Menyusuri Jejak Tsunami Aceh

0
406

Jejak tsunami purba di Aceh terekam di sejumlah lokasi di pesisir barat. Mempengaruhi kejatuhan kerajaan dan kelompok masyarakat.

Sejarah berulang, gempa dan tsunami juga terulang. Gempa dan tsunami dahsyat yang menghantam Aceh pada 26 Desember 2004, pernah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Dan akan terjadi lagi besok, lusa atau puluhan tahun mendatang. Peristiwa ini mempengaruhi peradaban (kerajaan) di Aceh saat itu.

Jejak-jejak tsunami purba masih terekam di Bumi Nanggroe Darussalam. Datang saja ke pantai Ujong Pancu, di Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Ketika laut surut, muncul makam-makam kuno dan puing-puing bekas bangunan. Pagi hari, saat laut pasang sisa-sisa peradaban ini terendam air–hingga satu kilometer, jika dihitung dari bibir pantai.

Ujong Pancu disebut-sebut sebagai bagian dari kota kuno Indrapurwa. ”Kami menyebutnya the lost city,” ujar Nazli Ismail, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala kepada media. Nazli menjelaskan, tiga kali tsunami datang menyapu, tiga kali perpindahan permukiman terjadi di wilayah ini. Tsunami sebelumnya terjadi pada 1390 dan 1450.

Bukti lain ada Gua Lhoong di Kecamatan Lhoong, sekitar 60 kilometer sebelah tenggara Kota Banda Aceh. Mulut gua itu berada di pesisir barat Aceh sekitar 100 meter dari bibir pantai. Di lantai gua terekam jejak tsunami yang melanda Aceh ribuan tahun terakhir yang diteliti tim ilmuwan dari Universitas Syiah Kuala dan Earth Observatory of Singapore (EOS).

Sebelum penemuan tersebut, gua yang menjadi sarang kelelawar di Desa Meunasah Lhok itu nyaris tak terjamah. Warga setempat menjulukinya Gua Ek Gleuntie alias Gua Kotoran Kelelawar. Meneliti sejak 2010, tim tersebut menyimpulkan 11 tsunami besar telah terjadi di Aceh dalam 7.500 tahun terakhir.

Jejak paleotsunami atau tsunami purba tersebut terekam pada sedimen gua yang tumpang-tindih–berwarna cokelat terang dan cokelat gelap.

Endapan cokelat terang merupakan pasir bercampur fosil cangkang biota laut. Pasir itu berasal dari dasar laut yang terangkat dan tersapu ke dalam gua oleh tsunami besar di masa silam. Endapan itu lantas tertutup guano atau kotoran kelelawar–berwarna cokelat gelap–dari kawanan kelelawar yang hinggap di dinding dan atap gua.

Gua Lhoong

Nazli Ismail yang menjadi kepala tim peneliti dari Universitas Syiah Kuala, mengatakan, berdasarkan kajian lanjutan, disimpulkan ada lima lapisan tipis di bagian bawah dan lima lapisan tebal di bagian atas sedimen. ”Artinya, ada kemungkinan tsunami yang terjadi 7.500 tahun silam gelombangnya kecil,” katanya.

Ini berbeda dengan gelombang laut raksasa yang merenggut ratusan ribu jiwa dan meluluhlantakkan lanskap pesisir barat Aceh sepuluh tahun lalu, yang meninggalkan jejak lapisan tebal. Dari hasil uji radiokarbon diketahui bahwa tsunami berskala besar antara lain terjadi pada 7.500, 5.400, 3.300, dan 2.800 tahun lalu. Lapisan sedimen pasir paling tebal dan berumur paling muda–terletak paling atas–terbentuk setelah tsunami 26 Desember 2004.

Analisis lanjutan terhadap sedimen tidak ditemukan lapisan akibat tsunami pada 1393, 1450, dan 1907. Namun tim peneliti menemukan bukti tsunami periode itu di tempat lain, seperti di Situs Lamreh, Aceh Besar. ”Di sana juga terdapat jejak tsunami 1907, yang berpusat di Kepulauan Simeulue,” ujarnya. Jejak tsunami purba itu juga terekam pada sedimen tanah yang berlapis.

Menurut Nazli, hanya tsunami yang dipicu oleh gempa berkekuatan di atas 8 skala Richter yang mampu mengangkut material dasar laut hingga ke dalam Gua Lhoong. Ombak biasa sulit masuk ke gua. Soalnya, selain letaknya yang jauh dari bibir pantai, mulut gua cukup tinggi, sekitar satu meter di atas batas tertinggi air di sana. Apalagi posisi mulut gua menyamping, tak menghadap lurus ke arah laut.

Edwards McKinnon, peneliti di Research Associate Institute of Southeast Asian Studies, Singapura meneliti kaitan bencana dengan sejarah Aceh. Dia mengutip sumber-sumber Arab yang menyebutkan Fansur dan Lamri, dua kerajaan yang letaknya berdekatan di utara pulau Sumatera. Dalam teks Arab Aja’ib al-Hind, yang disusun sekitar tahun 1.000 Masehi, terdapat sebuah cerita tentang anak buah kapal yang kandas di Fansur.

Dalam paper yang bertajuk ‘Sejarah Aceh Sebelum Kesultanan”, McKinnon menyebut Ujong Pancu sebagai pelabuhan Kerajaan Fansur. Kerajaan ini pernah diulas oleh Ahmad Ibu Majid dalam laporan perjalanannya bersama Vasco Da Gama, pelaut Portugis pada 1462.

