Menjadi Potensi Tersembunyi, Menteri Edhy Dukung Konservasi Terumbu Karang di Bali

0
135
Dok Foto: Humas KKP

Bali (Samudranesia) – Bidang usaha budidaya memiliki potensi yang sangat besar untuk dioptimalkan, baik itu untuk meningkatkan devisa negara, menghasilkan lapangan pekerjaan serta  menjaga keberlanjutan. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengungkapkan, komoditas yang bisa digali potensinya diantaranya dari perikanannya, rumput laut, serta kekayaan bawah laut seperti karang.

“Karang kita banyak potensi, ada ratusan jenis di Indonesia. Tapi sejauh mana karang itu bermanfaat buat rakyat kita,” kata Menteri Edhy saat berdialog dengan nelayan dan pembudidaya karang hias di kawasan Pantai Pandawa, Bali, Rabu (12/8/2020).

Karenanya, Menteri Edhy mempersilakan para nelayan dan pelaku usaha untuk membudidayakan karang guna merasakan manfaat ekonomi kekayaan laut nusantara. Bahkan, dia mendorong agar budidaya karang dilakukan melalui teknik tissue culture lab atau teknologi kultur jaringan.

Kendati memperbolehkan, dia mengingatkan warga untuk tidak melakukan pengambilan karang dengan cara destruktif serta di kawasan konservasi.

“Kalau bisa karang hias ini jangan main potek lagi. Dihasilkan melalui teknologi tissue culture,” sambungnya.

Tingginya potensi budidaya karang diamini oleh Ketua Kelompok Pembudidaya Karang Hias Nusantara (KPKHN) Agus Joko Supriyatno. Bahkan usaha dibidang ini tak terdampak pandemi Covid-19. Sebaliknya,  permintaan karang hias cenderung meningkat, terutama dari pasar ekspor.

“Kalau budidaya karang hias ini potensinya luar biasa. Seperti dikondisi covid-19 permintaan pasar tidak terpengaruh. Bahkan lebih tinggi dan pasarnya ke Amerika,” jelas Agus.

Agus memaparkan, harga per piece karang hias berkisar antara USD10-35. Khusus di Pantai Pandawa, terdapat 30 masyarakat nelayan yang terlibat dalam usaha budidaya karang hias. Per bulan, masing-masing pembudidaya bisa mengantongi penghasilan Rp3 juta dan saat panen, mereka juga mendapat bonus per piece-nya.

“Kalau dikasih lahan lebih luas lagi, pelibatan masyarakatnya bisa lebih banyak lagi,” urainya.

Adapun penanamannya, kata Agus, tidaklah sulit. Terlebih para pembudidaya bisa memanen karang tiga bulan usai penanaman untuk komoditas fast growing yang bisa seharga USD10 pieces. Dia pun mengungkapkan pembudidaya karang sempat terpukul saat pelarangan ekspor diberlakukan. Bahkan, banyak para pelaku usaha yang akhirnya gulung tikar.

“Pada saat kita tidak diberikan pelayanan HC (health certificate), ekspor kita terhenti nelayan semua kolaps, itu sampai terjadi makan pun tidak bisa. Bahkan ada yang motornya ditarik leasing, rumah saya disita bank,” kenangnya.

Tak hanya memikirkan persoalan ekonomi, budidaya karang juga dilakukan untuk menjaga kelestarian laut. Agus memastikan pengambilan indukan dilalukan melalui teknik stek dan para pembudidaya juga melakukan restocking untuk menjaga keberlanjutan usahanya.

“Yang kita lakukan jelas ketelusurannya. Ketika kita ambil indukan 1, balikin 5. Ini peluang (budidaya karang), tidak terpengaruh Covid-19,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Permana Yudiarso menyebut karang hias hasil budidaya yang diproduksi di Bali mengalami peningkatan dalam tiga bulan terakhir. Selama Juli kemarin misalnya, sebanyak 33.131 pieces dihasilkan oleh para pembudidaya, lebih banyak dibanding Juni sejumlah 21.375 pieces dan Mei 13.032 pieces.

Hal yang sama dalam pengeluaran surat keterangan keterlusuran (SKK) karang hias dari Bali selama Juli 2020 mencapai 177 surat, Juni 109 surat dan Mei 36 surat.

“Tentu ini salah satu kabar menggembirakan, bahwa karang hias bisa jadi peluang sekaligus usaha alternatif selain pariwisata bagi masyarakat Bali,” tutup Yudi. (Rei)