Kisah Rumah Kos Kramat 106

0
306
Bangunan Museum Sumpah Pemuda (Ist)

Jakarta (Samudranesia) – Lahirnya peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober tak bisa dilepaskan dari keberadaan gedung tua di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat. Di dalam bangunan bergaya Eropa inilah lahir pergerakan pemuda Indonesia yang kemudian mendorong adanya persatuan pemuda di seluruh Tanah Air.

Merujuk pada catatan sejarah di situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,  bangunan yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda ini sudah berdiri sejak awal abad ke-20.  Berbagai literatur sejarah menulis jika bangunan ini dimiliki oleh Sie Kong Liang dan difungsikan sebagai pemondokan atau rumah kos bagi para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), kampus kedokteran bagi para pelajar pribumi.

Bangunan ini terdiri dari 1 bangunan utama dan 14 paviliun dengan total luas lahan mencapai 1.041 meter persegi. Sementara luas bangunan utamanya sendiri mencapai 460 meter persegi dan luas masing-masing paviliun mencapai 45 meter persegi. Bangunan ini konon sudah dijadikan sebagai tempat pemondokan mahasiswa STOVIA sejak 1908 yang dikenal dengan nama Commensalen Huis atau rumah tinggal dan belajar.

Sebagai rumah kos para mahasiswa berbagai macam diskusi dan aktivitas di pemondokan ini terjadi. Diskusi intens yang mengarah kepada pergerakan politik pemuda di rumah kos ini dimulai sejak tahun 1925-1928. Di mana pada tahun-tahun tersebut penghuni rumah kos ini tak lagi didominasi oleh Jong Java (sebutan untuk pelajar dari Jawa) namun juga kedatangan pelajar dari berbagai daerah.

Para palajar dari Jawa kemudian membentuk kelompok kesenian yang mereka namakan Langen Siswo. Sejak itu rumah kos ini juga dikenal dengan nama Langen Siswo.

Seperti dijelaskan dalam buku Peranan Gedung Kramat Raya 106 dalam Melahirkan Sumpah Pemuda (Safwan M, 1979) beberapa tokoh pergerakan nasional seperti Moh. Yamin, Amir Sjarifuddin, Surjadi (Surabaya), Surjadi (Jakarta), Asaat, Abu Hanifah, AK Gani, Hidajat, F Lumban Tobing, Sunarko pernah menghuni rumah kos ini.

Soekarno dan beberapa tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung juga sering singgah di Rumah Kos Kramat 106 untuk berdiskusi mengenai perjuangan pemuda Nusantara. Tahun 1927 seiring dengan semakin aktifnya diskusi social kemasyarakatan dan pergerakan politik, rumah kos ini kemudian diberi nama baru sebagai Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan).

Berbagai kongres kepemudaan tercatat pernah diadakan di gedung ini. Pada 15 Agustus 1928, gedung ini merekam sejarah penting dalam proses lahirnya Sumpah Pemuda. Di gedung ini diadakan rapat Pemuda Indonesia yang memutuskan untuk mengadakan Kongres Pemuda II. Kongres ini sendiri kemudian berlangsung selama dua hari pada tanggal 27-28 Oktober 1928.

Pada 27 Oktober 1928, kongres diadakan di Gedung Katholikee Jongelingen Bond atau Gedung Pemuda Katolik yang sekarang telah berubah menjadi Gereja katedral di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Sedangkan kongres di hari kedua berlangsung di Gedung Oost Java Bioscoop yang terletak di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat (bangunan ini sekarang sudah tidak ada).

Hasil-hasil kongres kemudian dibawa ke rumah kos Kramat 106 untuk kemudian menjadi lokasi pembacaan naskah Sumpah Pemuda. Di rumah kos ini pula Wage Rudolf Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya.

Tak Mampu Bayar Sewa

Momen pembacaan Sumpah Pemuda sepertinya menjadi klimaks dari kehidupan di rumah kos ini. Karena tahun-tahun setelah peristiwa tersebut rumah ini banyak ditinggal oleh penghuninya yang lulus belajar. Aktivitas diskusi pemuda pun mulai jarang terdengar.  

Sumber sejarah lain mencatat jika pada tahun 1934 para pelajar ini sebenarnya tak lagi mampu membayar sewa gedung pada pemiliknya. Bangunan ini kemudian beralih sewa kepada warga Tionghoa bernama Pang Tjem Jam sampai dengan tahun 1937 sebagai rumah tinggal.

Periode tahun 1937-1951, setalah masa sewa Pang Tjem Jam habis, bangunan ini disewa oleh Loh Jing Tjoe dan beralih fungsi menjadi toko bunga sampai dengan tahun 1948. Sejak tahun tersebut bangunan ini beberapa kali berganti kepemilikan dan fungsi. Mulai dari menjadi Hotel Hersia (1948-1951) sampai dengan menjadi kantor Inspektorat Bea dan Cuka (1951-1970).

Pada 3 April 1973, Pemda DKI melakukan pemugaran Gedung Kramat 106 yang pengerjaannya selesai pada 20 Mei 1973. Sejak saat itu Rumah Kos ini menjadi Museum Sumpah Pemuda.