan jaminan sosial dan kesejahteraan.

“Bahkan awak kapal asal Bitung yang bekerja di luar negeri saat ini diperkirakan berjumlah 300 orang sering kali melaporkan masalah yang dihadapi seperti pemotongan gaji dan kekerasan,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Utara, Emanuel Makanaf yang hadir dalam kegiatan tersebut menyambut baik dan mendukung keberadaan SAKTI.

“Pemerintah provinsi siap menjadi mitra SAKTI sebab prioritas kami dalam penyelesaian sengketa atau hubungan industrial adalah mengedepankan mediasi, keberadaan serikat pekerja sangat penting dalam hal ini,” kata Emanuel.

Dia berharap SAKTI dapat mendorong anggotanya untuk memiliki kompetensi yang diperlukan untuk bekerja di kapal ikan. “Anggota SAKTi wajib memiliki sertifikat keahlian yang diperlukan dalam bekerja di kapal ikan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Moh Abdi Suhufan mengatakan bahwa perlindungan awak kapal perikanan menjadi sangat penting.

“Pasar Amerika dan Eropa saat ini sangat sensitif dengan isu pekerja termasuk awak kapal perikanan sehingga pemerintah Indonesia dan industri perikanan perlu lebih memperhatikan pemenuhan hak-hak pekerja perikanan. Kesadaran awak kapal perikanan Sulawesi Utara untuk berserikat merupakan langkah strategis untuk memberikan edukasi dan informasi tentang bagaimana kerja-kerja yang aman di kapal perikanan,” pungkas Abdi. (Tyo)