“Lemafa”, Bertaruh Nyawa demi Jaga Tradisi

0
36
Pemburu paus Dok. sindonews.com

Lamalera (Samudranesia) – Melihat Pantai Lamalera di hari-hari biasa, sebenarnya sama saja dengan pantai-pantai umumnya. Tak seberapa ramai, seperti biasa paling hanya ada sejumlah lelaki dewasa sedang berkumpul di rumah gubuk, dekat paledang atau perahu khas Lamalera. Plus, beberapa anak kecil yang tengah asyik bermain di tepi pantai. Terdengar teriakan mereka “baleo!” yang artinya paus. Rupanya, mereka sedang berlatih, menikam paus dengan gelas air mineral bekas yang diibaratkan sebagai pausnya.

Desa Lamalera memang bisa disebut “gudangnya” lemafa, sebutan untuk para pemburu paus. Ini jelas terkait dengan masyarakatnya yang punya tradisi tak biasa, berburu paus. Tradisi yang sangat menguji adrenalin dan sudah mengakar sejak abad 16. Jadi, skill mereka sebagai penakluk paus memang diperoleh secara turun -temurun dari nenek moyang mereka.

Jika diamati, ada yang menarik sebenarnya di Pantai Lamalera. Yakni, adanya sederet rumah gubuk untuk menyimpan paledang, bangunan sederhana beratap rumbai, yang kerap  dijadikan pula tempat diskusi sambil mengawasi kehadiran paus di tengah laut. Terkait pemantauan, masyarakat Lamalera juga punya lopo, rumah panggung berukuran 2 x 3 meter, terletak di atas bukit. Dihuni dua atau tiga warga yang bertugas sebagai pemantau.

Lantas, kapan perburuan itu berlangsung? Mei hingga Oktober. Sebelum itu, ada ritual adat yang harus dilaksanakan. Lokasinya di sebuah bukit, 5 km dari Pantai Lamalera. Persisnya di sebuah batu berbentuk paus. Upacara dipimpin para tetua adat, selain menyuguhkan sesajen, juga berdoa untuk memohon pertolongan leluhur agar diberikan panen berlimpah serta dilindungi dari bahaya. Ritual berlanjut di sebuah gereja di Pantai Lamalera, berupa misa kudus dipimpin oleh pastor dan dihadiri ribuan nelayan beserta keluarga. Tujuannya, meminta pertolongan Tuhan agar hasil tangkapan mencukupi kebutuhan. Tak lupa doa untuk para nelayan yang telah meninggal saat melaut diberi istirahat yang kekal.

Setelah itu, perburuan paus pun dimulai. Perburuan yang tentunya tetap memegang teguh aturan yang telah digariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang mereka. Yaitu, dilarang menangkap paus muda, dan jumlahnya tak boleh melebihi 15 ekor. Jenis pausnya, paus sperma, atau istilah mereka koteklema, dan paus biru atau kelaru. Sebuah potret kearifan lokal yang masih tetap terjaga, yang pastinya demi keberlanjutan mamalia laut raksasa ini di masa depan.

Dengan menggunakan paledang berukuran panjang 15 – 20 m dan lebar 1 – 1,3 m, lemafa ditemani  7 – 10 warga lain pun berburu paus atau lefa. Saat itulah menjadi ajang pertarungan hidup dan mati bagi lemafa. Dengan keahliannya lemafa harus membidik dan menghujamkan tempuling tepat ke jantung paus, sesuai ajaran yang mereka peroleh secara turun-temurun.

Paus tentu tak menyerah begitu saja. Gerakannya pun menjadi sangat ekstrem. Tak jarang sang paus menyeret lemafa jauh ke dalam laut. Serta, bergerak lebih ekstrem yang kadang berujung kematian. Paus yang berhasil ditaklukkan dibawa ke bibir pantai untuk dipotong-potong secara bergotong-royong. Hasilnya, dibagi-bagi tak hanya untuk para lemafa plus kru, tapi juga seluruh warga Lamalera. Tak lupa tentu untuk para janda lemafa yang gugur, serta anak-anak yatim. Dari tradisi ini tergambar betapa kearifan Lamalera tak hanya terbatas pada aturan perburuan semata, tapi juga soal pembagian hasil. Pembagian yang akan meningkatkan kesejahteraan mereka. Pasalnya, hasil buruan itu kerap dijual di pasar atau barter dengan hasil bumi sesuai kebutuhan mereka, Pasar Wulandoni namanya, sekitar 3 km dari Lamalera. Tak heran, jika kemudian terjadi pemerataan karena mereka yang tinggal di pegunungan pun bisa merasakan pula lezatnya paus hasil tangkapan itu.(Guss)