Kantong Plastik, “NO”, Tas Belanja, “YES”

0
61
Dok. buletindewata.com

Jakarta (Samudranesia) – Sudah selayaknya kalau mulai sekarang kita berpaling, sekaligus mengatakan dengan tegas “no” untuk kantong plastik. Soal alasannya tentu hampir setiap orang tahu mengapa kita harus segera meninggalkan jauh-jauh benda tersebut. Sekadar mengingatkan, pemakaian kantong plastik sudah menjadi tren sejak beberapa dekade belakangan ini. Pemanfaatannya yang secara masif boleh dibilang nyaris tak terkendali.

Bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari, plastik atau kantong plastik digunakan tak hanya oleh individu, tapi juga secara massal oleh komunitas atau organisasi. Bentuk penggunaannya pun beragam tentu saja dalam skala besar. Contoh di dunia industri, plastik digunakan untuk pelbagai keperluan, salah satunya untuk packaging. Dan, pemakaian plastik di sektor ini terbilang sangat besar. Bahkan, bukan tak mungkin menempati posisi teratas ketimbang sektor-sektor lain. Karena, bukan rahasia lagi sektor industri bukan hanya soal packaging, tapi banyak lagi bagian lain dari hilir hingga hulu.

Sektor industri jelas bukan satu-satunya yang banyak melibatkan plastik sebagai bagian dari aktivitasnya. Banyak sektor lain yang tak kalah gencarnya dalam memanfaatkan benda ini, sebut saja misalnya perdagangan atau trading. Di luar itu, aktivitas rumah tangga boleh dibilang termasuk yang tingkat pemakaian plastiknya sangat besar. Nyaris di semua aktivitas rumah tangga kerap menggunakan plastik. Mulai dari packaging hingga untuk kantong belanja. Untuk yang terakhir, memang ada kaitannya dengan pihak lain, semisal toko swalayan yang masih gencar menggunakan plastik sebagai atau kantong pembawa barang belanjaan.

Bisa dibayangkan, bila masyarakat secara global, baik individu maupun secara organisasi menggunakan kantong plastik. Apalagi dengan jumlah pemakaian yang tidak main-main. Dan, dalam kasus ini bukan proses pembuatan plastik itu yang jadi persoalan, melainkan pascapemakaian. Sudah menjadi rahasia umum setelah digunakan kantong plastik kerap dibuang secara sembarang. Perilaku kurang baik ini tentu akan berakibat buruk. Bisa dipastikan, akan terjadi penumpukan dan efeknya membuat tanah menjadi tak subur. Lain lagi, jika dibuang ke laut, selain akan mencemarkan laut, tak jarang plastik ini dimakan oleh hewan laut, seperti hiu dan paus. Makanya, sering muncul berita ikan hiu atau paus kedapatan mati dan setelah dibedah perutnya penuh dengan sampah plastik.

Fakta bahwa plastik itu berdampak negatif bagi kehidupan memang sulit dibantah. Dan, fenomena ini tentu harus segera diakhiri, jika tak ingin akibat yang lebih parah menghancurkan hidup manusia. Asal tahu saja, sekarang ini masalah sampah plastik khususnya sudah sangat memprihatinkan. Karena sudah sangat merusak lingkungan baik di darat maupun di lautan. Alhasil, produktivitas sektor lain pun jadi terganggu.

Terkait sampah plastik, Indonesia harus diakui punya persoalan yang sangat serius. Berdasarkan informasi, Indonesia adalah negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Mencapai 9 juta ton lebih atau 14 persen dari total sampah yang ada sebanyak 68 juta ton. Memang penduduk Indonesia terbilang sangat besar, pada  2020 berkisar 270 juta jiwa, posisi keempat terbesar dunia. Tapi, bukan berarti harus menjadi penghasil sampah terbesar kedua dunia kan? Pasalnya, Amerika Serikat dan India yang penduduknya melebihi Indonesia produksi sampahnya terbilang kecil.

Lantas, apa yang membuat Indonesia jadi begitu? Kalau mau jujur, harus diakui persoalan mendasarnya adalah kesadaran masyarakat yang sangat rendah. Kesadaran untuk mengelola sampah dengan bijak. Fakta di lapangan menunjukkan banyak masyarakat yang membuang sampah sembarang. Sekaligus, kesadaran untuk penggunaan ulang (reuse) pun minim. Padahal, dari langkah ini diharapkan akan menghambat lajunya produksi sampah. Sebenarnya untuk mengatasi darurat sampah secara teori terbilang simpel. Karena ini hanya menyangkut masalah kesadaran masyarakat, mau atau tidak mereka berpaling dari kantong plastik dan beralih ke tas belanja saat shopping misalnya. Bukan itu saja, dalam kepentingan yang lebih luas pun mereka harus berani mengatakan “no” buat kantong plastik.

Di sisi lain Pemerintah pun diharapkan turun tangan, utamanya dalam menerbitkan regulasi. Regulasi yang tidak memberikan peluang bagi penggunaan plastik secara bebas. Dengan begitu para pengusaha retailer misalnya, tidak lagi mengeluarkan plastik dengan gampang untuk mengemas barang dagangannya. Sebaliknya, masyarakat pun sebagai konsumen harus punya keberanian menolak penggunaan kantong plastik untuk barang yang dibelinya. Terakhir, yang tak kalah krusialnya, pengawasan. Ini tentu perlu, demi lancarnya pelaksanaan regulasi yang telah dibuat. (Guss)