Membangun MDA Bangsa Lewat Museum Maritim Berkelas Dunia

0
128
Gambar miniatur Museum Maritim Indonesia - PT Pelindo II.

Jakarta (Samudranesia) – Peringatan Hari Maritim Nasional ke-56 tahun 2020 pada 23 September kemarin menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan niat bangsa Indonesia dalam membangun sektor kemaritimannya.

Momentum tersebut juga menjadi refleksi sejauh mana Maritime Domain Awareness (MDA) Indonesia baik pemerintah maupun rakyatnya terbangun. Mengingat MDA bersifat dinamis, maka proses pembangunannya harus secara terus menerus.

Pembangunan MDA tersebut juga bukan hanya menjadi tugas pemerintah melainkan seluruh elemen bangsa khususnya stakeholder maritim. visi Presiden Joko Widodo pada tahun 2014 untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia juga diiringi membangun MDA sebagai bagian dari pilar pembangunannya.

Terkait itu, Direktur Utama PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI) Chiefy Adi Kusmargono menyebut bahwa refleksi Hari Maritim Nasional ini untuk melanjutkan program-program kemaritiman yang sudah berjalan dengan baik.

Selain itu, Chiefy menyebut dalam sisi governance ialah mengutamakan tata kelola yang baik dalam menjalankan program-program kemaritiman dengan meluruskan hal yang belum lurus.

Pending matters-nya untuk menyelesaikan program-program kemaritiman yang belum selesai dan dalam pengembangan bisnisnya ialah mengembangkan ekosistem bisnis kemaritiman,” ujar Chiefy saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk “Refleksi Hari Maritim Nasional Dalam Membangun Maritime Domain Awareness (MDA) Bangsa yang Berdaya Saing” yang diselenggarakan Samudranesia, Rabu (23/9).

Menurutnya, dari sisi sejarah, Indonesia sangat berpeluang besar menjadi Poros Maritim Dunia. Begitu pula dengan peran Pelindo II yang menyandang sebagai pelabuhan internasional, memiliki sumbangsih besar dalam mewujudkan Poros Maritim Dunia.

“Pelindo memiliki aset dan teknologi serta ilmu pengetahuan kemaritiman dan kepelabuhan di Indonesia dan juga memiliki peran dalam mendorong perkembangan teknologi kepelabuhanan dan kemaritiman di Indonesia dan dunia. Jadi kita tidak kalah dengan pelabuhan-pelabuhan internasional lainnya,” ungkap dia.

Peran PT PMLI sendiri sebagai anak perusahaan PT Pelindo II yang lebih berorientasi kepada pembangunan SDM maritim dan logistik, juga mengelola Museum Maritim Indonesia. Museum tersebut terletak di lingkungan PT Pelindo II di Tanjung Priok, Jakarta.

Selain pengembangan pelabuhan, Pelindo II juga memiliki peran dalam mengembangkan pariwisata, salah satunya dengan membangun museum. Chiefy menyatakan museum memiliki peranan penting dalam membangun MDA untuk mewujudkan Poros Maritim Dunia.

“Mengapa Museum maritim Indonesia? Dengan museum kita melestarikan budaya, sejarah, cerita dan bukti kejayaan kemaritiman Indonesia yang memberikan referensi, inspirasi dan motivasi bagi para pelajar dan mahasiswa terkait profesi dunia kerja di sektor kepelabuhanan, kemaritiman dan logistik,” jelasnya.

Dirut PT PMLI Chiefy Adi Kusmargono (tengah).

Lanjut dia, museum juga memberikan motivasi bagi para pembelajar dan praktisi kepelabuhanan, kemaritiman dan logistik untuk meraih kembali kejayaan maritim sebagaimana pada saat kejayaan maritim Indonesia di masa lalu. Artinya, Museum Maritim Indonesia memposisikan dirinya sebagai rumah bersama untuk seluruh stakeholder maritim.

“Kami menyediakan fasilitas pertemuan dan media pembelajaran dunia kepelabuhanan, kemaritiman dan logistik bagi para pembelajar, insan media dan praktisi kepelabuhanan, kemaritiman dan logistik di Indonesia sehingga ide, pemikiran dan gagasan bersama lahir dari Museum Maritim Indonesia,” ungkapnya lagi.

Masih kata Chiefy, museum juga bukan sekadar tempat menyimpan informasi konvensional, tetapi juga mendukung implementasi digital port IPC (International Port Corporate).

“Yaitu sebagai pusat pengumpulan informasi strategis kemaritiman yang ada di Indonesia dalam bentuk kumpulan informasi digital sebagai Big Data dan Knowledge Management Center,” bebernya.

Di Museum Maritim Indonesia, dia juga menjelaskan ada beberapa paket pelayanan untuk pengunjung, di antaranya fun in museum, story telling, workshop, museum tour, field trip, dan exhibition.

Menuju Museum Maritim Berkelas Dunia

Sejak diresmikan pada tahun 2018, Chiefy bercita-cita untuk menjadikan museum ini sebagai world class maritime museum pada tahun 2023 mendatang. Di mana memiliki tata kelola dan pelayanan sesuai standar internasional.

“Kita juga mempererat jaringan kerja sama internasional dalam permuseuman maritim dunia. Tentunya kita juga harus menjadi pusat pengetahuan kemaritiman, pelabuhan dan pelayaran Nusantara,” ulasnya.

Di akhir penjelannya, dalam menghadapi kompleksitas permasalahan maritim Indonesia saat ini, dia mengimbau kepada seluruh anak bangsa untuk bersatu padu dan gotong royong. Pasalnya, permasalahan berat ini tentu tidak bisa dibebankan di pundak presiden dan jajarannya.

“Masa depan sebuah daerah dan bangsa Indonesia juga ditentukan oleh kita semuanya sebagai anak bangsa berdasarkan peran, tanggung jawab dan masing-masing dari kita semua dalam keselarasan dan kesepahaman mengutamakan kepentingan masa depan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (Tyo)