Kratom, Narkotika atau Obat?

0
48

Badan Narkotika Nasional (BNN) mengkategorikan tanaman kratom (Mitragyna speciosa) sebagai obat kategori-I, setara dengan narkotika. Ratusan ribu petani di Kalimantan terancam kehilangan mata pencaharian.

Bagi sebagian orang, kratom memiliki khasiat yang bisa membantu masalah kesehatan mereka. Dikenal sebagai tanaman obat, kratom sudah sangat popular di Amerika sebagai tanaman sejenis the yang dipercaya mampu membantu mengurangi rasa sakit, membuat rileks, dan merangsang pecandu narkoba untuk berhenti.

Tanaman ini tumbuh subur di pedalaman Kalimantan dan daratan Asia Tenggara. Di Kalimantan, seperti yang dikutip dari BBC, disebutkan jika ada sekitar 300.000 petani yang menggantungkan hidupnya dari bertanam kratom. Dari pedalaman Kalimantan ini, sebagian besar hasil panen kratom di ekspor ke Amerika Serikat. Dari petani Kalbar, misalnya, rata-rata mampu mengekspor 300-500  ton kratom dalam bentuk bubuk dan remahan daun kering.

Amerika memang menjadi pasar menjanjikan bagi peredaran kratom meskipun beberapa negara bagian di negara tersebut masih melarang perdagangannya. Saat ini ada tren baru di kafe dan bar-bar yang ada di New York yang menyediakan minuman kratom dalam salah satu menu favorit mereka. Banyak konsumen yang menjadikan kratom sebagai obat terapi atas kecanduan opium. Di Amerika sendiri angka kematian akibat konsumsi opium masih cukup tinggi. Menurut Departemen Kesehatan Amerika atau Health & Human Services, di tahun 2017 rata-rata terjadi 130 kasus kematian per hari akibat opium.

Namun bukan berarti pemerintah AS menyetujui peredaran kratom begitu saja. Karena di tahun 2016, badan hukum  narkoba AS atau Drug Enforcement Administration (DEA) menggolongkan kratom dalam kategori I narkotika dan melarang penggunaannya untuk keperluan medis. Keputusan tersbeut pada akhirnya ditunda karena mendapatkan protes keras dari pengguna.

Efek stimulant yang mirip morfin

Di Indonesia, BNN sudah mengusulkan kepada Kementerian Kesehatan agar kratom masuk dalam golongan narkoba. Sampai berita ini diturunkan belum ada keputusan resmi dari Kemenkes tentang status kratom tersebut.

Dilansir situs laboratorium BNN, kratom dipasarkan dalam bentuk bubuk, daun segar, dan remahan daun kering. Cara mengonsumsinya biasanya dikunyah untuk kratom bentuk daun segar seperti sirih dan diseduh untuk kratom yang berbentuk bubuk dan remahan daun keringnya.

Selengkapnya bisa dibaca di Majalah Samudranesia Edisi 3/2019.

Hubungi Info Langganan