Negarawan yang Berwawasan Maritim merupakan Hakikat Pemimpin Nusantara

0
329
Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio pada Achievement Motivation untuk pegawai Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Jakarta (Samudranesia)- Pemimpin Nusantara yang berwawasan maritim dan berjiwa Pancasila sangat diperlukan Indonesia dalam menyongsong abad 21 ini di tengah percaturan global. Hal itu merupakan isi dari amanat mantan Kasal Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio saat menjadi narasumber utama Achievement Motivation untuk pegawai Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Guru Besar Ilmu Pertahanan di Universitas Pertahanan (Unhan) itu memaparkan presentasi bertema “Mencari Pemimpin Nusantara” dalam lingkup kemaritiman Indonesia berdasarkan sejarah dan letak geografisnya.

“Karakter pemimpin negarawan adalah yang memilikitotalitas memperjuangkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Mewujudkan cita-cita nasional Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (Pembukaan UUD 1945), kemudian berfikir, bersikap dan bertindak sebagai negarawan dengan fokus pada aspek maritim,” ungkap Marsetio.

Peraih Adhi Makayasa pada Akabri Laut tahun 1981 itu selanjutnya menyatakan dalam visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2014, Indonesia sebagai negara maritim harus menegaskan dirinya sebagai Poros Maritim Dunia, sebagai kekuatan yang berada di antara dua samudera yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Perjuangan menuju negara maritim pun mengalami dinamika sejak kepemimpinan Presiden RI Pertama Ir Soekarno hingga Presiden RI Ketujuh Jokowi. Di periode 2019-2024 saat ini, guna menuju negara maritim maka diperlukan pembangunan SDM dan infrastruktur, simplifikasi regulasi, penyederhanaan birokrasi dan transformasi ekonomi.

Dalam Sea Power Indonesia 2019-2024 kita perlu menyongsong Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia nomor 4 tahun 2030 setelah China, India dan Amerika. Mencakup semua aspek kelautan mulai dari armada perang, armada niaga, perikanan, industri maritim, jasa maritim, pelabuhan, pariwisata maritim, masyarakat maritim untuk kesejahteraan masyarakat. Dan terakhir perlu membangun Maritime Domain Awareness (MDA),” jelasnya.

Marsetio yang kini aktif mengajar di perguruan tinggi negeri dan swasta itu lebih lanjut mengutarakan tentang pentingnya membangun maritim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Sea Power dan MDA jadi modal untuk menyongsong Indonesia gemilang 2045. Indonesia perlu membangun kekuatan maritimnya baik militer maupun non militer di segala lini untuk mengantisipasi geopolitik yangkian rentan karena rivalitas Amerika dan China,” jelasnya lagi.

Dalam kesempatan tersebut, Staf Ahli Menteri Pariwisata itu juga menyebutkan prestasi-prestasi Indonesia beberapa tahun terakhir terkait pembangunan maritim. Di antaranya mengenai keberhasilan menjadi anggota IMO Kategori C Periode 2019-2023 dengan peningkatan jumlah perolehan suara.

Kemudian mengenai program pembangunan maritim di sektor ekonomi dan pariwisata seperti 10 Destinasi Wisata Prioritas dan 5 Destinasi Wisata Super Prioritas, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan Lokasi Cultural Heritage Regenaration.

Acara Achievement Motivation itu dibuka oleh Kepala BPH Migas, M Fanshurullah Asa yang meraih penghargaan Wibawa Seroja Nugraha sebagai peserta terbaik dalam Program Pendidikan Reguler Angkatan 44 (PPRA XLIV) tahun 2010. (Tyo)