Perbaiki Gizi Masyarakat, KKP dan Komisi IV DPR Gelar Pelatihan Diversifikasi Olahan Ikan

0
103
Ilustrasi Foto: Bakso udang/Net

Jakarta (Samudranesia) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) bekerja sama dengan Komisi IV DPR RI menyelenggarakan Pelatihan Aspirasi Diversifikasi Olahan Ikan bagi masyarakat. Pelatihan ini digelar selama dua hari, Senin-Selasa (27-28/7) melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengatakan, pelatihan yang diselenggarakan ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi atau masukan masyarakat kelautan dan perikanan. Menurutnya, KKP dan Komisi IV DPR RI berupaya menyediakan pelatihan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“KKP dan Komisi IV DPR bekerja sama secara proaktif untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan stakeholder kelautan dan perikanan, termasuk melalui fasilitasi pelatihan. Diharapkan pelatihan ini dapat menjadi ide usaha baru bagi masyarakat,” tutur Sjarief.

Sementara Anggota Komisi IV DPR RI, Guntur Sasono menyebut, pelatihan diversifikasi olahan ikan ini dilakukan untuk menyediakan lebih banyak pilihan pangan olahan ikan agar masyarakat semakin gemar mengonsumsi ikan. Pasalnya menurut Guntur, di Provinsi Jawa Timur masih terdapat 16 daerah dengan angka stunting (hambatan pertumbuhan tubuh) yang tinggi.

“Jember, Probolinggo, Kabupaten dan Kota Malang, Bojonegoro, dan Trenggalek termasuk wilayah (dengan angka) stunting (yang tinggi),” ucap Guntur.

Sayangnya menurut Guntur, daerah-daerah ini bukanlah daerah yang jauh dari pantai atau kesulitan pasokan ikan.

“Stunting ternyata di daerah-daerah yang banyak tambak, dekat pantai, dan ikan melimpah. Ini artinya usaha kita untuk mengampanyekan makan ikan yang harus ditingkatkan. Salah satunya melalui pelatihan hari ini,” jelas Guntur.

Guntur juga menjelaskan bahwa hampir semua jenis ikan memiliki kandungan gizi yang tinggi, termasuk olahan ikan asin yang bisa didapatkan dengan harga murah.

“Jangan sepelekan ikan asin. Ikan ini gizinya bukan main terutama untuk ibu-ibu yang lagi hamil. Yang penting pengolahannya dilakukan dengan benar dan baik. Kalau tidak benar memang kadang bisa mengakibatkan gatal-gatal,” beber Guntur.

Ikan termasuk ikan asin juga dipercayai dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan kecerdasan otak. Untuk itu, demi pemerataan suplai protein ikan, KKP bersama Komisi IV DPR RI memberikan perhatian yang sama bagi masyarakat baik yang tinggal di pesisir pantai atau di daratan yang tidak memiliki laut.

“Rajin dan pintarlah mengolah ikan, dalami ilmunya untuk kemudian dapat ditularkan kepada para tetangga. Kita memang tengah diuji wabah Corona ini. Pelatihan ini semoga menjadi kebangkitan dan langkah semangat kita dalam memanfaatkan segala potensi yang ada,” tandasnya.

Pelatihan Aspirasi Diversifikasi Olahan Ikan ini diselenggarakan dengan metode semi blended, yaitu dengan menggabungkan pelatihan daring melalui platform e-Jaring dengan pendampingan langsung oleh penyuluh di lokasi.

Peserta diberikan materi penanganan ikan segar dan pembuatan mini crispy ikan, sus maker ikan, dan panada ikan oleh pelatih dari BPPP Banyuwangi. Usai pemaparan materi, peserta pelatihan akan mengikuti praktik langsung dari lokasi masing-masing menggunakan alat dan bahan yang disediakan secara mandiri.

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilya Pregiwati mengungkapkan, pelatihan ini diikuti oleh 100 orang peserta yang berasal dari Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Mojokerto.

“Pelatihan pengolahan ini saya pikir sangat cocok karena Madiun ini sangat terkenal dengan kulinernya. Mungkin sudah waktunya nasi jotos atau pecel dan makanan-makanan lain dari Madiun dan daerah lainnya dicampur dengan ikan,” ucap Lilly.

Lilly berharap, pelatihan ini dapat menumbuhkan jiwa wirausaha masyarakat dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta yang telah bergerak pada usaha pengolahan ikan. Lebih lanjut diharapkan dapat berimplikasi pada peningkatkan pendapatan pelaku utama sektor kelautan dan perikanan.

“Ini dapat menjadi alternatif olahan perikanan karena mungkin beberapa orang memang lebih menyenangi olahan daripada ikan segar,” imbuh Lilly.

“Mungkin ikan segar harganya tidak terlalu tinggi. Begitu ikan ini diolah harapannya akan memberikan nilai yang lebih tinggi,” tutupnya.

Pelatihan yang digelar mendapat sambutan yang cukup baik dari para peserta. Astuti, pengolah ikan dari Kota Madiun menyebutkan, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi dirinya yang memang menekuni usaha pengolahan ikan.

“Saya jadi dapat tambahan ilmu. Jadi bisa diterapkan untuk mengembangkan varian produk lainnya,” aku Astuti.

Hal serupa diungkapkan Ani Apriyanti dari Poklahsar Mina Barokah, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun yang menekuni usaha pengolahan abon lele dan rambak dari kulit lele dan Binar Tri Nurhayati dari Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun yang menekuni usaha abon lele. Keduanya menyampaikan terima kasih kepada KKP, BPPP Banyuwangi, dan Komisi IV DPR RI atas pelatihan yang diberikan.

Adapun Yunida dari Poklahsar Si Jempol yang menekuni usaha olahan wader crispy dan abon lele serta Titin Supriatin dari Poklahsar Maju Bersama yang memproduksi kerupuk ikan dan stik ikan juga mengaku mendapat wawasan dan motivasi baru untuk pengembangan usaha setelah mengikuti pelatihan. Untuk itu, keduanya berharap agar pelatihan serupa dapat dilakukan berkesinambungan. (Rei)