Membaca Pemikiran Founder Jababeka tentang Indonesia

0
78
S.D. Darmono

Membangun Indonesia memang bukan perkara mudah. Selain sangat kompleks, masing-masing permasalahan yang mencuat di negeri ini rata-rata masih jauh dari kata memadai. Logis, karena ketika mendirikan bangsa dan negara ini para founding fathers belum memiliki blue print yang jelas. Tak heran, untuk membenahi seluruh permasalahan itu tentu membutuhkan perhatian serius, plus kerja yang ekstra keras.

Setidaknya itulah sepenggal pemikiran penulis terkait keindonesiaan yang terkuak dalam bukunya  “Building A Ship While Sailing”. Ya, membangun Indonesia tak ubahnya membangun sebuah kapal tapi tetap sambil berlayar. Secara logika upaya ini jelas sangat tidak mungkin. Tapi, itulah faktanya. Terlalu banyak persoalan yang sejatinya harus dibenahi. Persoalan yang selayaknya tidak menjadi tanggung jawab Pemerintah saja, tapi juga seluruh elemen masyarakat, tak terkecuali para pengusaha.

Tak heran, meski penulis berprofesi sebagai pengusaha nalurinya sebagai bagian dari anak bangsa merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab membangun negeri ini. Sumbangsihnya tentu tak hanya sebatas bidang usaha yang digelutinya, tapi melebar jauh ke sisi lain kehidupan. Menebarkan pemikiran-pemikiran yang konstruktif tentang keindonesiaan. Tujuannya, tentu saja demi kemajuan bangsa.

Dalam buku “Building A Ship While Sailing” terungkap setidaknya ada dua kontribusi SD Darmono terhadap bangsa dan negara ini. Dari sisi profesi sebagai pengusaha properti, dia banyak membangun kawasan, baik permukiman maupun industri. Salah satu yang fenomenal adalah kawasan industri Jababeka. Sebuah kawasan industri yan g fully integrated world class. Kiprahnya dalam konteks ini tentu bukan tanpa alasan. Justru, lewat jalur inilah SD Darmono ingin memberi manfaat yang seluas-luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat, dari warga masyarakat biasa, mahasiswa hingga para pengusaha atau investor.

Di mata SD Darmono, Indonesia tak ubahnya sebuah kapal induk. Sementara PT Jababeka adalah microchip-nya yang senantiasa berinteraksi dan intergrasi di dalamnya. Atau, dalam skala lebih besar, PT Jababeka sebagai microcosmos yang tentunya harus selalu serasi dengan negeri ini sebagai macrocosmos.  Tak berlebihan, melalui metafor itu sejatinya SD Darmono hendak mengajak semua elemen masyarakat bersama pemerintah, bersinergi memajukan bangsa dan negara ini. Serta, turut mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat sesuai cita-cita kemerdekaan.

Melalui buku “Building A Ship While Sailing” SD Darmono juga mengulas riwayat bangsa Indonesia secara gamblang. Tak hanya dari sisi geneologi, tetapi juga sejarah. Dimulai sejak zaman purba, zaman penjajahan, kemerdekaan hingga memasuki beberapa kali masa pemerintahan pascamerdeka. Bagaimana Indonesia di bawah presiden pertama, sekaligus founding father, Bung Karno hingga Gus Dur terungkap jelas.

Ketajaman naluri SD Darmono sebagai anak bangsa dengan jiwa sosial yang begitu besar berhasil menelorkan sejumlah permikiran. Pemikiran yang tentu saja bukan opini semata, tapi disertai kritik yang konstruktif. Hampir semua aspek kehidupan; sosial-budaya,  bisnis, pendidikan hingga pola kehidupan berbangsa dan bernegara tak luput dari sorotannya. Mencakup Indonesia di masa lalu, masa kini hingga masa depan.

Membaca buku “Building A Ship While Sailing” sama artinya mengulik pemikiran seorang SD Darmono. Sosok langka di antara yang hanya sedikit di negeri ini dengan passion yang begitu kompleks untuk kemajuan Ibu Pertiwi. Pemikirannya yang luas tak hanya menambah wawasan, tetapi juga menggelitik para pembaca untuk berdialog. Terlebih buku ini ditulis dengan bahasa yang sangat komunikatif. Sehingga, enak dibaca sekaligus dicerna. Tak berlebihan, jika buku ini sejatinya dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat. Termasuk, tentunya kalangan pemerintahan, swasta serta mahasiswa.