Orang Laut Mampu Taklukkan Buaya Buas Hanya dengan Mantra

0
251
Dok. netralnews.com

Tanjung Pinang (Samudranesia)- Orang Laut memang identik dengan air. Tak aneh, kalau dari nama mereka kemudian muncul kata-kata “laut”. Salah satu bagian alam di muka bumi ini yang menjadi kubangan air raksasa. Mereka memang hidup di tengah-tengah air, mengandalkan sebuah perahu kayu sederhana yang tak seberapa besar. Meski tak bisa dipungkiri sebagian dari mereka sudah hidup tetap di daratan pulau-pulau yang tersebar di seputar Kepulauan Riau serta Bangka Belitung.

Meski berjuluk Orang Laut, bukan berarti lingkup kehidupan mereka hanya sebatas perairan laut saja. Mereka juga ternyata cukup familiar dengan kehidupan air tawar, mulai dari sungai, rawa hingga danau. Singkatnya, sejauh itu masih dunia air, tak sulit bagi Orang Laut untuk berkiprah. Buat mereka, air adalah kehidupan, karena di situ mereka lahir, beranak pinak dan menemui ajal.

Banyak hal tentu yang bisa dilakukan, meski selintas nampak terkungkung dalam keterbatasan. Seperti suku-suku lain, Suku Laut pun sarat akan kegiatan. Terbukti, cukup banyak ungkapan yang lalu bermunculan dari keseharian mereka. Ungkapan yang merupakan potret sepak terjang keseharian mereka. Salah satu ungkapan yang cukup populer adalah “memancing”. Buat mereka, memancing dalam arti yang luas tentu bukan sekadar mendapatkan ikan semata, tapi juga menaklukkan hewan lain.

Dan, khusus memancing, harus diakui punya banyak istilah yang biasa dipakai di sini. Selain mengail dan mengendik, ada pula mengagang dan mewarnai. Dalam praktiknya, semua istilah ini dipakai untuk memancing ikan yang terbilang kecil, beratnya kurang dari 20 kg. Lalu, untuk memancing ikan atau hewan lain yang beratnya lebih dari 20 kg mereka sebut mengale. Karenanya, untuk hewan seperti buaya digunakanlah istilah mengale.

Suku Laut harus diakui punya aktivitas yang cukup luas. Tak hanya berkutat pada lingkup yang konvensional. Tapi di luar itu, terdapat pula kegiatan yang terbilang ekstrem, yakni mengale atau menangkap buaya. Uniknya, untuk menaklukkan hewan buas ini mereka tak pernah mengandalkan senjata, tapi cuma dengan mantera. Satu alasan kenapa buaya harus ditangkap. Tentu karena, keberadaannya sudah dianggap sangat mengganggu sekaligus membahayakan lingkungan.

Mengale buaya tentu saja tidak bisa dilakukan secara sembrono. Ada langkah-langkah khusus yang mesti dipenuhi. Sedikit saja persyaratan itu diabaikan, jangan harap mengale bisa berhasil. Malah sebaliknya, akan membahayakan. Lantas, seperti apa praktiknya? Secara garis besar praktik upacara mengale buaya ada beberapa tahap: melabuh ale, mengambil buaya, membunuh buaya, dan membaca doa selamat.

Kerap ada hal unik yang terjadi. Buaya yang telah banyak melakukan kesalahan tak jarang akan menyerahkan diri, seolah ingin minta segera ditangkap. Biasanya, ini ditandai dengan perilaku sang buaya yang mengebur-ngeburkan air dengan ekornya. Bila ini terjadi, biasanya pawang akan mengambil tindakan terhadap buaya tersebut. Namun sebelumnya, ia akan bermusyawarah dengan para pemuka masyarakat. Terkait ini, buaya sejatinya harus dibunuh.

Langkah tersebut diambil, selain demi kepentingan perlindungan terhadap warga masyarakat, juga karena kepentingan ekonomi. Bukan rahasia lagi, bahwa kulit buaya punya nilai ekonomi tinggi. Karena, bisa dimanfaatkan untuk kepentingan fashion, seperti tas atau jacket. Jadi kulit buaya bisa dijual, dan pastinya akan mendatangkan keuntungan.

Lantas bagaimana teknisnya? Untuk melabuh ale prinsipnya adalah memberi umpan agar segera dimakan buaya. Lalu, mengambil buaya, berupa menguasai dan membawa pulang hewan yang sudah terjebak memakan ale. Langkah berikutnya, membunuh buaya untuk disaksikan masyarakat, dan terakhir, membaca doa selamat tentu saja sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas tertangkapnya sang buaya. Sekaligus, mohon perlindungan dari segala marabahaya.

Dari sisi waktu melabuh ale sejatinya tidak punya patokan yang pasti dalam pelaksanaannya. Kapan saja kegiatan ini sangat mungkin dilakukan. Tapi, seperti sudah menjadi tradisi, umumnya melabuh ale dilaksanakan pada sore hari, menjelang Magrib. Pertimbangannya, karena buaya kerap mencari mencari makan pada malam hari. Dan, lokasi melabuh pun yang kerap dipilih adalah di pinggiran anak sungai.

Penanganan berikutnya, setelah diketahui melabuh ale dimangsa buaya, sang pawang pun mulai bergerak. Namun, dari pengalaman sebenarnya sang pawang sudah memperhitungkan kapan sebaiknya menjemput buaya tersebut. Bila dirasakan ideal, sang pawang dan tim pun bergerak untuk menjemput buaya. Dan, tugas ini harus diakui kerap tak selalu sesuai harapan. Bisa saja penjemputan itu tidak lagi di lokasi melabuh ale diletakkan. Tapi, di kawasan pantai, karena melabuh ale tersebut ditarik buaya hingga ke laut.

Lalu, untuk mematikan buaya yang berhasil dibawa lazimnya dilakukan di lapangan terbuka. Tujuannya, agar masyarakat bisa menyaksikan peristiwa bersejarah dan pastinya terbilang langka itu. Untuk waktunya, tidak bisa ditentukan, karena sangat bergantung kedatangan sang pawang dan tim membawa buaya tersebut. Jika, tiba malam hari, maka buaya baru bisa dibunuh keesokan harinya. Salah satu alasannya karena khawatir bisa membahayakan semua, jika dilaksanakan pada malam hari yang notabene sangat gelap. Utamanya, jika terjadi kesalahan dalam proses penanganannya.

Dan, rangkaian kegiatan ini ditutup dengan pembacaan doa selamat. Lazimnya, doa selamat dilantunkan di surau-surau setiap tiga malam Jumat secara berturut-turut. Ritual keagamaan yang sudah berlangsung turun-temurun ini bisa pula dilaksanakan di rumah sang pawang.