Melihat ‘Keangkeran’ Segitiga Bermuda Indonesia, Perairan Masalembo

0
382
Peta Masalembo.

Samudranesia – Mungkin masih banyak yang ingat tragedi tenggelamnya KMP Tampomas II pada 21 Januari 1981 silam. Kecelakaan kapal laut yang sangat tragis, menelan korban hingga ratusan jiwa. Peristiwa yang sangat memilukan itu terjadi di perairan Masalembo, salah satu kecamatan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kecamatan ini terdiri dari tiga pulau: Masalembu, Masakambing, dan Kramian.

Masalembo yang berada di tengah perairan antara Pulau Jawa dan Kalimantan ini tak hanya menenggelamkan KMP Tampomas II saja, tapi ada sederet korban lainnya. Pada 29 September 2006 giliran kapal Senopati Nusantara yang jadi korbannya. Lalu setahun kemudian tercatat 4 kali peristiwa kecelakaan yang sangat mengerikan terjadi di sini.

Dimulai 1 Januari 2007 ketika itu sebuah pesawat komersial Adam Air bernasib naas jatuh dan tenggelam di perairan ini. Dan, 19 Juli 2007, KM Mutiara Indah juga mengalami kecelakaan dan tenggelam. Masih pada bulan yang sama, tanggal 27, KM Fajar Mas bernasib serupa. Kemudian berturut-turut musibah juga dialami KM Sumber Awal (16 Agustus 2007) dan KM Teratai Prima (11 Januari 2007).

Semua peristiwa itu terjadi tentu bukan tanpa sebab. Yang cukup santer adalah karena mitos yang berkembang di tengah masyarakat Masalembo. Konon, menurut kepercayaan mereka di perairan ini menjadi pusat sebuah kerajaan makhluk halus. Terkait ini, tak sedikit kesaksian yang pernah melihat penampakan misterius, seperti ular laut raksasa, burung raksasa hingga kemunculan naga saat di perairan ini.

Satu lagi, di perairan Masalembo tak jarang pula muncul gelombang dengan garis putih. Menurut kepercayaan masyarakat setempat gelombang tersebut merupakan perlintasan gaib penguasa perairan tersebut, Ratu Malaka atau ibu dari orang-orang Suku Laut. Biasanya ini menjadi pertanda bahaya, sehingga tak ada satu pun nelayan yang berani melaut. Makanya, agar bisa selamat melayari jalur ini sangat disarankan untuk memberi salam atau pun sesaji.

Dari sisi ilmiah terungkap bahwa perairan Masalembo merupakan titik pertemuan dua arus kencang yang ekstrem. Arus dari barat yang terus memanjang ke Laut Jawa dengan arus kencang lainnya dari utara Selat Makassar. Fenomena ini lazimnya terjadi antara Desember-Januari atau Juli-Agustus. Tak heran, jika semua kecelakaan yang terjadi di perairan ini pada kurun waktu tersebut.

Faktor pemicu lain adalah “air pocket”. Ini juga diklaim menjadi faktor yang membuat perairan Masalembo menjadi sangat berbahaya. Secara ilmiah “air pocket” adalah ruang yang berisi udara mengalir berkecepatan tinggi. Saking kuatnya, fenomena alam ini bahkan mampu menyedot benda-benda yang berada di area tersebut, seperti: pesawat, kapal dan benda lainnya.

Logis, melihat karakteristiknya yang kerap menelan korban banyak orang menyebut Masalembo sebagai “Segitiga Bermuda”-nya Indonesia. Segitiga itu merupakan garis hayal yang menghubungkan Pulau Bawean, Kota Majene dan Kepulauan Tengah di perairan Masalembo. (Guss)