NLE Diharapkan Bisa Atasi ‘Keruwetan’ Sistem Logistik Nasional

0
216

Jakarta (Samudranesia) – Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional, yang diimplementasikan dengan Ekosistem Logistik Nasional (Ekolognas)/National Logistic Ecosystem (NLE) menjadi harapan baru untuk mendongkrak perekonomian nasional.

Terkait itu, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan menyatakan, pemerintah masih terus berupaya melakukan pemulihan perekonomian nasional, salah satu dengan memperbaiki ekosistem logistik nasional.

“Eksekusi pelaksanaan NLE ini sangat penting. Saya meminta semua pemangku kepentingan, antara lain Bea Cukai, Pelindo dan pihak terkait lain harus duduk bersama. Besok saya akan langsung melihat demonya langsung ke Pelabuhan Batam, bagaimana dari 17 layanan menjadi hanya 1 layanan, jadi jangan hanya omong saja tapi tak jalan,” ujar Menko Luhut dalam konferensi pers pelaksanaan NLE, dihelat secara virtual, Kamis (24/9/2020). 

Menko Luhut menekankan agar monitoring NLE dilakukan secara simultan. Untuk Lego Jangkar, yang selama ini prosedurnya tidak efisien, Menko Luhut menyatakan prosedurnya sudah dipangkas.

“Perlu pengawasan atau monitoring yang terus berlanjut, kami juga sudah berhemat dari 16 lego jangkar menjadi hanya lima, ini akan membuat efisiensi kita,” imbuhnya.

Hal lain yang juga penting, lanjut Menko Luhut ialah mengenai adanya semacam insentif bagi para petugas di lapangan yang telah berhasil menangkap para penyelundup lintas negara.

“Kami sedang merancang antara lain dengan Bakamla, TNI AL, dan lainnya yang menangkap para penyelundup, mungkin bisa sekitar 50 persen dari hasil itu dapat dikembalikan kepada mereka sebagai tunjangan prestasi. Sehingga mereka tidak tergoda untuk menerima dana-dana dari penyelundup tersebut. Prosesnya sudah dibuat dan sudah meluncur ke Kemenkeu,” jelasnya.

Terkait ekosistem NLE, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan mengenai latar belakang perlunya kehadiran ekosistem NLE. Menurutnya, selama ini yang terjadi adalah sistem logistik nasional seperti “benang ruwet”, karena salah satu sebabnya adalah belum mempermudah para pelaku usaha.

“Seperti benang ruwet karena importir sampai harus menempuh 17 layanan, dan belum membentuk suatu ekosistem yang bisa mempermudah para pelaku usaha. NLE diharapkan akan ada kemudahan dan juga kejelasan dalam prosesnya, intinya penyederhanaan,” jelas Sri Mulyani.

Pandangan ALFI

Sementara itu, dari pihak Asosiasi sebagai pelaku usaha langsung yang diwakili oleh Yukki Nugrahawan Hanafi, menyatakan apresiasinya. Ia dan para pelaku usaha lain berjanji akan terus mengawal pelaksanaan NLE dan terus berusaha memberikan yang terbaik.

“Hari ini adalah sejarah, kami dari pelaku usaha akan memberikan komplimen penuh. Tantangannya di luar pandemi, adalah ASEAN Connectivity, ini adalah challenges terbesar kita, dan hari ini akan mendukung kita untuk menjawab tantangan tersebut,” ujar Yukki selaku Ketua Asosiasi Logistik dan Forwader Indonesia (ALFI).

Sambung Yukki, NLE adalah sistem kolaborasi yang mengharmonisasikan agar prosedur ekspor impor logistik dapat berjalan lebih efisien. NLE juga merupakan ekosistem logistik yang menyelaraskan arus lalu lintas barang/flow of goods dengan dokumen internasional/flow of documents, sejak kedatangan sarana pengangkut (kapal/ pesawat) hingga barang keluar dari pelabuhan dan tiba di gudang.

“Semuanya bisa diproses secara digital sehingga memudahkan para pelaku bisnis dalam melakukan kegiatan, baik kegiatan domestik maupun kegiatan ekspor-impor. Jadi ini bukan sebuah badan atau organisasi baru,” tegasnya. 

Pelayanan yang dilakukan oleh NLE mencakup antara lain; Delivery Order Online (DO Online) dan Surat Penyerahan Petikemas (SP2), memfasilitasi penggunaan layanan (pemilik kargo/ penerima barang dan freight forwarder) dalam membuat DO Online dan SP2.

Kemudian, Vessel, menerapkan jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal secara real time, informasi diberikan secara terperinci dan terintegrasi kedalam satu sumber data sehingga memudahkan untuk merencanakan kegiatan pengiriman barang. Dan, masih banyak lagi fitur yang ada dalam NLE yang memudahkan para pengguna jasa dalam melakukan aktivitas logistik.

Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan logistik Indonesia belum kompetitif karena bea logistik Indonesia masih tinggi dibanding dengan 5 negara ASEAN, yaitu 23,5 persen dari PDB, dibanding semisal Malaysia yang hanya 13 persen dari PDB. Ini menjadi indikator perlu adanya penataan ekosistem logistik nasional.

Ekosistem NLE adalah menargetkan antara lain, dapat menekan biaya logistik dari awalnya 23,5 persen, menjadi hanya 17 persen di mana penurunan sekitar 5-6 persen yang dikontribusikan dari proses hulu-hilir, utamanya dari transportasi dan simplifikasi proses. Lalu pertumbuhan sektor logistik dan lahirnya persaingan sehat dalam hal standar layanan dan juga transparansi. (Tyo)