Menelusuri Jejak Sejarah Kawasan Wisata Ancol

0
82
Ancol di masa silam Dok. jakartakita.com

Jakarta (Samudranesia) – Rekreasi, meski cuma sekadar nyantai di tepi pantai Taman Impian Jaya Ancol memang nyaman sekali dan bikin lupa pulang. Bisa lihat-lihat pemandangan mengasyikkan sambil ditemani minuman dan nyemil tentunya. Atau, mau beraktivitas wisata yang lebih dari itu. Jangan khawatir, apapun nama kegiatan wisata itu di Ancol pasti ada.

Bukan rahasia lagi, Taman Impian Jaya Ancol memang dikenal sebagai destinasi wisata yang tak hanya modern tapi juga lengkap. Segala bentuk kegiatan wisata, wahana atau permainan tersedia di sini dan tentu berstandar internasional. Tak heran, jika namanya sudah sangat kondang. Tak cuma di kalangan warga Jakarta saja, melainkan juga di seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Taman Impian Jaya Ancol yang nampak sangat megah seperti sekarang ini pastinya tidak serta-merta menjelma begitu saja. Jelas ada proses perjalanan yang harus dilewati dan itu tentu bukan dalam waktu yang singkat. Dari penulusuran sejarah sejatinya cikal-bakal objek wisata yang bergengsi ini sudah ada sejak abad ke-17. Ketika itu ditandai dengan keberadaan sebuah rumah peristirahatan yang sangat indah di tepi pantai milik Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier. Plus, vila-vila lain yang dibangun di kawasan itu, seperti yang tergambar dalam karya-karya lukisan Johhanes Ranch, seorang seniman lukis pada masa itu.

Di rentang waktu abad-17 hingga pertengahan abad-18 Batavia terus berkembang. Dampaknya nama Ancol pun kian dikenal. Popularitas Ancol sebagai pantai yang indah menjadi magnet masyarakat Batavia ketika itu untuk dijadikan tempat rekreasi. Dan, Ancol pun berkembang menjadi sebuah kawasan wisata.

Pada akhir abad-18 terjadi peristiwa alam berupa memburuknya iklim di tanah Batavia. Kondisi ini dipicu polusi yang sangat parah serta munculnya wabah penyakit. Akibatnya banyak warga yang eksodus ke wilayah kota baru Weltervreden, yang mau tak mau harus meninggalkan Ancol. Ancol ketika itu dianggap daerah berawa yang menjadi salah satu pusat penyebaran penyakit malaria yang telah menelan banyak korban.

Hal yang juga perlu diketahui di rawa-rawa sekitar Ancol pada zaman Jepang kerap dijadikan sebagai ladang pembantaian terhadap orang-orang Belanda. Di lokasi itu pula mereka dikubur. Setelah Jepang kalah pada Perang Dunia II, kuburan itu dibongkar dan dipindah ke pemakaman baru. Atau, yang sekarang dikenal dengan Everald Ancol, akrabnya orang menyebut “kuburan Belanda” yang masih terletak dalam kompleks Taman Impian Jaya Ancol.

Pascaperang Dunia II yang kemudian disusul perang kemerdekaan, Ancol pun kian berubah. Apalagi Sungai Ciliwung ketika itu kerap meluap, menumpahkan air dan lumpurnya ke kawasan itu. Mengubah kawasan Ancol menjadi sangat kotor, kumuh, dan berlumpur. Dan, pastinya menjadi sangat menyeramkan.

Ancol yang sempat terlupakan selama beberapa lama oleh Presiden RI pertama, Bung Karno dibangun kembali. Lewat Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. Soemarno, sebagai pelaksana pembangunan proyek Taman Impian Jaya Ancol. Namun gonjang-ganjing politik di Tanah Air pada waktu itu membuat proyek tersebut stagnan. Baru pada 1966 ketika Ali Sadikin menjadi Gubernur Jakarta proyek itu dilaksanakan. Pelaksananya PD Pembangunan Jaya dipimpin Ir. Ciputra. Tak lama setelah itu berdirilah kawasan wisata anyar, Pantai Bina Ria Ancol namanya dengan salah satu fasilitas andalannya Teater Mobil pada 1970-an.

Setelah itu Ancol makin gencar berbenah diri. Terus melengkapi diri dengan pelbagai fasilitas canggih mengikuti tren zamannya. Dan, pada 1984 Ancol pun memperkenalkan sebuah arena permainan berteknologi tinggi, Taman Impian Dunia yang di dalamnya mencakup Dunia Fantasi, Dunia Dongeng, Dunia Harapan, Dunia Petualangan dan Dunia Sejarah.

Di luar itu, Taman Impian Jaya Ancol atau Ancol Jakarta Bay City yang berdiri di atas lahan seluas 552 ha ini sebelumnya sudah dilengkapi banyak sekali fasilitas. Antara lain: Gelanggang Samudera, Pasar Seni, Seaword Indonesia, Pantai Carnaval, Marina, Pantai Festival, Taman Pantai, Hailai Mercure, Padang Golf Ancol, Kereta Gantung Gondola, Ice World, Bidadari. Untuk bermalam, Ancol menyediakan selain hotel, ada pula jenis penginapan lain, seperti: Hotel Mercure, Putri Duyung Cottage, Hotel Wisata, dan Ancol Mansion.

MTaman Impian Jaya Ancol, selain dipenuhi oleh pelbagai fasilitas hiburan serta permainan masa kini, juga masih menyimpan sejumlah situs bersejarah. Kuburan Belanda contohnya. Lalu, di ujung muara Ancol Vaart atau Kali Ancol terdapat sisa-sisa benteng yang dibangun Pemerintah Kolonial Belanda. Dan, satu lagi situs bersejarah yang ada di kawasan wisata ini adalah kelenteng. Kelenteng An Xu Da Bo Gong Miao, yang sekarang berubah nama menjadi Kelenteng Toapekong Ancol atau Vihara Ancol. Dibangun oleh para pengikut Armada Cheng Ho sekitar 1650. (Guss)