Komnas HAM Didesak Usut Aksi Kekerasan pada Nelayan di Makassar

0
128
Aksi protes nelayan dan aktivis lingkungan hidup terhadap penambangan pasir di Sulsel (dok.Jatam)

Jakarta (Samudranesia)- Proyek pembangunan pelabuhan baru Makassar atau Makassar New Port masih terus menuai konflik. Terbaru, oknum petugas dari Polairud Polda Sulawesi Selatan terekam melakukan penangkapan dengan tindak kekerasan terhadap beberapa nelayan, aktivis lingkungan hidup, dan awak jurnalis kampus yang melakukan aksi protes terhadap proyek tersebut pada 12 September 2020.

Penangkapan memang tak berlangsung lama. Dalam waktu 1×24 jam pihak Polairud akhirnya membebaskan 11 orang tersebut. Pun demikian, buntut dari aksi penangkapan tersebut, beberapa aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Sulsel menuntut Komnas HAM RI dan Kompolnas RI untuk segera melakukan investigasi terkait dugaan pelanggaran HAM oleh aparat Polairud Polda Sulsel yang bertugas.

Dugaan pelanggaran HAM ini, seperti yang dikutip dari keterangan pers Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) pada 12 September 2020, dibuktikan dengan adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum petugas Polairud saat melakukan aksi pengejaran dan penangkapan para nelayan dan aktivis di laut.

Dalam bukti yang dimiliki Jatam, antara lain berupa rekaman video dan foto, selain melakukan penabrakan terhadap perahu yang ditumpangi nelayan dan aktivis, terjadi juga pemukulan terhadap salah satu aktivis yang menimbulkan bekas luka di bagian kepala.

Sebelumnya 11 nelayan dan aktivis melakukan aksi protes dan pengusiran terhadap kapal Boskalis yang sedang melakukan pengerukan pasir untuk reklamasi pelabuhan. Setelah kapal tambang menghentikan pengerukan dan bergerak menjauh, para nelayan dan aktivis pun berlayar pulang menuju Pulau Kodingareng, tempat tinggal. Namun ketika sudah mendekati pulau, perahu mereka ditabrak oleh petugas Polairud dan dilakukan penangkapan.

Aksi protes nelayan dan aktivis ini sudah berlangsung berkali-kali. Semua diawali ketika pada tanggal 13 Februari 2020 PT. Boskalis melakukan kegiatan tambang pasir laut. Oleh nelayan aktivitas tersebut dianggap merugikan. Selain itu mereka merasa  tidak pernah dilibatkan pada tahap perencanaan, baik dalam bentuk sosialisasi maupun konsultasi publik.

Di sisi lain, secara nyata terjadi kerusakan ekosistem laut-terumbu karang, kekeruhan air laut dan gelombang tinggi. Lokasi tambang pasir, tepat berada di wilayah tangkap ikan nelayan yang dikenal dengan nama copong. Akibatnya, nelayan kehilangan hasil tangkapan karena lingkungan lokasi tangkapan ikan yang rusak.