Keluarga dari 10 ABK yang Hilang di Perairan NTB Putus Asa

0
386

Gresik (Samudranesia) – Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, itulah nasib yang dialami keluarga Anak Buah Kapal (ABK) TB Immanuel WGSR 3 yang dikabarkan hilang sejak 31 Juli 2020 di perairan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hingga kini nasib 10 ABK tersebut tak diketahui kabarnya.

Berbagai cara telah ditempuh oleh keluarga untuk menemukan dan mengetahui nasib 10 ABK yang hilang bersama TB Immanuel WGSR 3 yang saat diberangkatkan dari Pelabuhan Gresik pada 21 Juli 2020 menggandeng Kapal Tongkang AP 610 bermuatan bahan kontruksi bangunan dengan tujuan Pelabuhan Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Entah harus bagaimana lagi saya mencari suami saya. Sebab dari informasi yang saya dapat, Basarnas Makassar telah resmi menghentikan proses pencarian TB Immanuel WGSR 3 sejak 16 Agustus lalu,” kata Fitriana, istri Robby Dwi Permadi, salah satu ABK yang hilang.

Fitriana beserta beberapa perwakilan keluarga ABK yang hilang lainnya juga telah meminta bantuan kepada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Gresik untuk bertemu perwakilan PT Wahana Gemilang Samudera Raya (WGSR) selaku pemilik TB Immanuel WGSR 3.

Pada pertemuan yang digelar di Kantor KSOP Gresik, Senin (7/9/2020) para keluarga ABK yang hilang menuntut pembayaran gaji ABK yang belum dibayar selama 2 bulan. Selain itu, jika memang TB Immanuel WGSR 3 beserta 10 ABK telah dinyatakan hilang atau meninggal dunia, maka pihak keluarga meminta kompensasi kepada perusahaan.

“Sesuai peraturan dan perundang-undangan, ABK yang meninggal akibat korban kecelakaan kapal akan mendapat kompensasi dari perusahaan minimal Rp 150 juta per orang. Ini yang sedang kami perjuangkan bersama,” ucap Amalia Fajrin, juru bicara keluarga korban ABK saat dihubungi samuderanesia melalui telepon, Sabtu (19/9/2020).

Kasi Keselamatan Berlayar Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Gresik, Capt Masri T Randa Bunga, yang sejak awal menjadi rujukan para keluarga ABK untuk membantu menyelesaikan masalah ini sangat berharap pihak PT WGSR punya komitmen kuat untuk melaksanakan kewajibannya dengan memenuhi hak-hak yang seharusnya diterima oleh keluarga ABK yang hilang.

“Saya berharap PT WGSR benar-benar serius untuk memenuhi kewajibannya kepada keluarga ABK yang hilang. Jika belum bisa memberikan kompensasi, minimal bayarlah dulu tunggakan gaji ABK. Kasihan keluarga ABK ini, anak istrinya pasti sangat mengharapkan gaji untuk keperluan hidup sehari-hari,” ujar Masri.

Namun harapan keluarga ABK untuk bisa segera mendapatkan hak-haknya sepertinya masih jauh dari harapan. Sebab menurut keterangan I Putu Agus, perwakilan PT WGSR yang menjadi mediator antara keluarga ABK dengan PT WGSR mengungkapkan, jika saat ini pemilik PT WGSR yakni dengan inisial WG dikabarkan sedang ditahan di Mapolres Gresik dalam kasus yang lain.

“Saya ini hanyalah seorang mekanik yang ditunjuk PT WGSR untuk berkomunikasi dengan keluarga ABK. Jadi saya hanya bisa menampung aspirasi keluarga ABK untuk saya sampaikan pada manajemen perusahaan. Dan yang bisa memberikan keputusan adalah Pak WG selaku owner kapal, namun saat ini beliau ditahan di Mapolres Gresik karena kasus yang lain,” kata I Putu Agus.

Seperti yang dikabarkan TB Immanuel WGSR 3 dengan 10 ABK menarik kapal tongkang AP 610 bermuatan bahan konstruksi bangunan bersama 2 orang ABK. Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Gresik pada 21 Juli 2020 dengan Tujuan Pelabuhan Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun pada 31 Juli 2020 kapal itu kehilangan kontak di Perairan Bima. Kemudian pada Kamis, 6 Agustus 2020 sekitar pukul 18.00 Wita, Polairud Polres Pangkep, Sulawesi Selatan, mendapat laporan dari nelayan Pulau Kembang Lemari menemukan kapal tongkang AP 610 bersama 2 orang ABK bernama Hamzah dan Lukman.

Saat ditemukan, kapal tongkang AP 610 terdampar di 3 mil barat daya Pulau Sarege, Sapukka, Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkep.

Dari pengakuan Hamzah, Kapal TB Immanuel WGSR 3 terbakar di perairan Bima pada 31 Juli 2020 jam 03.00 Wita. Akibat kebakaran tersebut tali penarik tongkang terputus sehingga tongkang tersebut hanyut tanpa arah.

Dan pada Rabu (12/8/2020) tongkang tersebut ditemukan oleh 8 nelayan asal Kepulauan Pagerungan Besar di Perairan Sagento, Sapeken, Sumenep, Madura. Penemuan tongkang tersebut kemudian dilaporkan ke Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Sapeken.

Berkat laporan nelayan asal Kepulauan Pagerungan Besar tersebut, tongkang AP 610 akhirnya berhasil diamankan. Sedang nasib TB Immanuel WGSR 3 beserta 10 ABK hingga kini masih belum diketahui kabar dan nasibnya.

Adapun 10 ABK Kapal TB Immanuel WGSR 3 yang hingga kini masih belum diketahui nasibnya adalah Rustam Efendi (Nahkoda), Robby Dwi Premadi (Mualim 1), Ahmad Mahfutson (mualim 2) dan Ahmad Efendi (KKM).

Kemudian Denis Taditya Ermandra (Masinis II), Bayu Santoso (masinis III), Arief Damar Jumanto (Juru mudi), Rahmad Hermawan ( juru mudi), Sahir Juana (Juru mudi) serta Medy Yosua K Sllay (juru masak).(SAH)