Mengulik Jejak Sejarah Kampung Pulo Situ Cangkuang

0
79
Kampung adat Kampung Pulo, Situ Cangkuang Dok. digarut.com

Garut (Samudranesia) – Buat refreshing Situ Cangkuang gak kalahlah dengan banyak destinasi wisata keren lainnya di negeri ini. Suasananya tenang banget, udara sejuk, terus teduh pula. Yang jelas, cocok banget buat ngelepasin kepenatan. Gak pake lama, dijamin semua yang bikin mumet di kepala bakal cabut.

Sembari menikmati nuansa Situ Cangkuang yang membuai, sebenarnya banyak lagi yang asyik-asyik buat dikulik. Yang ada di depan mata adalah Kampung Pulo. Pemukiman adat dari abad-17 yang pola hidupnya bersahaja dan unik banget. Terus, cenderung tabu menerima kemajuan. Jadi ke sini, hitung-hitung piknik, terus bonusnya pengetahuan sejarah dan budaya. Asyik kan?

Kampung Pulo letaknya persis sebelum pintu masuk candi di kompleks Candi Cangkuang. Jadi, masih menjadi bagian kawasan cagar budaya. Dan, kampung ini dianggap sebagai sentra penyebar Agama Islam di Cangkuang serta wilayah Garut umumnya. Nah, salah seorang yang punya andil besar dalam membangun peradaban di wilayah ini adalah Embah Dalem Arief Muhammad.

Lalu, siapa sebenarnya Embah Dalem Arief Muhammad? Dari catatan sejarah konon beliau sebenarnya adalah seorang Panglima Perang Kerajaan Mataram. Beliau ditugaskan oleh Raja Mataram, Sultan Agung, untuk menyerang VOC di Batavia. Sayangnya, pasukan yang dipimpinnya kalah. Karena khawatir akan mendapat hukuman apabila kembali ke Mataram, akhirnya beliau bersembunyi di Cangkuang.

Pada waktu itu masyarakat sekitar masih banyak menganut Agama Hindu, atau animisme serta dinamisme. Berkat usaha Embah Dalem Arief Muhammad secara perlahan akhirnya mereka mau menerima Islam. Sementara Kampung Pulo sendiri hanya dihuni oleh keturunan asli Embah Dalem Arif Muhammad. Beliau memiliki tujuh orang anak: enam perempuan dan satu laki-laki.

Memasuki era milenial gak banyak perubahan yang terjadi di Kampung Pulo. Selama ratusan tahun, kampung adat ini cuma dihuni sebanyak 23 orang,10 perempuan dan 13 laki-laki. Mereka adalah keturunan Embah Dalem Arief Muhammad dari generasi ke-8 sampai ke-10. Tinggal di enam buah rumah dan satu masjid. Khusus keenam anak perempuannya masing-masing tinggal di rumah dan satu-satunya anak laki-laki di masjid.

Ada aturan main tak tertulis yang sampai saat ini masih dipegang kuat. Bahwa, bangunan hanya boleh ada tujuh saja di kampung itu, sesuai jumlah sekaligus simbol putra-putri Embah Dalem. Jadi, gak boleh ditambah. Begitu juga soal kepala keluarga, tetap harus tujuh. Bila ada warga yang menikah, maka harus membangun keluarga ke luar kampung. Mereka baru diizinkan kembali tinggal di Kampung Pulo, apabila orang tuanya meninggal untuk mengisi kekosongan. Tapi, yang boleh melanjutkan tradisi itu cuma anak yang perempuan. Pasalnya, anak satu-satunya laki-laki Embah Dalem Arief Muhammad meninggal ketika akan disunat.

Sedikit cerita tentang meninggalnya anak laki-laki semata wayang Embah Dalem Arief Muhammad. Waktu sang anak mau dikhitan, pihak keluarga menghelat pesta besar. Dimeriahkan arak-arak sisingaan dengan diiringi musik gamelan. Nahas, tiba-tiba muncul badai dan menerjang  sang anak. Ia terjatuh dari tandu dan meninggal dunia.

Dari kejadian itu lalu lahir satu tradisi, sekaligus aturan di kampung adat, yang saat itu juga diterapkan. Aturan itu, seperti: tidak boleh menabuh gong besar, tidak boleh beternak binatang besar berkaki empat, tidak boleh ke makam keramat pada Rabu dan malam Rabu, tidak boleh menambah bangunan pokok, menambah kepala keluarga, dan mencari nafkah di luar kampung.

Lantas, kenapa aturan itu harus ada? Alasannya sederhana, semua masyarakat Kampung Pulo mencari nafkah bertani dan berkebun. Khawatirnya, hewan ternak itu bisa merusak sawah serta kebun mereka. Dan, di kampung ini juga terdapat banyak makam kramat. Keberadaan hewan ternak ditengarai bakal mengotori pemakaman.

Soal larangan ziarah pada Rabu dan malam Rabu terkait dengan aktivitas ibadah umat Hindu. Pada masa itu, ritual ibadah umat Hindu pada Rabu dan malam Rabu. Khawatir menganggu, makanya ziarah pada hari-hari itu menjadi tabu. Tapi satu hal, meski dilarang beternak, mereka tetap boleh menyembelih dan memakan hewan besar berkaki empat. Keunikan lainnya, masih ada kebiasaan mereka melaksanakan tradisi Hindu, padahal sudah beragama Islam. Contohnya, memandikan benda pusaka dan lain-lain.