Kenangan Almarhum Capt. Mek Slamet Wibowo, Si ‘Celana Pendek Putih’ yang Disiplin

0
1091
Capt. Mek Slamet Wibowo dan prosesi pemakamannya. Foto: Dok Rony Turangan.

Jakarta (Samudranesia) – Pada 21 Januari 2020 lalu, salah satu putra terbaik bangsa di bidang kemaritiman, Capt. Mek Slamet Wibowo telah dipanggil oleh Sang Pencipta. Direktur kedua Akademi Ilmu Pelayaran (AIP- sekarang STIP) itu meninggalkan banyak catatan emas dalam kemajuan maritim bangsa Indonesia.

Menjadi Direktur AIP pada tahun 1959-1962 menggantikan Direktur AIP pertama Hendri P Kalangie, Capt Mek Slamet Wibowo banyak menggagas program-program pertukaran pelajar guna meningkatkan kualitas para anak didiknya.

Salah satunya ke Kingspoint Academy, di mana saat itu ada kerjasama yang era tantara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) mengenai pendidikan maritim. Selama menjadi Direktur AIP, ia kerap mengadakan kerjasama pendidikan maritim dengan Amerika Serikat yang diwakilkan oleh Profesor Raymond Eisenberg sebagai ketua untuk mengefektifkan AIP.

Kemudian Eisenberg menunjuk Profesor C.L Souebier sebagai ketua Departemen Mesin. Selain itu ada Kolonel O.Carlson serta Letkol Jhon.H.Ladage sebagai ketua Departemen Nautika. Pada tahun 1959 tiga instuktur bergabung di antaranya Letkol Myron Thomas dan Profesor Michael Bishansky sebagai pengajar steam engineering/mesin uap. Selanjutnya  ada Profesor Edward Low dan Wen Berger yang mengajar mesin diesel. Mereka mengajar selama 6 bulan.

Baca Juga:

Sedangkan Mek Slamet Wibowo sebelumnya juga dikirim ke Kingspoint Academy untuk kursus selama 6 bulan di sana. Ia pun pernah menimba ilmu di Hawaii dalam rangka observer dan kursus Coast Guard.

Menurut ulasannya saat wawancara dengan Kasubdisjara Dispenal Kolonel Laut (P) Rony Turangan pada tahun 2016, AIP saat itu terdapat 11 pengajar dari US Merchant Marine Academy (USMMA). Capt. Mek Slamet Wibowo juga mengusulkan program sekolah tiga tahun menjadi empat tahun dengan rincian teori 3 tahun dan proyek laut 1 tahun.

Praktik laut sudah tidak lagi di kapal latih MV Bimasakti tapi dimasukan dalam perusahan-perusahan pelayaran selama 1 tahun. Menurut Wen Berger pola ini yang cocok untuk pendidikan maritim di Indonesia. Karena dengan seperti itu, pengenalan kadet terhadap praktik pelayaran dalam bidang perniagaan berlangsung cepat.

Capt. Mek Slamet Wibowo menceritakan ada program dari Amerika Serikat dengan  menginginkan calon perwira-perwira AIP yang lulus dari Kingspoint Academy agar sistem yang dibuat oleh pengajar dari US Merchant Marine di AIP dapat berlangsung dengan baik.

Maka diadakanlah seleksi dari 49 calon perwira pelayaran AIP yang dites dan yang berhasil hanya 7 orang. Ketujuh calon perwira itu ialah Gustaf Adrian Matakupan (Nautika), William Pieter Lumintang (Nautika), Rozaimi Jatim (Nautika), Frederik.Pattiwael (Nautika), Osten Bonataon Sianipar (Mesin), Nansen Maraganti Harahap (Mesin) dan Mohammad Zaenuri (Mesin).

Mereka mendapat sebutan “The magnificent seven” sebagaimana disampaikan Admiral Gordon Mc Lintock – USMMA Superintendant.

Di mata Capt. WP Lumintang, salah satu dari ketujuh taruna AIP yang dikirim ke Kingspoint Academy menuturkan bahwa banyak kenangannya bersama alamrhum. Ia pun begitu terharu kala mendengar tokoh yang dihormatinya itu tutup usia.

Satu hal yang masih melekat dalam ingatannya ialah ketika menjabat sebagai Direktur AIP, almarhum dikenal celana putih pendeknya yang khas. Almarhum juga selalu turun ke lapangan memantau para taruna berlatih.

“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Capt. M.S. Wibowo, guru saya, mantan Direktur AIP yang kedua, yang terkenal dengan ‘celana putih’ pendek. Bon voyage on your last voyage senior,” ungkap Lumintang dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Kemudian saat dirinya menempuh pendidikan di Kingspoint Academy pada tahun 1961, pesan yang diingat oleh Lumintang dari Capt. Mek Slamet Wibowo ialah mengenai pentingnya belajar dengan tekun dan menjaga nama baik bangsa Indonesia.

“Dengan almarhum kami bertujuh tidak banyak interaksi. Kami praktis hanya di tingkat satu setelah itu Sea Project selama lebih kurang setahun. Kami dites untuk Kingspoint dan berangkat ke Kingspoint bulan September 1961. Yang saya ingat betul almarhum sangat disiplin, jarang duduk di meja direktur, terus keliling memeriksa kompleks,” kata Lumintang.

“Tentang almarhum yang selalu memeriksa keadaan kompleks karena menginginkan kebersihan dan kerapihan. Almarhum tidak mentolerir ketidakaturan,” pungkasnya.

Begitulah sekelumit kisah kepemimpinan Capt. Mek Slamet Wibowo yang diingat oleh Sang Murid Capt. WP Lumintang. Hingga akhir hayatnya, Capt. Mek Slamet Wibowo selalu memikirkan masa maritim Indonesia, khususnya dunia kepelautan. (Tyo)