Pelatihan Diversifikasi Olahan Ikan dan Budidaya Terus Digalakan oleh KKP

0
148
Pelatihan diversifikasi olahan ikan/KKP

Jakarta (Samudranesia) – Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan modal untuk membangun sektor kelautan dan perikanan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing. Menyadari hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) konsisten menggelar berbagai bentuk pelatihan peningkatan kompetensi SDM, baik di bidang penangkapan ikan, budidaya ikan, maupun pengolahan hasil perikanan.

Pelatihan tersebut diberikan tak hanya bagi pelaku utama atau pelaku usaha, melainkan juga bagi penyuluh perikanan yang berperan penting mendampingi masyarakat.

Terbaru, KKP menggelar “Pelatihan Olahan Ikan Berbasis Surimi” bagi masyarakat perikanan di Sulawesi Tengah pada 12-13 Agustus 2020. Selain itu, turut digelar “Pelatihan Teknis Budidaya Ikan” bagi Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) Angkatan I, II, III, dan IV dari 56 kabupaten/kota yang tersebar di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur pada 12 Agustus 2020.

Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), KKP melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Bitung memberikan Pelatihan Olahan Ikan Berbasis Surimi bagi 40 orang pelaku usaha bidang kelautan dan perikanan. Selama dua hari, para peserta dilatih untuk membuat surimi dan fish stick.

Sekretaris BRSDM Maman Hermawan mengungkapkan bahwa Sulteng merupakan provinsi yang strategis. Memiliki 3 wilayah perairan sekaligus yakni Teluk Tomini, Teluk Tolo, dan Selat Makssar (Laut Sulawesi), Sulteng memiliki potensi perikanan yang sangat besar untuk dikembangkan.

“Wilayah ini sangat kaya. Sulteng dianugerahi berbagai jenis komoditas laut seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, layang, udang windu, rajungan, dan teripang yang melimpah,” ucapnya. 

Namun disayangkan, data menunjukkan bahwa potensi perikanan yang dimanfaatkan baru mencapai 54,88% (2018). Untuk itu, Maman mendorong masyarakat sekitar mengoptimalkan potensi perikanan yang ada. Salah satunya melalui olahan berbasis surimi untuk menambah nilai tambah (added-value) produk perikanan.

 “Pelatihan ini sangat strategis. Produk berbasis surimi akan banyak dikembangkan, baik di industri makanan maupun non-makanan ke depannya,” ujarnya.

Ia pun berharap, pelatihan ini dapat memberikan ide produk olahan baru bagi para pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya saat ini.  Dengan begitu, diharapkan agar kesejahteraan para pelaku usaha di sektor perikanan pun dapat meningkat di tengah pandemi saat ini.

“Tak kalah penting, semoga pengembangan usaha bapak/ibu sekalian bisa berkontribusi untuk meningkatkan daya saing daerah Sulteng,” tambahnya.

Mewakili pemerintah daerah setempat, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Minausaha Utara Muhammad Nasri mengucapkan apresiasi kepada KKP atas kegiatan yang dilaksanakan. Ia berharap, masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan ini untuk menambah pengetahuan dan keterampilan olahan surimi.

Sementara itu, para peserta pun menyambut baik penyelenggaran pelatihan ini. Fatmawati, anggota Wanita Kelompok Nelayan Pelangi Damadota mengatakan bahwa hasil produksi nelayan di  Kab. Parigi Moutong sangat banyak. Dengan keterampilan mengolah surimi dan fish stick, ia berharap dapat membantu mengembangkan daerahnya ke depan.

Peserta lainnya, Irma, turut menyampaikan hal senada. “Saya berharap kami bisa diberikan lagi olahan lain dari bahan baku ikan ataupun rumput laut karena di daerah kami kaya akan keduanya. Dengan begitu, kami bisa memberdayakan masyarakat desa ataupun kelompok-kelompok yang lain,” pungkasnya.

Tak hanya meningkatkan kompetensi pelaku usaha, KKP juga menyelenggarakan Pelatihan Teknis Budidaya Ikan bagi penyuluh perikanan yang merupakan aktor perluasan informasi bagi masyarakat kelautan dan perikanan.

Diikuti oleh 160 penyuluh perikanan bantu (PPB) Satminkal BP3 Tegal dan 128 PPB Satminkal Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor, pelatihan digelar di BP3 Tegal pada 12 Agustus 2020.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengatakan, saat ini pemerintah memang tengah menggerakkan sektor perikanan budidaya untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan nasional, khususnya penyediaan protein ikan.

“Penyuluh adalah orang yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mendampingi mereka setiap harinya. Kita latih penyuluh agar mereka memiliki kompetensi untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada masyarakat yang lebih luas untuk mencapai kesejahteraan,” ungkap Sjarief.

Penyuluh perikanan bantu yang mengikuti pelatihan ini berasal dari 56 kabupaten/kota yang tersebar di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Daerah-daerah ini memang dikenal memiliki potensi budidaya perikanan yang cukup menjanjikan. Namun angka konsumsi ikan di beberapa daerah tersebut masih terbilang rendah, jauh di bawah angka konsumsi ikan nasional, misalnya DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

“Dengan mendorong kegiatan budidaya ini terus berkembang, kita berharap semakin banyak ikan yang dihasilkan sehingga masyarakat semakin mudah mendapatkan sumber pangan dari ikan dengan harga murah dan terjangkau,” ucapnya.

Sementara Kepala Puslatluh KP Lilly Aprilya Pregiwati meminta agar penyuluh mengikuti pelatihan dengan seksama. Tujuannya agar ilmu dan keterampilan yang diajarkan dapat diserap optimal untuk kemudian digunakan dalam mendampingi pelaku utama dan pelaku usaha di lapangan.

“Saya berharap latihan ini tidak hanya bersifat satu arah. Para PPB ini sudah banyak melakukan pendampingan budidaya perikanan, tentu banyak hal yang sudah ditemui di lapangan. Mohon kasus, masalah, atau pengalaman yang ditemukan bisa disampaikan selama pelatihan untuk bertukar pikiran dengan pelatih untuk sama-sama dicarikan jalan keluar,” ujar Lilly.

Selain itu, di samping dari kegiatan pelatihan, ia juga meminta para penyuluh perikanan juga aktif mencari informasi dari berbagai sumber lain seperti buku, search engine, electronic library, media massa, dan sebagainya.

“Intinya jangan malas dan jangan batasi diri untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari sumber manapun,” pungkas Lilly. (Rei)