Meneropong Keunikan Tradisi “Baritan” di Kawasan Pesisir Pemalang

0
129
Foto Ilustrasi

Jakarta (Samudranesia) – Menyaksikan keramaian sebuah ritual tradisi yang lahir dan tumbuh di tengah masyarakat kita, apapun itu namanya, paling mengasyikkan. Apalagi itu jelas menyangkut budaya masa silam yang tetap bertahan hingga saat ini. Yang pasti, banyak kekhasan dan keunikan yang mendominasi di dalamnya. Logis, kalau momen itu selalu menjadi menarik untuk ditonton.

Satu dari ratusan atau bahkan ribuan tradisi yang kerap menghiasi persada negeri kita adalah “baritan”. Sebuah tradisi sedekah laut yang cukup unik sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir Pemalang, Jawa Tengah, khususnya Desa Asem Doyong, Kecamatan Taman. Rasa syukur ini tentunya ditujukan kepada penguasa laut pantai utara, Dewi Lanjar.

Mengulik sedikit riwayat asal-muasal tradisi “baritan”, bahwa dulu ada warga Desa Asem Doyong yang terserang penyakit yang susah disembuhkan. Kondisi itu kemudian ditafsirkan sebagai kemarahan penguasa laut pantai utara, Dewi Lanjar, atas sikap dan kebiasaan masyarakat setempat yang tidak pernah sekali pun menghelat ritual penghormatan di laut.

Berawal dari peristiwa itulah masyarakat Desa Asem Doyong dan umumnya Pemalang mulai menyadari pentingnya menyelenggarakan tradisi “baritan”. Dalam bahasa Jawa, “baritan” itu berasal dari kata-kata “mbubarake peri lan setan”, artinya ‘membubarkan peri dan setan’.
Tradisi ini diselenggarakan setahun sekali setiap hari selasa atau Jumat pada bulan Syuro – dalam penanggalan jawa – atau, Muharram – kalender Islam.

Nah, kalau mau tahu keramaiannya seperti apa, kunjungi saja perhelatan ritual “baritan” pada waktunya. Di sana Anda akan menyaksikan langsung kehebohannya. Masyarakat, bukan saja dari Desa Asem Doyong, tapi juga dari luar Pemalang, seolah tumpah ruah di kawasan pantai itu. Lantas turut ambil bagian meramaikan kegiatan tersebut dengan menumpang perahu-perahu nelayan yang telah disediakan.

Mereka berlayar menuju ke tengah laut, membawa sesaji yang akan dilarung di sana. Sesaji yang akan dipersembahkan kepada Dewi Lanjar biasanya berupa kepala kerbau plus berbagai macam jajanan. Semua itu diletakkan di sebuah perahu mini atau kecil yang dihiasi dengan bendera, umbul-umbul dan janur. Setelah sampai pada titik yang sudah ditentukan sedekah atau sesaji laut itu pun dilarung.

Perhelatan ritual “baritan” ini terasa makin meriah, karena diikuti banyak lagi kegiatan hiburan lainnya. Ada sederetan pertunjukan hiburan yang turut meramaikan, antara lain: pagelaran wayang, musik dangdut, pasar malam dan sebagainya. Jadi, tradisi sedekah laut “baritan” selain akan memperluas wawasan tentang tradisi budaya masyarakat pesisir, juga menjadi ajang tontonan yang menghibur. (Guss)