Menyorot Prospek Kelautan dan Perikanan 2020, Ini Saran DFW Indonesia kepada Edhy Prabowo

0
290
Menteri KP Edhy Prabowo.

Jakarta (Samudranesia) – Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo menghadapi tantangan besar dalam menakhodai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menerima ‘warisan’ menteri sebelumnya Susi Pudjiastuti yang terkenal banyak melakukan terobosan dan menabrak pakem.

Publik menanti dalam tempo singkat apa yang akan Menteri Edhy lakukan untuk menjawab tantangan presiden Jokowi. Menteri Edhy yang selama ini menawarkan optimisme baru, perlu memanfaatkan kesempatan singkat dengan menunjukan kerja nyata memajukan sektor kelautan dan perikanan.

Baca Juga: Nelayan Natuna Diuber-uber Coast Guard China, Ini Pesan HNSI kepada Edhy Prabowo

Menurut Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia, Moh Abdi Suhufan, Menteri Edhy mesti cepat menentukan prioritas untuk menjawab keraguan publik.

“Dua bulan yang penuh kontroversi mesti diakhiri dengan menetapkan prioritas program yang bisa membawa kesejahteraan bagi nelayan. Menteri Edhy jangan mengambil langkah setback yang berimplikais pada inkonsistensi perencanaan dan implementasi pembangunan kelautan dan perikanan,” kata Abdi dalam keterangannya kepada Samudranesia, Kamis (2/1/20).

“Fokus kesejahteraan merupakan jalan ketiga setelah kedaulatan dan keberlanjutan yang secara konsisten telah dilakukan oleh KKP dalam 5 tahun ini,” ungkap Abdi.

Tantangan lain adalah, menurunnya alokasi anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadi hanya Rp 6,4 triliun pada tahun 2020 mesti diatasi dengan peningkatan investasi swasta.

“Alokasi belanja pemerintah menurun, sementara target PDB perikanan naik menjadi 7,9 persen sehingga mesti ada terobisan untuk tingkatkan investasii dan ekspor,” kata Abdi lagi.

Baca Juga: Berikut Kiprah KKP Tahun 2019 Di Bawah Kepemimpinan Edhy Prabowo

Strategi dan teks APBN KKP mudah dibaca dari dokumen yang ada, tapi  strategi dan langkah kunci berupa kebijakan progresif yang hingga saat ini belum kelihatan.

“Instruksi Menteri Kelautan dan Perikanan untuk mereview 29 kebijakan KKP menimbulkan ketidakpastian baru bagi investor dan publik karena time line review tersebut tidak terlalu jelas kapan diumumkan hasilnya,” tambahnya.

Sementara itu, peneliti DFW-Indonesia Muh Arifuddin mengingatkan agar rencana KKP meningkatkan produksi budidaya menjadi 18,44 juta ton tahun 2020 merupakan target ambisius dan memerlukan dukungan semua pihak.

“Perlu dimulai dari baseline karena hingga saat ini Indonesia belum memiliki peta detail tambak di Indonesia untuk keperluan engineering dan manajemen di tingkat farm level, termasuk untuk tujuan proyek rehabilitasi,” ujar Arif.

Selanjutnya, pemilihan komoditas untuk budidaya perlu dilakukan secara tepat. “Udang windu tetap harus jadi prioritas. Untuk daerah yang kurang potensial komoditas bandeng, rumput laut (gracillaria) dan ikan kakap putih bisa juga dikembangkan atau dipolikultur dengan windu. Tapi tentunya setelah syarat teknis lahan tambak eksisting dibenahi,” jelasnya.

Baca Juga: Bertemu Edhy Prabowo, Komite II DPD RI Laporkan Masalah Kelautan di Daerah

DFW-Indonesia juga menyoroti alokasi bantuan kapal yang hanya 30 unit tahun 2020. “KKP perlu menyampaikan hasil evaluasi pemanfaatan bantuan kapal ikan dalam 5 tahun ini, seberapa besar kontribusinya bagi peningkatan produski tangkap. Dan dengan hanya 30 unit, bagaimana strategi KKP untuk meningkatkan produksi tangkap yang sudah dipatok pada angka 8.02 juta ton pada tahun 2020,” tambah Arif.

“Upaya meningkatkan produski tangkap melalui pemanfaatn potensi ikan dilaut lepas mesti menjadi prioritas KKP, bagaimana dan dengan cara apa pemanfaatan itu bisa dilakukan,” ucap Arif.

Namun demikian, pihaknya terus akan memberikan dukungan kepada Menteri Edhy untuk mengeksekusi program yang telah disusun pada tahun 2020.

“Tantangannya banyak dan tidak mudah, tapi dengan spirit dan tenaga baru kita berharap Edhy Prabowo bisa melakukan itu. Upaya komunikasi yang dengan keras dilakukan dalam 2 bulan ini perlu dibarengi dengan kontent, substansi dan hasil kerja yang kelihatan. Jika tidak, upaya dan pesan komunikasi tersebut akan menjadi sia-sia dan akan menjadi senjata makan tuan,” pungkasnya. (Tyo)