Ini Catatan Adharta Ongkosaputra Terkait Covid-19

0
1255
Adharta Ongkosaputra berada di ruang ICU RSPP Simprug, Minggu (2/8).

Jakarta (Samudranesia) – Di tengah perjuangan melawan pandemi Covid-19 dengan berbagai aktivitasnya dalam menyalurkan alat kesehatan (alkes) dan menggalang bantuan, kini praktisi pelayaran dan logistik Indonesia, Adharta Ongkosaputra tengah menjalani perawatan intensif di RSPP Simprug.

Ketua Dewan Pembina Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) itu dirawat sejak Senin 27 Juli 2020 setelah dinyatakan positif terkena Covid-19. Kepada Samudranesia, Adharta mengungkapkan kondisinya saat ini. Ia pun terlihat tabah menghadapi ujian ini serta tidak henti-hentinya mengingatkan untuk menjaga kesehatan.

Adharta yang juga CEO PT Aditya Aryaprawira menceritakan sedikit kronologis kejadian sebelum dirinya dinyatakan positif Covid-19.

Sekira seminggu yang lalu, di sore hari menjelang senja, ia mampir di sebuah kafe di tepi laut di ufuk Jakarta Sambil menikmati orang main sky ia menyantap pisang goreng sembari mendengarkan alunan lagu. Yang kebetulan waktu itu, lagu yang ia dengarkan bercerita soal Corona.

“Saya makan pisang goreng sambil dengar ada lagu Corona. Isinya (soal imbauan) pakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Saya tidak tahu penyanyinya siapa tapi sepertinya seorang jenderal,” ujar Adharta penuh canda, Minggu (2/8).

Ketua Dewan Pakar Alumni Universitas Prasetia Mulya ini menuturkan sejak Februari 2020, dirinya aktif membantu pemerintah dalam penanganan Covid-19 bersama BNPB.

“Sahabat saya ketuannya dan baik sekali orangnya. Kami bersama sama berjuang dengan tekad melawan Covid-19. Bersama tim BUMN kami menggalang sumbangan dari Tiongkok

Berupa Masker APD Ventilator PCR Kit dan Obat Obatan. Sembilan kali pesawat terbang dari Shanghai Putong penuh sumbangan juga dari Chengdu dan Guangzhou bersama para Konjen dan Duta besar luar biasa berkuasa penuh untuk Tiongkok Bapak Djauhari Oratmangun,” jelasnya.

Adharta menceritakan perjuangan mereka tiada lelah dalam membantu mobilisasi barang-barang bantuan. Begitu ketatnya serta sulit sehingga banyak hambatan yang harus dilewatinya.

Ia pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Menteri BUMN dan Wakil Menteri BUMN, serta Menteri Luar Negeri. Begitu pula kepada Ketua Yayasan BUMN, para direktur Rumah sakit BUMN yang semuanya telah bahu membahu dan bekerja keras.

“Sambil menikmati pisang goreng saya berpikir bagaimana bisa mengatasi Covid 19 dengam efektif. Obat belum ada, vaksin belum ada, walau saya berjuang untuk bisa mendapatkan beberapa macam obat sampai jemput dengan pesawat di Mumbai, India,” ucap Adharta yang juga merupakan Dewan Penyantun Universitas Atmajaya Yogyakarta tersbeut.

Bersama Menteri BUMN Erick Thohir, Adharta bahu-membahu melawan pandemi Covid-19 lewat penyaluran bantuan/Dok Pribadi

Sambungnya, para Direksi Garuda Indonesia juga sudah bekerja keras. Begitu juga Direksi Sriwijaya air, para Crew Pilot dan ground handling.

“Sambil menatap jauh ke ufuk horison, saya tidak menemukan jawaban. Beberapa saat lalu bersama teman-teman di RSPP dan Patra Jasa, aku memikirkan adanya rumah sakit NPI tapi sangat mahal walaupun bisa dikerjakan secara singkat waktu. Tidak lupa Pak Ahok juga bantu memikirkan dan akhirnya berhasil dibangun rumah sakit NPI RSPP IHC di Simprug di atas lahan Futsal tapi cukup baik,” kenangnya.

Hingga saat ini, ia pun masig belum menyangka ketika Minggu lalu dirinya dinyatakan terkena Covid-19 walaupun seluruh prosedur sudah diikutinya.

“Protokol kesehatan juga lengkap tapi tetap saya kena infeksi virus Corona. Saya cukup bersyukur karena cuma saya yang terinfeksi. Anak mantu istri cucu-cucu semua aman dari Covid 19,” ungkapnya lagi.

Adharta yang aktif sebagai Ketua bidang transportasi Asosiasi Pertambangan Indonesia ini, kendati terbaring di ruang ICU VIP RSPP Simprug tidak henti-hentinya berfikir bagaimana bisa melawan Covid-19.

“Vaksin Sinovac, Obat Avigan, semua sudah tersedia tapi belum terlalu efektif, korban terus berjatuhan di depan mata saya. Satu hal yang saya masih bisa berharap adalah Rumah Sakit

Kita ada di Jakarta lalu bagaimana dengan Maluku, Papua, NTT, begitu kalau ada serangan virus maka semua akan lumpuh total, karena sarana dan prasarana tidak ada. Jadi itulah menjadi pikiran dan cita-cita saya, bagaimana bisa mempersiapkan Rumah sakit di Indonesia bagian timur,” terangnya.

Kini dirinya masih diisolasi di ICU RSPP dengan ketat dan tidak bisa berjumpa dengan siapapun.

“Kondisi juga kurang bagus tapi begitu banyak doa dan harapan dari teman teman saya sehingga merasa kuat dan pasti bisa melewati masa sulit ini. Terakhir saya terus berdoa agar para pakar ahli mikrobiologi bisa menemukan vaksin dan obat supaya makin banyak orang bisa tertolong dari bahaya Covid-19 ini,” pungkas Adharta.

Segenap tim redaksi Samudranesia berdoa terhadap kesembuhan orang tua kami, sahabat kami, Bapak Adharta Ongkosaputra. Semoga ia bisa berkativitas seperti sedia kala dalam dedikasinya membangun kemaritiman bangsa Indonesia. (Tyo)