Peduli SDM Maritim, Menteri Edhy Luncurkan Platform “E-Jaring”

0
52
Foto Istimewa

Jakarta (Samudranesia) – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo meluncurkan platform pembelajaran Jaring perikanan yang disingkat ‘e-Jaring’, sebuah terobosan pelatihan digital bagi masyarakat kelautan dan perikanan. Peluncuran e-Jaring ini dilakukan secara virtual serentak dengan pembukaan pelatihan daring bagi masyarakat dan penyuluh perikanan pada Selasa (30/6).

E-Jaring merupakan hasil kolaborasi antara Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) dengan Pusat Data, Statistik, dan Informasi (Pusdatin) KKP. E-Jaring akan menjadi platform pembelajaran digital yang dapat digunakan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Di era revolusi industri 4.0 yang menuntut konektivitas di segala hal, dunia digital dan kemajuan teknologi berpengaruh sangat besar terhadap perekonomian dan kualitas kehidupan manusia. Namun, untuk dapat menghadapi revolusi industri 4.0 ini, SDM harus memiliki keterampilan yang memadai, kemampuan untuk beradaptasi, dan kemampuan mencegah masalah keamanan teknologi.

“Saat ini, kita menghadapi ancaman banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi atau penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin. Untuk itu, kita harus membangun SDM kita agar tidak kalah saing,” ujar Menteri Edhy.

Oleh karena itu, Menteri Edhy menilai perlu ada kombinasi antara revolusi 4.0 dengan konsep Society 5.0 atau Masyarakat 5.0, yang berfokus pada pembangunan manusia (human centered). Pada konsep Society 5.0 ini, modal bukan lagi menjadi hal utama, melainkan data yang dapat menghubungkan dan menggerakkan segalanya. Data juga dapat membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan yang kurang beruntung.

Pemanfaatan perkembangan teknologi untuk pembangunan SDM ini juga diterapkan di sektor kelautan dan perikanan, misalnya melalui penyediaan platform e-Jaring. Melalui e-Jaring, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan pelatihan yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja.

“Kehadiran e-Jaring ini juga merupakan bentuk penyesuaian kita terhadap adanya wabah Covid-19. Jika sebelumnya pelatihan dilakukan dengan sistem klasikal atau tatap muka, sekarang bergeser pada pelatihan daring. Model pelatihan seperti ini juga terbukti dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, cepat, murah, dan efisien,” beber Menteri Edhy.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Edhy juga menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan pelatihan terbuka (open online training) yang telah digelar BRSDM melalui Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP). Beberapa pelatihan digelar di antaranya pelatihan budidaya perikanan, pengolahan ikan, penangkapan ikan, permesinan, dan sebagainya.

Mengusung konsep terbuka, pelatihan yang diselenggarakan mampu menarik lebih banyak peserta, baik secara individu maupun kelompok.

Tak melewatkan kesempatan, Menteri Edhy menyempatkan untuk berbincang dengan para Kepala Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3), instruktur, dan penyuluh serta peserta pelatihan dari wilayah kerja BP3 Medan, Tegal, Banyuwangi, Bitung, dan Ambon yang hadir dalam acara ini.

“Saya berharap, pelatihan yang diberikan dapat membantu meningkatkan pendapatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui inovasi produk dan sistem pasar. Termasuk UMKM yang bergerak di bidang budidaya perikanan karena saat ini KKP memang tengah gencar meningkatkan produksi budidaya perikanan untuk membantu perekonomian bangsa,” pesannya.

Senada dengan hal ini, e-Jaring juga hadir untuk mendukung program pemerintah yaitu pelatihan Kartu Prakerja dan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI). Pelatihan yang diberikan diharapkan dapat mendorong tumbuhnya usaha-usaha baru di sektor kelautan dan perikanan.

KKP juga mendorong pemasaran produk kelautan dan perikanan berorientasi teknologi melalui e-commerce. Di Indonesia, pertumbuhan e-commerce sangat pesat, terutama 4 tahun terakhir. Peningkatannya mencapai 500 persen dengan transaksi mencapai USD27 miliar atau setara dengan Rp391 triliun.

“Melalui pelatihan yang diberikan, diharapkan start-up kelautan dan perikanan akan tumbuh secara signifikan dengan melahirkan produk yang beragam dan transaksi bisnis yang semakin tinggi,” tandas Menteri Edhy.

Sementara itu, Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengatakan, adanya Covid-19 harus dilihat sebagai momentum akselerasi penerapan teknologi. Jika sebelumnya masyarakat hanya menggunakan gadget untuk berbelanja online, kini mereka memanfaatkannya untuk kebutuhan komunikasi yang lebih kompleks. Misalnya menggelar pertemuan, pembelajaran, dan pelatihan sebagai respon terhadap imbauan physical distancing.

Sjarief juga mengemukakan, e-Jaring berbeda dengan platform pembelajaran digital pada umumnya. E-Jaring mengusung konsep learning by doing berbasis keterampilan teknis, sehingga tak sekadar menonton, peserta juga dapat melakukan praktik dan berinteraksi langsung dengan para pelatih.

“Penyampaian materi disampaikan dengan metode ceramah, praktek, simulasi, dan demonstrasi,” imbuhnya.

Peserta juga dapat mengakses beragam materi dan modul pembelajaran tersistem yang telah disiapkan. “Materi yang ditawarkan sangat beragam. Mulai dari pelatihan budidaya perikanan, penangkapan ikan, permesinan perikanan, pengolahan hasil perikanan, konservasi, pergaraman, dan manajemen. Materi ini akan terus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat,” tutur Sjarief.

Di akhir pelatihan, peserta akan diberikan sertifikat sebagai tanda peserta telah mendalami dan terampil mengerjakan topik yang dipelajari.

Sebagai pengenalan terhadap pelatihan online ini, KKP telah melaksanakan 17 pelatihan open training selama Juni 2020. Beberapa di antaranya pelatihan pengolahan hakau, amplang, burger tuna rumput laut, pelatihan pembuatan probiotik, perawatan mesin tempel, dan pergaraman. Pelatihan ini pun disambut antusias oleh masyarakat.

“Tiap pelatihan diikuti oleh antara 500-4.600 orang sehingga jumlah masyarakat kelautan dan perikanan yang telah mengikuti pelatihan selama bulan ini mencapai 12.000 orang. Bahkan, beberapa kelompok telah menerapkan hasil pelatihannya ke dalam unit usaha yang dijalankan,” imbuh Sjarief.

Melalui platform e-Jaring, KKP menargetkan pelatihan teknis yang semula 10.000 orang meningkat menjadi 40.000 orang masyarakat kelautan dan perikanan di tahun 2020.