Lewat Program ‘Sertifikasi Logistik Mahasiswa Merdeka’, SCI Upayakan Terbangunnya SDM Logistik Andal

0
92
Ilustrasi Foto: SDM Logistik/Net

Jakarta (Samudranesia) – Data Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menunjukkan jumlah tenaga kerja pada tahun 2018 yang telah tersertifikasi sangat sedikit, yaitu baru sebanyak 615.388 orang. Data tersebut berdasarkan sertifikasi kompetensi tenaga kerja pada 17 sektor menurut Badan Pusat Statistika (BPS).

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menjelaskan dengan mengacu pada data tersebut, sektor dengan jumlah orang tersertifikasi paling banyak adalah sektor jasa lainnya sebanyak 95.010 orang, diikuti industri pengolahan (84.537), penyediaan akomodasi makan dan minum (78.684), jasa pendidikan (73.611), jasa keuangan dan asuransi (52.618), serta jasa perusahaan (44.877).

Sementara itu, jumlah tenaga kerja yang tersertifikasi pada sektor transportasi dan pergudangan (logistik) sebanyak 7.794 orang. Jika dibandingkan dengan sektor lain, jumlah tersebut merupakan salah satu dari lima sektor dengan jumlah sertifikasi paling sedikit.

Kelima sektor tersebut adalah sektor transportasi dan pergudangan; diikuti sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (5.427); pengadaan listrik dan gas (4.319); pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang (1.615), serta real estate (967).

Setijadi menyatakan kondisi tersebut merupakan masalah serius karena sertifikasi merupakan salah satu tolok ukur untuk menjamin bahwa tujuan pembelajaran telah tercapai, membantu untuk perencanaan jenjang karir bagi tenaga kerja, serta membantu pengembangan evaluasi pembelajaran.

Padahal, UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa setiap tenaga kerja berhak memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pelatihan kerja pemerintah, lembaga pelatihan kerja swasta, atau pelatihan di tempat kerja.

SDM di bidang logistik yang kompeten dan profesional sangat penting untuk mendukung kinerja logistik dalam pengelolaan rantai pasok perusahaan. Kinerja logistik ini akan mempengaruhi daya saing produk agar bisa bersaing di dalam maupun luar negeri.

Pemerintah dan pihak-pihak terkait perlu memberi perhatian khusus atas kekurangan tenaga kerja yang kompeten dalam bidang logistik. Salah satu kendala utama peningkatan jumlah dan penyebaran SDM logistik adalah biaya yang mahal.

Setijadi menyatakan platform Ruang Logistik yang dikembangkan oleh SCI dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk mengatasi persoalan pengembangan, serta peningkatan jumlah dan penyebaran kompetensi SDM logistik.

Dalam rangka peringatan kemerdekaan Indonesia ke-75, SCI mengadakan Program “Sertifikasi Logistik Mahasiswa Merdeka”. Program yang dapat diakses melalui platform yang dapat diakses melalui https://ruanglogistik.id itu khusus untuk mahasiswa dan fresh graduate.

Program berupa pelatihan dan sertifikasi “Basic Logistics” pada 17-29 Agustus 2020 diselenggarakan secara online. Para peserta dapat mengikuti secara mudah dan murah tanpa harus datang ke Jakarta atau kota lain tempat penyelenggaraan pelatihan dan sertifikasi.

Bahkan, dalam rangka peringatan kemerdekaan ke-75 itu, peserta akan mendapatkan potongan 75 persen dari nilai investasi sebesar Rp 1,2 juta menjadi Rp 300 ribu.

Setijadi yang juga sebagai CEO Ruang Logistik mengatakan program itu sebagai salah satu kontribusi SCI dalam meningkatkan pengetahuan dan kompetensi bidang logistik bagi talenta muda. Sertifikat yang diperoleh dari SCI yang merupakan lembaga terpercaya menjadi bukti kompetensi dalam bidang logistik yang penting untuk memulai karir. (Tyo)