Ibnu Majid–seperti dikutip Tibbets G.R. (1979) dan McKinnon–juga menunjukkan bahwa pantai Aceh Besar dihancurkan oleh gempa dan dua tsunami pada 1390 dan 1450. Setelah tsunami kedua itulah Pancu menghilang.

Sementara Kerajaan Lamuri diduga berada di Desa Lamreh, di Kecamatan Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Di sini ada jejak jalan dalam Benteng Kuta Lubok dan makam kuno.

Keberagaman pecahan tembikar yang ditemukan di sekitar lokasi menunjukkan kawasan itu pernah jadi persinggahan para pedagang dari mancanegara, terutama Tiongkok dan Vietnam.

Benteng Kuta Lubok

Di kawasan pesisir yang sama, 500 meter dari Benteng Kuta Lubok, ada reruntuhan Benteng Inong Bale, yang tersusun dari batu karang, kokoh menghadap pantai. Dari penggalian di sekitar benteng, ditemukan pecahan keramik dan sumur tua.

”Kedua benteng itu, Kuta Lubok dan Inong Bale, diperkirakan sisa peninggalan Kerajaan Lamuri, yang pernah ada di Aceh sekitar abad ke-9,” kata Nazli.

Pada 2010, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bersama Singapore Earth Observatory (SEO/NTU) melakukan penggalian teratur di pinggir pantai Lhok Cut dan Lhok Lubok sebelah barat laut dari Benteng Kuta Lubok.

Di Lhok Cut, ditemukan banyak tembikar dan keramik Cina dari masa Yuan. Di pantai Lubok, tim menemukan sisa-sisa lapisan karang dalam tebing pantai yang telah hancur seperti kerikil. Karang itu dianalisis di laboratorium dan diperoleh bukti bahwa telah ada tsunami kuno yang menghantam pantai ini pada 1450.

Pada awal 2011, ada yang membuka lahan di Lhok Cut dengan buldoser.

Pembukaan lahan ini langsung menunjukkan ada bekas permukiman kuno dari abad ke-13 atau ke-14 Masehi. McKinnon dan Deddy Satria, arkeolog di Banda Aceh, menemukan banyak beling kuno, pecahan kaca kuno dari India Selatan, serta jenis-jenis tembikar yang dibuat di beberapa lokasi di India dan Sri Lanka.

Universitas Syiah Kuala bersama peneliti dari SEO dan LIPI selama beberapa tahun terakhir melakukan penggalian di sekitar pantai Krueng Raya. ”Kami menemukan dua pelapisan tsunami di sekitar lokasi benteng itu. Jejak pertama berasal dari tsunami yang terjadi akhir 1300 dan satu lagi pertengahan 1450,” ucap Nazli.

”Kami menemukan dua pelapisan tsunami di sekitar lokasi benteng itu. Jejak pertama berasal dari tsunami yang terjadi akhir 1300 dan satu lagi pertengahan 1450,” ucap Nazli.

Mereka juga menemukan jejak tsunami hebat yang berulang kali melanda pantai Aceh. Di Lhok Cut dan Ujung Batee Kapal, Kecamatan Mesjid Raya, misalnya, ditemukan sisa bangunan kuno terkubur pasir hingga kedalaman 380 sentimeter, keramik-keramik, dan sumur kuno. Di setiap temuan artefak, kata Nazli, ada lapisan endapan tsunami.

Setelah Fansur dan Lamri runtuh, beberapa abad kemudian muncul Kerajaan Samudera Pasai atau Kesultanan Pasai. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267 di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara.

Dalam buku sejarah disebutkan kerajaan ini runtuh oleh serangan Portugis pada 1521.

Namun, dalam risetnya yang mencatat terjadinya tsunami pada 1390 dan 1450, Danny Hilman mengisyaratkan versi lain kehancuran kerajaan ini. “Sejarah terputus secara misterius dari Pasai ke Kesulatan Aceh,” tuturnya.

Boleh jadi bencana itu melumpuhkan kerajaan sehingga, ketika Portugis masuk, mereka langsung mengambil alih pemerintahan.

Pada 1514, Sultan Alaidin Ali Mughaiyat Syah mendirikan Kesultanan Aceh. Lokasi kerajaan berada di bekas Kerajaan Fansur dan Lamri. Memang wilayah ini dianggap strategis dan menjadi jalur perdagangan internasional sejak abad ke-10. Penguasa terakhir dari Kesultanan Aceh adalah Sultan Muhammad Daud Syah, yang memerintah pada 1874-1903.

“Peradaban berkembang pelan-pelan, tapi kemudian ada yang dihajar bencana,” ujar Danny Hilman, yang menjadi anggota Tim Bencana Katastropik Purba. Menurut dia, tsunami yang terjadi pada 1390 dan 1450 memunculkan istilah ieu beuna, yang berarti air bah besar. Di Simeulue, bencana itu melahirkan istilah smong.

Nazli menjelaskan Aceh adalah museum terbesar tentang tsunami.

Pihaknya terus mencari bukti untuk pembelajaran dan transfer pengetahuan ke masyarakat. “Ujong Pancu terjadi tiga kali tsunami dan tiga kali hijrah,” katanya tentang pelajaran dari pantai Ujong Pancu. Batu nisan dan sisa bangunan yang muncul kala air laut surut di pantai itu menjadi pelajaran berharga untuk generasi saat ini dan mendatang.

(S)