INSA: Kami Tidak Takut Bersaing dengan Asing

0
71
Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto

Jakarta (Samudranesia) – Wacana penghapusan azas cabotage yang tengah bergulir saat ini melalui revisi UU No.17/2008 tentang Pelayaran mendapat penolakan dari banyak pihak. Masalah kedaulatan nasional menjadi alasan dasar mengapa azas tersebut tidak boleh dihapus.

Hal tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Ketua Umum INSA (Indonesia National Shipowners Association) Carmelita Hartoto saat ditemui di Jiexpo Kemayoran beberapa hari lalu. Menurutnya yang menolak untuk azas ini dihapuskan bukan hanya INSA saja, tetapi banyak kalangan yang menjunjung tinggi jiwa nasionalisme juga akan menolak.   

“Saya rasa pemerintah pun harus menolak itu. Ini kan (cabotage) masalah kedaulatan dan itu jadi harga mati. Saya kira sudah tidak ada lagi yang tidak mendukung itu. Kalau ada yang tidak mendukung kan berarti artinya memang tidak menginginkan negara ini ter-cover,” kata Carmelita.

Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Perhubungan ini mencontohkan jika terjadi masa-masa darurat di dalam negeri, tidak menjamin kapal-kapal asing akan bertindak untuk kepentingan nasional. Maka dari itu sudah seharusnya perairan Indonesia didominasi oleh kapal-kapal berbendera Indonesia.

Perihal penghapusan azas ini bergulir disinyalir karena dianggap sebagai penghalang masuknya investasi asing. Pihak yang tengah membahas ini di antaranya adalah DPD RI. Di sisi lain, Pemerintah Pusat juga menghendaki akan merevisi seluruh peraturan yang mempersulit investasi asing, sehingga azas cabotage disebut-sebut terkena sebagai peraturan yang akan dihapus.

Menanggapi itu, Carmelita menegaskan kembali bahwa dalam memajukan pelayaran nasional pihaknya tidak membutuhkan invetasi (asing). Sambung dia, yang terpenting pemerintah harus menunujukan sikap keberpihakannya kepada pelaku usaha pelayaran nasional melalui infrastrukturnya.  

“Yang penting adalah pemerintah bagaimana memberikan infrastruktur dengan cara memberikan pembiayaan, infrastruktur yang single digit gitu. Dengan begitu akan mempermudah kita untuk berinvestasi lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Sementara ada asumsi lain yang menyebutkan bahwa perusahaan pelayaran dalam negeri masih jauh dari profesional sehingga dituntut untuk membenahi dirinya. Dengan demikian ada anggapan bahwa perusahaan pelayaran nasional takut bersaing dengan asing dan bergantung pada azas cabotage.

Mendengar itu pun Carmelita menjawab dengan tegas bahwa pihaknya tidak sama sekali takut bersaing dengan asing. Baginya azas cabotage wajib dipertahankan karena menyangkut kepentingan nasional.

“Loh bukan takut bersaing, kan kalau kita masuk ke negaranya (asing) juga kita enggak boleh. Kita enggak boleh bersaing masuk ke negaranya mereka, lalu kenapa kita dipertanyakan apakah kita takut bersaing atau enggak? Tidak, bukan itu. Kalau kita diberikan infrastruktur yang rendah pun kita juga tidak takut bersaing dengan mereka (asing),” tandasnya. (Tyo)