“Kora-kora”, Perahu Perang Khas Maluku yang Pernah Ditakuti

0
397
Dok. visitbandanaira.tumblr.com

Ternate (Samudranesia) – Buat sebagian masyarakat, utamanya warga Jakarta, mendengar nama “kora-kora” pasti tak asing lagi. Seketika itu juga bisa jadi mereka langsung mengaitkan nama itu dengan salah satu wahana hiburan yang ada di Dunia Fantasi (Dufan) – Ancol. Berupa perahu berukuran cukup besar yang pergerakannya seakan terombang-ambing oleh gelombang laut yang menghadang di depannya. Wahana yang kapasitas angkutnya maksimal 54 orang itu pun menjadi seperti terayun-ayun, dengan kemiringan hingga mencapai 90 derajat.

Dalam konteks wahana hiburan, kora-kora memang tak lebih hanyalah sebuah permainan. Tapi, tahukah Anda jika dikaitkan dengan dunia nyata, nama ini sejatinya memang ada. Kora-kora adalah perahu tradisional khas Maluku. Berukuran panjang sekitar 10 m dan lebar tak lebih dari 1 m, serta tinggi kira-kira 0,8 m. Perahu ini dilengkapi cadik bambu, panjangnya kira-kira 1,5 m dan beratnya mencapai kurang-lebih 4 ton.

Baca Juga: Divespot Menantang Bagi Diver Sejati

Pergerakannya, selain mengandalkan layar, perahu ini juga didukung oleh kekuatan dayung. Terkait ini biasanya diperlukan sebanyak 40 pendayung. Pada bagian tengah perahu terdapat sebuah ruang, yang biasanya difungsikan sebagai tempat penumpang dan barang. Di atas ruang tersebut ditutupi atap ilalang. Jenis kora-kora dengan model seperti ini disebut juanga. Dahulu, jenis ini diperuntukkan bagi raja dan keluarga. Sedangkan yang berjenis kudunga khusus masyarakat umum. Dan, secara umum, model kora-kora tak ubahnya mirip perahu naga dari Cina. Selain terdapat simbol kepala naga pada bagian depan, di bagian belakang perahu tradsional ini terdapat ekor naga.

Pada masa silam perahu ini bukan hanya digunakan untuk berdagang, tapi juga berperang. Biasanya, untuk tujuan perang, digunakan kora-kora yang berukuran lebih besar dengan mengandalkan sekitar 100 pendayung.  Mereka selalu meneriakkan kata-kata ‘mena muria’, artinya maju-mundur, tujuannya untuk menyesuaikan tolakan dayung mereka saat ekspedisi. Lalu, perahu yang terbuat dari kayu gufasa dan marfala ini juga tak jarang digunakan untuk misi-misi diplomatik serta ekspansi. Seperti yang pernah dilakukan oleh Babullah dari Kesultanan Ternate. Kora-kora pada masa lalu tak hanya merajai di perairan Nusantara, melainkan mancanegara, salah satunya ke Mindanau, Filipina.

Lantas, bagaimana keberadaan kora-kora saat ini? Masih eksis. Meski jumlahnya tak terlalu banyak. Perahu khas ini masih bisa ditemui di Kota Ternate, Halmahera. Apalagi, pemerintah setempat punya komitmen untuk selalu melestarikan keberadaan kora-kora lewat satu kegiatan rutin, namanya Festival Kora-kora. Berkat festival yang dihelat pada November tiap tahun inilah perahu tradisional tersebut masih tetap bertahan meski tak henti tergerus modernisasi. Dan, tak seperti di masa ratusan tahun silam, yang rata-rata berukuran “raksasa” dengan tenaga pendayung 100 – 300 orang, kora-kora saat ini tampil dalam ukuran yang lebih ramping.(Guss)