Mengharukan, 4 ABK WNI di Kapal Ikan China ‘Bernisan Batu Karang’ Lagi

0
486
Nasib ABK WNI di kapal ikan China.

Jakarta (Samudranesia) – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut ada Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang meninggal lagi di atas kapal penangkap ikan China. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) melaporkan empat orang ABK Indonesia meninggal pada Mei-Juni 2020 dan jenazah mereka dilarung di laut.

“Saya meminta kepada pemerintah China untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut secara transparan agar kejadian serupa tidak terjadi di masa mendatang,” ujar Retno dalam keterangannya, Kamis (30/7).

Hal tersbeut diperjelas dengan pernyataan Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Joedha Nugraha. Ia mengatakan pemerintah telah menerima informasi mengenai tewasnya empat warga Indonesia di kapal China pada bulan Mei dan Juni serta pelarungan mayat mereka di Laut Hindia dan Laut China Selatan pada bulan Juli 2020.

Pelaut yang disebut dengan inisial D meninggal di kapal berbendera China Hanrong 363, sementara AS, R, dan AW meninggal di kapal Hanrong 368. kata Judha dalam konferensi pers virtual mingguan Kemlu itu.

Jenazah D dan AS sempat dipindahkan ke kapal Fu Yuan Yu 059, sementara E dan AW tetap berada di kapal Han Rong 368. Setelah menerima info kematian tersebut, Kemlu berserta perwakilan RI di Colombo, Singapura, Beijing dan Guangzhou langsung menyampaikan ke pemilik kapal dan pihak terkait lainnya agar mengupayakan pemulangan jenazah ke Indonesia.

Namun, informasi yang diperoleh, kapten kapal telah melarung jenazah pada bulan Juli di Samudera Hindia dan Laut China Selatan.

“Kami sangat memprihatinkan soal pelarungan tersebut meskipun praktek pelarungan dimungkinkan dalam dunia kemaritiman namun itu merupakan pilihan terakhir setelah upaya pemulangan jenazah sudah tidak dimungkinkan lagi,” ujar Joedha.

Kemlu juga telah memanggil pihak agensi yang memberangkatkan keempat ABK tersebut untuk memastikan pemenuhan hak ketenagakerjaan kepada pihak keluarga seperti gaji, hak deposit, asuransi dan santunan kematian.

“Kami juga telah menyampaikan kabar duka ini kepada pihak keluarga dan kami juga sudah melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri untuk memastikan penegakan hukum kepada pihak yang bertanggung jawab,” kata dia.

Dengan kematian itu, setidaknya 12 pelaut Indonesia yang bekerja di kapal ikan China telah meninggal sejak November 2019. Terkait itu, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) Sulawesi Utara, Anwar Abdul Dalewa menilai pemerintah terlalu lemah dalam menangani kejadian yang terus menimpa para ABK Indonesia tersebut.

“ABK Indonesia sebagai anak-anak Ibu Pertiwi tak hentinya bernisan batu karang di laut lepas. Apa tidak ada langkah tegas terhadap Pemerintah China hingga terus terjadi pelarungan jenazah ABK Indonesia?” tegas Anwar kepada Samudranesia, Jumat (31/7).  

“Kemarin kami dapat kabar atas nama Riswan jenazah sudah dilarung di kapal Hanrong 368, di situ juga Ada jenazah Ahmad Wahid,” tambahnya.

Berdasarkan info yang diperolehnya dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), pihak keluarga dari almarhum Riswan juga sudah mendapat kabar dari pihak Kemlu. Pihak keluarga sangat kecewa dengan pihak Kapal China dan penyalur kerja yakni PT Mega Pratama Samudra.

“Turut berduka cita yang sangat dalam kawan pelaut Almarhum Riswan setelah mendengarkan kabar jenazah telah dilarungkan di tengah laut tanpa ada persetujuan dan tanpa ada pemberitahuan dari keluarga terlebih dahulu sebelum dilarungkan,” ungkapnya. (Tyo)