Korps Marinir, Kisah Pengabdian yang Berawal dari Tegal

0
88
Ilustrasi.

Jakarta (Samudranesia) – Tegal, kota di pesisir utara Jawa Tengah hingga kini kerap dijuluki sebagai kota Bahari. Selain mengisahkan banyak masyarakatnya yang bergantung kepada laut, kota ini juga memiliki sejarah dalam pertahanan maritim Indonesia.

Kota ini menjadi Rahim lahirnya korps angkatan laut pendarat kebanggaan Indonesia yang kini bernama Korps Marinir TNI AL. Kisahnya bermula dari serangkaian sekolah pelaut pribumi yang didirikan oleh Belanda kemudian dilanjutkan Jepang.

Karena letaknya mendukung, Tegal termasuk kota yang dibangun cabang-cabang sekolah pelayaran oleh Belanda. Dalam arsip Sejarah ALRI, Zee Vaartschool di Surabaya sebagai sekolah untuk mencetak mualim besar juga memiliki cabang di Semarang dan Tegal.

Kemudian berlanjut ke masa penjajahan Jepang, Tegal juga dibangun Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) dan Sekolah Pelayaran Rendah (SPR) yang kelak akan melahirkan kaum bahariwan, embrio dari Angkatan Laut Indonesia.

Ketika Kemerdekaan Indonesia berkumandang pada 17 Agustus 1945, sekitar 2000 pelaut jebolan SPT dan SPR plus eks Koninkijke Marine (Pasukan Angkatan Laut Belanda) beserta masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap laut mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut yang dipimpin oleh Mas Pardi.

Hingga berganti nama menjadi TKR Laut pada 5 Oktober 1945, Tegal telah menjadi basis berkumpulnya kaum bahariwan yang membentuk angkatan perang. Di bawah Pangkalan IV TKR Laut Tegal, terbentuklah satu unit Corps Mariniers pada 15 November 1945. Alhasil tanggal itu kemudian diperingati sebagai hari jadi Korps Marinir TNI AL hingga kini.

Berdasarkan kondisi, unit tersebut kemudian menginspirasi ALRI secara keseluruhan untuk banyak bertempur di darat sehingga terciptalah sebutan ‘ALRI Gunung’. Pada tanggal 9 Oktober 1948 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan Nomor: A/565/1948 ditetapkan adanya Korps Komando di dalam Angkatan Laut sehingga seluruh satuan kelautan tersebut dilebur menjadi  Korps Komando Operasi (KKO AL).

Korps Marinir pada periode perang kemerdekaan merupakan komponen terbesar dalam tubuh ALRI. Hal tersebut disebabkan situasi perjuangan bangsa yang mengharuskan lebih banyak mengadakan kegiatan-kegiatan dan tugastugas operasi di darat dari pada di laut.

Khusus untuk Corps Marinier (CM) yang terdapat di Pangkalan IV Tegal mempunyai tujuh (7) batalyon yang bermarkas di Tegal dengan Komandan yang pertama Mayor Agoes Soebekti, jebolan SPT Semarang. Persenjataan dan perlengkapan yang semula bervariasi disempurnakan dengan senjata jenis Johnson dari FN (Belgia).

Pada tahun 1955-1959 KKO-AL mengalami perubahan dalam bidang organisasi. Pembinaan personel dan material pada periode ini juga mengalami kemajuan-kemajuan di antaranya melalui bidang pendidikan. Di bawah besutan dua jenderal Marinir yang juga jebolan SPT yakni Hartono dan Ali Sadikin, korps ini menjadi kian berkembang dan disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Dua jenderal yang dikenal dekat dengan Bung Karno itupun mampu menarik hati Sang Pemimpin Besar Revolusi sebagai Bapak Pembina dari korps ini. Mulai dari simbol (pataka) bergambar ‘keris’ hingga motto ‘Jalesu Bhumyamca Jayamahe’ serta baret (ungu) konon telah diusulkan oleh Bung Karno.

Dalam operasi Trikora dan Dwikora, korps ini menjadi andalan Bung Karno untuk melancarkan misinya. Bahkan Ali Sadikin termasuk orang penting di dalam pemerintahan Bung Karno yang menjabat sebagai Menko Kemaritiman yang kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Di era Bung Karno pula sempat tercetus adanya pemisahan KKO menjadi Angkatan sendiri atau angkatan perang kelima setelah Angkatan Darat, Laut, Udara dan Polisi. Namun belakangan istilah angkatan perang kelima lebih diidentikan dengan buruh dan tani yang dipersenjatai dari Tiongkok yang berafiliasi kepada PKI.

Pada era Orde Baru (1966-1998) terjadi reorganisasi di mana Paskoarma I dan II serta Pasinko dilebur menjadi Paskoarma dengan kekuatan 2 Brigade. Sesuai Renstra Hankam I tahun 1974-1978 bidang TNI-AL, dilaksanakan pula penyederhanaan struktur organisasi KKO-AL yang kemudian diikuti dengan likuidasi Batalyon 6, 8, dan 10 di wilayah Barat (Jakarta) serta Batalyon 7 dan 9 di wilayah Timur (Surabaya). Bagi para anggota dari Batalyon-Batalyon yang terkena likuidasi tersebut, dimasukkan ke dalam Batalyon yang masih aktif dan sebagian lagi disalurkan ke dalam Depatransit dan Lembaga lembaga pemerintah lainnya di wilayah Barat dan Timur.

Pada tahun 1975 terjadilah suatu peristiwa yang penting bagi keberadaan Korps dimana nama Korps Komando Angkatan Laut yang telah digunakan sejak tahun 1950 dikembalikan lagi menjadi Korps Marinir sesuai dengan sejarah lahirnya Korps sejak tahun 1945.

Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Kasal No. Skep/1831/XI/1975 tanggal 14 Nopember 1975. Pada tahun 1984 Korps Marinir kembali mengadakan reorganisasi kekuatan. Kekuatan yang dimiliki saat itu adalah 2 Brigade Infanteri Korps Marinir, 1 Resimen Bantuan Tempur Korps Marinir, 1 Resimen Bantuan Administrasi Korps Marinir, 1 Komando Latihan Korps Marinir dan 2 Pangkalan Korps Marinir di Jakarta dan Surabaya.

Selanjutnya sebelum era reformasi, kekuatan tersebut ditambah dengan masuknya satuan Detasemen Jala Mangkara dan Rumah Sakit TNI AL Marinir Cilandak sebagai Komando Pelaksana Korps Marinir Pada Era Reformasi (1998), Prajurit-prajurit Korps Marinir tercatat memiliki peran yang cukup besar dalam meredam dan mengeliminasi dampak dari kerusuhan-kerusuhan tersebut.

Korps Marinir, bukan saja berhasil dalam menangani dan meredam gerakan dan aksi massa tetapi juga Prajurit-prajurit Korps Marinir telah mampu menjadi bagian penting penyelamat bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara di negeri ini.

Demikian sejarah singkat Korps Marinir TNI AL yang kini memasuki usia 74 tahun. Berbagai torehan tinta emas telah diukir oleh korps ini dalam mengemban pengabdian kepada NKRI. Hal itu semua berawal dari Tegal, Kota Bahari nan bersejarah. (**)