Membangunkan Wisata Bahari Indonesia

0
320

Kementerian Koordinator Bidang Maritim menargetkan Indonesia menjadi destinasi wisata bahari nomor satu di dunia. Apa yang harus dibenahi?

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli,  menilai jika Indonesia memiliki modal untuk menjadi destinasi wisata bahari nomor satu di dunia. Syaratnya, kata Rizal, keindahan laut Indonesia harus terjaga.

Maklum, menurut Rizal, meski Indonesia memiliki banyak potensi wisata bahari,  masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki untuk mengembangkannya.Diantaranya adalah  kultur masyarakat Indonesia dan dukungan infrastruktur yang masih minim.

“Yang utama kita harus ajarkan masyarakat kita agar jangan jorok. Kalau jorok orang akan malas datang,” tegasnya. Pemerintah selanjutnya akan membenahi infrastruktur pendukung aktivitas wisata bahari.

Dari data Kementrian Pariwisata yang diolah olen tim kantor Berita Antara, tercatat jika perkembangan pariwisata Indonesia, berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan.

Sampai dengan September 2015, angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 7,1 juta orang. Jumlah ini meningkat sebesae 3,53 persen dibanding tahun sebelumnya pada periode yang sama yang mencapai angka 6,9 juta orang.

Kementerian Pariwisata sendiri menargetkan, sampai dengan akhir tahun 2015, angka kunjungan wisatawan mancanegara tersebut mencapai 10 hingga 12juta orang. Dari jumlah tersebut, diharapkan target penerimaan devisa negara akan mencapai US$12 miliar. Ini menyusul pernyataan Presiden Joko Widodo yang menetapkan sektor pariwisata sebagai sektor ungulan penerimaan devisa.

World Economic Forum 2015 menempatkan Indonesia dalam urutan 50 dari 141 negara dalam hal indeks daya saing pariwisata.  Posisi tersebut meningkat dari 70 pada 2013 dan 74 pada 2011.

Peningkatan tersebut dinilai berdasarkan perbaikan infrastruktur dan fasilitas destinasi wisata, hingga kemudahan administrasi untuk mengunjungi Indonesia seperti penambahan negara Bebas Visa Kunjungan (BVK) dan deregulasi peraturan kunjungan kapal pesiar ke perairan Indonesia.

Rizal Ramli sendiri menyatakan sangat optimis jika wisata bahari Indonesia akan mampu bersaing dengan  negara lain yang hidup dari pariwisata laut seperti Maladewa atau Thailand di masa depan. “Marine tourism Indonesia bisa jadi nomor satu dunia. Maladewa enggak ada apa-apanya dibandingin kita,” tegasnya.

Sikap optimis Rizal bukan tak mungkin bisa diwujudkan jika melihat potensi yang dimiliki Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia,  Indonesia memiliki lebih dari 17ribu pulau dengan garis pantai sepanjang 95.181 km (terpanjang kedua di dunia setelah Kanada).

Indonesia juga menjadi Pusat dari Segi Tiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle) yang merupakan area dengan keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi. Ada sekitar 590 jenis karang, 2.057 jenis ikan karang, 12 jenis lamun, 34 jenis mangrove, 1.512 jenis krustasea, 6 jenis penyu, 850 jenis sponge, 24 jenis mamalia laut dan keanekaragaman hayati laut lain.

Pusat Terumbu Karang Dunia

Awal Desember 2015, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, bahkan telah meresmikan Pusat Studi Terumbu Karang di Manado, Sulawesi Utara. “Peresmian gedung CTI ini guna mendukung kedaulatan di sektor maritim, serta dukungan untuk mewujudkan laut Indonesia menjadi home of coral reefs,” katanya.

Kawasan laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil Indonesia adalah tempat ideal untuk segala jenis aktivitas wisata bahari, Seperti snorkeling, diving, memancing, surfing, parasailing, yachting, cruising, atau sekedar berjemur.

Meski memiliki potensi wisata bahari yang tinggi serta mengalami pertumbuhan jumlan wisatawan yang terus meningkat, menurut  Prof.Dr.Ir. Rokhmin Dahuri, MS. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB, kinerja pariwisata bahari Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga dengan potensi yang lebih kecil, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia.

Menurut Rokhmin, dalam sebuah seminar di Jakarta pada November 2015, sektor wisata bahari Malaysia mampu menyumbang devisa hingga 40 persen. Sementara Indonesia baru sekitar 15 persen saja.

Belum optimalnya penerimaan devisa dari sektor wisata bahari Indonesia, menurut Rokhmin, dipengaruhi oleh beberapa hal. Antara lain, rendahnya aksesibilitas ke lokasi (destinasi), jumlah dan variasi obyek wisata (attractions) yang terbatas, kurang menarik dan inovastif dalam mengemas, buruknya infrastruktur dan sarana di lokasi wisata, keamanan, kenyamanan, dan ketenteraman di lokasi wisata umumnya masih kurang, pembangunan wilayah pariwisata bahari kurang mengindahkan daya dukung dan kualitas lingkungan, sehingga daya tariknya atau kualitasnya menurun.

Rokhmin juga menyoroti buruknya promosi dan marketing tentang wisata bahari, baik di dalam negeri maupun di tingkat global serta lemahnya koordinasi dan sinkronisasi antar instansi pemerintah, baik secara horizontal maupun vertical.

Karena itu, menurut Rokhmin, perlu adanya strategi dan kebijakan dalam pembangunan pariwisata bahari di Indonesia. Antara lain, revitalisasi obyek yang menjadi destinasi, peningkatan daya tarik, efisiensi, daya saing, inclusiveness, dan sustainability sesuai daya dukung lingkungan wilayah.

Pemerintah juga menurut Rokhmin harus gencar melakukan product development jenis-jenis wisata bahari baru yang lebih inovatif dan atraktif. Misal, mengkampanyekan Indonesia sebagai “Indonesia as a center of the world’s coral reef triangle” atau menjadikan itu sebagai ikon pariwisata bahari Indonesia.

Pemerintah juga dinilai perlu segera melakukan perbaikan dan pembangunan infrastruktur dan sarana di lokasi wisata bahari, menciptakan rasa rasa aman, nyaman, tenteram, dan bersahabat di lokasi wisata bahari, sehingga turis merasa betah dan rindu untuk kembali lagi.

Dan yang lebih penting adalah membangun masyarakat agar ebih sadar wisata dengan peningkatan keterampilan, ilmu pengetahuan, sikap terbuka, sehingga tercipta iklim investasi dan politik-ekonomi yang kondusif bagi kinerja pembangunan pariwisata bahari.

Sumber: Antara dan Trisno Utomo (kompasiana)