Menu Andalan Pantura ini Kembali Buka di New Normal

0
58
Lontong Kare Khas Pantura/Samudranesia

Gresik (Samudranesia) – Sempat tutup akibat masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Wilayah Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo dan Gresik), warung Ketupat Kare Pantura  yang berlokasi di Dusun Mulyorejo, Dalegan, Kecamatan Panceng, Gresik, kini dibuka lagi seiring diberlakukannya masa transisi menuju fase new normal.

Kembali dibukanya warung yang memiliki ciri khas menu makanan laut itu dikarenakan beberapa tempat wisata seperti pantai Pasir Putih Dalegan, Wisata Alam Gosari maupun Wisata Setigi yang lokasinya tak jauh dari warung Ketupat Kare Pantura juga sudah kembali aktif.

Menurut Umu Farokah, pemilik warung, dibukanya kembali warung yang

menyediakan berbagai macam kare mulai rajungan, kepiting, udang, cumi, ikan tonang hingga ikan kepala manyung miliknya dikarenakan banyaknya pelanggan yang menanyakan kabar dibukanya kembali warung ketupat kare.

“Pelanggan saya itu kan tak hanya warga sekitar, namun banyak juga yang berasal dari Gresik kota atau wisatawan luar kota yang berlibur ke tempat-tempat wisata di sekitar sini,” ucap Umu, Selasa (21/7/2020).

Umu berkisah, awalnya warung ini dirintis oleh ibunya (Hj. Maning) tahun 1995. Namun setelah dirinya menikah dengan Fathul Anwar pada 1997, usaha ibunya itu ia kelola bersama sang suami.

“Setelah saya menikah, ibu mulai sakit-sakitan. Jadi saya dan suami yang kemudian meneruskan usaha ini,” ungkapnya.

Saat masih dikelola ibunya, warung Ketupat Kare Pantura ini hanya menyediakan menu kare ayam. Namun setelah dikelola oleh Umu dan suaminya, menunya dibuat beraneka ragam masakah ikan laut.

“Kalau resep kuah karenya tetap warisan dari ibu yaitu mengandalkan rempah-rempah berkualitas dan santan yang kental. Hanya saja yang semula kare ayam, kita tambahi dengan berbagai macam menu masakan ikan laut,” sambung Fathul, suami Umu.

Fathul mengungkapkan, aneka macam bahan masakan ikan laut tersebut tak terlalu sulit didapatkan sebab lokasi warungnya hanya berjarak 1,5 kilometer dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Campurejo, yang setiap harinya menyediakan berbagai macam ikan segar dari laut.

“Kalau bahan masakannya mulai dari rajungan, kepiting, udang, cumi, ikan tonang dan kepala manyung kami jamin selalu fresh karena setiap hari kami langsung membelinya dari nelayan,” ucap Fathul.

Tak hanya itu, beras yang digunakan sebagai bahan membuat ketupat (lontong) pun merupakan beras pilihan supaya lontong yang dimasak hasilnya lebih padat dan tidak terlalu lembek.

“Kalau beras yang kita gunakan sebagai bahan pembuatan ketupat adalah beras merk tertentu saja. Itupun yang sudah ditimbun agak lama agar hasilnya lebih kenyal,” ungkap Fathul.

Selain menjadi warung yang memiliki menu khas kare, warung dengan pemandangan panorama laut ini juga memiliki minuman khas, yaitu dawet siwalan yang terbuat dari campuran santan kelapa, potongan buah siwalan dan gula merah.

“Kalau di sini banyak pohon siwalan, jadi kita masukan sebagai pelengkap menu supaya pelanggan bisa benar-benar merasakan selera khas masakan pantura,” pungkas Fathul. (Sah)