Perahu Kajang yang Pernah Berjaya di Zaman Sriwijaya

0
65
Istimewa

Jakarta (Samudranesia)- Memiliki banyak suku tentu menjadi berkah tersendiri buat negara kepulauan seperti Indonesia. Apalagi, sepak terjang dalam keseharian suku-suku tersebut sangat akrab dengan dunia laut, atau air pada umumnya. Artinya, ada interaksi yang sangat dominan dalam keseharian mereka dengan lingkungan perairan, baik laut, danau, maupun sungai dan seterusnya.

Tak bisa dipungkiri, suku-suku dengan background model seperti ini di bumi Nusantara pastinya sangat banyak. Masing-masing jelas tampil dengan ciri khasnya sendiri. Dan, perbedaan ini harus diakui menjadi anugerah yang luar biasa. Karena kian memperkaya khazanah budaya di negeri ini. Contoh sederhana yang bisa dilihat adalah moda transportasi air, perahu. Sebagai negara bahari yang memiliki banyak suku dengan kehidupan yang sangat bergantung pada lingkungan air, Indonesia tentu sarat akan koleksi perahu khas dari setiap suku itu.

Kita tahu perahu bagi masyarakat dengan gaya hidup seperti itu punya tempat yang sangat krusial. Moda transpotasi ini bisa dibilang menjadi kebutuhan prioritas. Salah satu dari sekian banyak jenis perahu itu adalah perahu “kajang”. Perahu ini merupakan alat transportasi air, bahkan sekaligus tempat tinggal serta tempat berniaga masyarakat di seputaran Sungai Musi di zaman Kerajaan Sriwijaya. Pada zamannya perahu kajang sangat populer dan menjadi properti primadona. Tak heran, jika di masa itu jumlahnya cukup banyak. Karena, hampir setiap keluarga memiliki perahu ini.

Melihat modelnya, perahu kajang meski sangat bersahaja tapi terselip keunikan yang cukup menarik. Terbuat dari kayu rengas, berukuran panjang 8 m dan lebar 2 m. Perahu ini dilengkapi atap terbuat dari daun nipah. Dan, terbagi atas tiga: bagian depan (kajang tarik), bagian tengah (kajang tetap) dan bagian belakang (karang tunjang)

Layaknya sebuah rumah, pada bagian tengah perahu kajang difungsikan sebagai ruang kekuarga. Lantas, bagian depan sebagai tempat penyimpanan komoditi dagangan, sedang kamar mandi pada bagian belakang perahu. Untuk dayung yang berukuran 3 m ada pada bagian depan, sedang kemudi sepanjang 2 m di bagian belakang.

Keunikan perahu kajang lainnya ada lubang-lubang pada bagian permukaan dan lubang-lubang pada benda segi empat (tambuku) yang menembus lubang di sisi papan. Ini adalah teknik rancang bangun perahu, papan ikat dan kupingan pengikat. Tambuku digunakan untuk mengikat papan, serta papan dengan gading menggunakan tali ijuk.

Amat disayangkan, perahu kajang yang pernah menjadi salah satu warna dalam kehidupan masyarakat Sriwijaya dari abad-VII – XIII kini akhirnya harus punah. Tergerus oleh roda waktu yang terus mengikis keberadaannya. Kini, tak ada lagi perahu yang begitu bersahaja terlihat mengisi setiap ruang di sepanjang aliran Sungai Musi. Bahkan, tidak juga terlihat di daerah asalnya Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir.