Milenial menjadi Tumpuan dalam Ketahanan Energi Masa Depan

0
85
Foto: CTG's offshore wind power project in Fujian province.

Oleh: Andri Rezeki, S.T*

Sekelompok petani di sebuah desa sedang mengisi ulang baterai sebuah mesin pertanian bertenaga listrik untuk mengolah lahan pertaniannya sehari-hari dengan menggunakan listrik dari pembangkit listrik tenaga angin, sedangkan ada beberapa petani lainnya di desa sebelah menggunakan listrik yang berasal dari pembangkit bertenaga matahari yang lengkap tersedia di sekitar pemukiman mereka.

Sementara sisanya menggunakan pembangkit bertenaga air sungai yang tidak jauh dari pemukiman dan lahan pertanian mereka. Kebutuhan listrik untuk menghidupkan mesin-mesin alat pertanian yang telah terintegrasi menjadi mesin bertenaga baterai itu sudah dimulai oleh seluruh petani di wilayah itu dan merupakan hal yang lumrah dalam beberapa puluh tahun.

Pembangkit listrik ramah lingkungan itu tidak sedikitpun yang menggunakan fossil fuel sebagai tenaga penggerak utamanya yang menghasilkan energi kinetik penggerak generator mesin itu sehingga menghasilkan listrik. Itu telah menjadi kebijakan pemerintah mereka agar produksi kebutuhan pokok tidak terkendala dengan menggunakan multi sumber tenaga listrik yang mana kebutuhan listrik mereka meningkat setiap tahunnya akibat produksi pertanian dan penggunaan mesin-mesin bertenaga listrik.

Sementara itu, mesin dan pembangkit itu pun dibuat oleh gabungan perusahaan dalam negeri mulai dari sektor hulu hingga hilir yang terdiri dari group-group BUMN dan perusahaan swasta nasional. Tenaga professional/karyawan dari perusahaan itu ada pula yang berasal dari desa-desa yang mana orang tua mereka beraktivitas sehari-hari menggunakan energi listrik ramah lingkungan.

Melihat hasil pertanian yang berlimpah, karena didukung peralatan dan manajemen yang modern, produksi hasil pertanian menjadi salah satu pilar ketahanan pangan wilayah itu maupun untuk memenuhi pasokan wilayah lainnya. Dapat dipastikan tidak ada polusi udara. Sebab industri di sekitar wilayah ini telah menggunakan seluruh rangkaian aktivitasnya menggunakan energi listrik. Termasuk alat transportasi yang mereka gunakan.

Penggunaan fossil fuel telah ditinggalkan.lebih jauh lagi karena jauh dari polusi udara, kemampuan penduduk pun bertambah. Penduduk yang sehat, kemampuan berfikirnya pun sehat. Bahkan kemampuannya dalam berbagai bidang didukung oleh ketersediaan energi bersih wilayah itu yang mana jauh sebelumnya energi listrik sering terkendala seperti pemadaman akibat berbagai gangguan, kurangnya pasokan bbm dan gas, bahkan belum adanya aliran pasokan listrik, tapi kebijakan pemerintah mereka membuat semua itu berubah. Majunya sumber daya manusianya 180 derajat berubah oleh sebab salah satu faktor penting yaitu pasokan energi bersih untuk mendukung aktivitasnya.

Kondisi ideal ini sangat mungkin saja dapat terjadi di masa depan. Tidak hanya di negara-negara maju, tapi Indonesia sebagai negara berkembang pun terjadi. Namun, hal ini tidak akan terjadi jika kaum milenial saat ini tidak memusatkan perhatian dalam penelitian dan pengembangan menuju kearah energi ramah lingkungan. Bahkan  generasi milenial harus bangkit dan memfokuskan tujuan mereka menembus keterbatasannya.

Indonesia dengan garis pantai terpanjang di dunia, memiliki pasokan energi angin yang sangat besar disekitar pantai. Sehingga potensi ini dapat dikembangkan dengan membuat pembangkit tenaga angin maupun gelombang laut yang signifikan menghasilkan listrik 400GW. Bahkan setiap provinsi mampu menghasilkan 20GW.

Secara bertahap, Indonesia dapat membangun energi baru terbarukan. Baik sektor energi matahari, tenaga angin, tenaga gelombang, maupun EBT lainnya. Pemerintah tidak hanya mengajak para pebisnis yang notabene ini menggiurkan mereka, tetapi juga para akademisi yang fokus di bidang energi baru terbarukan, dan ditopang oleh kebijakan yang pro terhadap kemaslahatan seluruh rakyat tanpa kecuali.

Melihat pemanfaatan cadangan EBT dunia, terutama sektor tenaga angin, yaitu sebesar 140-an GW posisi Indonesia  sejauh ini masih sebatas sebagai konsumen, bahkan cenderung menjadi target pasar dunia. Eropa, USA, Jepang, Cina, sudah ‘memainkan’ perannya mengembangkan teknologi tenaga angin atau wind power selama lebih kurang 40 tahunan. Terhitung sejak tahun 1980-an, di Eropa, USA, Jepang, dan China sudah melakukan penelitian dan pengembangan. Selama lebih kurang 10 tahun awal, negara-negara itu sudah mampu memimpin untuk kebutuhan dalam negerinya sendiri.

Selanjutnya 10 tahun berikutnya, adalah masa penanggulangan resiko dan pengembangan model yang lebih baik lagi. Dalam masa berikutnya, tingkat pencapaian sumber energi dari angin sudah mampu pada tahap kapasitas 400 MW untuk satu wind turbine.

Indonesia punya PLN sebagai perusahan penyedia listrik utama negara bersinergi dengan BUMN dalam negeri seperti  PT LEN yang mampu memproduksi peralatan elektronik, PT Biro Klasifikasi Indonesia bersama mitra holdingnya PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia yang berpengalaman dalam bidang inspeksi, PT Krakatau Steel yang dapat menyediakan pasokan baja khusus kebutuhan industri, PT Wijaya Karya dan ‘karya-karya’ lainnya yang memiliki kemampuan dalam bidang konstruksi dan desain konstruksi baik darat maupun laut, dan akademisi berbagai kampus, termasuk keterlibatan swasta nassional serta lembaga penelitian dan pengembagan nasional yang bergerak di bidang geologi, geografi dan lainnya.

Seluruh gabungan perusahaan ini, dapat dipastikan punya kaum milenialnya. Bila melakukan konsolidasi dan sinergi menemukan gagasan-gagasan untuk melakukan pembaharuan, ini dapat menghasilkan suatu penemuan yang baru di bidang manajemen untuk garapan energi listrik khususnya EBT dari tenaga angin (termasuk gelombang laut).

Strategi ini sudah dilakukan Jepang pada 30-an tahun yang lalu dan terbukti sampai saat ini masih menggunakan strategi ini sebagai sebuah langkah pembaharuan dalam mengembangkan sektor dalam negerinya, baik lingkup manajemen, produksi dan sumber daya serta pemanfaatan bahan baku yang bersumber dari dalam negeri. Bahkan Cina sudah belajar dari Eropa, USA, dan Jepang dalam menerapkan konsep konsorsium ini secara berkelanjutan dan menjadikan China hari ini sebagai Nomor satu dunia dalam bidang energi wind turbine. Indonesia dapat memodifikasi konsep ini dengan potensi dan sumber daya yang ada di dalam negeri.

Tidak perlu impor, baik bahan baku maupun sumber daya manusianya. Indonesia tidak perlu mendatangkan tenaga ahli luar negeri dari USA, Eropa, Jepang atau China sekalipun. Sudah lebih dari cukup untuk memanfaatkan tenaga ahli yang sudah belajar ke berbagai negara. Bahkan lulusan dalam negeri pun sudah memiliki cukup kemampuan untuk berkecimpung di bidangnya.

Milenial yang tergabung dalam sinergi tadi, akan sangat mungkin dapat melakukan gebrakan-gebrakan sektor energi. Dilihat dari tingkat ke-ekonomiannya, dapat membuat roadmap bisnis yang saling menguntungkan. Meski pada awalnya, tingkat pencapaian bisnis tidak terlalu tinggi, tapi dengan melakukan upaya pengembangan dengan cara sinergi milenial, kemungkinan pencapaian tingkat ekenomi dan bisnis dapat diperoleh secara signifikan dan menguntungkan.

*Penulis adalah Pemerhati Energi Baru Terbarukan