Industri ‘Cold Chain’ di Indonesia Kian Menggeliat

0
252
Ilustrasi Foto: Industri farmasi termasuk dalam industri cold chain. Dok Foto: farmasiindustri.com

Jakarta (Samudranesia) – Industri cold chain atau atau sistem rantai dingin pada industri logistik di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi dalam Seminar dan Pertemuan Dagang Cold Chain Brands Taiwan- Indonesia berpandangan bahwa pertumbuhan cold chain juga dipicu dengan meningkatnya kegiatan pengiriman industri farmasi, komoditi pertanian dan barang konsumsi.

“Tingkat pertumbuhan itu didorong kian menggeliatnya populasi atau penikmat e-commerce yang sekarang ini cenderung memilih berbelanja secara online termasuk untuk kebutuhan bahan pokoknya seperti makanan, minuman dan sejenisnya,” kata Yukki dalam seminar virtual yang diselenggarakan oleh Dewan Pengembangan Perdagangan Eksternal Taiwan (TAITRA), Kamis (18/9/2020).

Bahkan, Yukki mengatakan, terlepas dari kondisi Pandemi Covid-19 saat ini, bahwa pertumbuhan industri cold chain di dalam negeri setiap tahunnya rata-rata mencapai 4 hingga 6 persen.

“Peningkatan permintaan makanan dan minuman beku serta bangkitnya waralaba di dalam negeri juga menjadi faktor tersendiri dalam berkontribusi menumbuhkan indutri cold chain di Indonesia,” terang dia.

Yukki mengungkapkan pasar cold chain secara global, khususnya yang diproyeksikan berasal dari kebutuhan konsumen maupun pertanian dan perikanan pada tahun 2030 masing-masing bisa mencapai 1.070 milliar Dolar AS dan 450 milliar Dolar.

“Bahkan pada 2030, menurut Mckinsey, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar terbesar ketujuh di dunia, lantaran populasi konsumennya yang mencapai ratusan juta jiwa,” ungkapnya.

Ketum DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi

“Tidak bisa dipungkiri bahwa permintaan produk melalui e-commerce juga menopang pasar logistik, sebab dengan permintaan produk yang tinggi maka pengiriman akan meningkat,” tambahnya.

Peluang dan Tantangan

Maka dari itu, Yukki mengingatkan supaya para pebisnis di industri cold chain dapat melakukan investasi serta perluasan pasar, salah satunya dengan menambah kantor cabang atau perwakilannya seiring dengan meningkatnya aktivitas industri itu di dalam negeri.

Selain itu, sambung Yukki, peningkatan permintaan terhadap produk yang mudah rusak dan pengiriman cepat turut mendorong aktivitas logistik ekspres dan cold chain yang mengarah pada tingginya kebutuhan fasilitas pergudangan di Indonesia.

Ia menjelaskan pasar logistik cold chain di Indonesia kini digarap oleh beberapa perusahaan terkemuka antara lain; Diamond Cold Storage, Kiat Ananda Cold Storage, MGM Bosco, Dua Putera Perkasa, GAC Samudera, dan Adib Cold Logistics

“Bahkan untuk lima tahun kedepan, pasar cold chain Indonesia diperkirakan akan tumbuh 8-10 persen lantaran bermunculan permintaan baru,” bebernya.

Baca Juga: Ketum ALFI: Kehadiran Mata Kuliah Akuntansi Logistik Sangat Penting

Berdasarkan karaktetistik industri cold chain, Yukki menyebut pertumbuhan pasar pada industri itu seiring dengan peningkatan barang-barang yang mudah rusak termasuk makanan beku, farmasi, daging, makanan laut dan produk susu.

“Karakter logistik cold chain di Indonesia sebagian besar adalah business to business (B2B) meskipun permintaan business to customer (B2C) cukup banyak akhir-akhir ini,” bebernya lagi.

Yukki juga mengatakan diperlukan standard operasional prosedur (SOP) yang tersistem baik dan perangkat pendukungnya, terutama terhadap komoditi pertanian dan perikanan melalui penyimpanan dan pengiriman yang berkualitas.

Kendati demikian, Yukki menjelaskan, di balik potensi bisnis cold chain juga terdapat berbagai tantangan seperti menyangkut teknologi untuk sistem pengiriman, maupun asuransi penyedia layanan, serta terbatasnya platform e-commerce yang menginformasikan kemampuan cold chain.

“Apalagi, jumlah kegagalan logistik dalam penyimpanan dan distribusi tetap tinggi yakni masing-masing 10 persen dan 20 persen,” tuturnya.

Baca Juga: Selamatkan Logistik Nasional, ALFI dan Organda Minta Pemerintah Tinjau Kembali Pembentukan BUAM

Oleh karena itu, Yukki  mengingatkan, diperlukan kolaborasi dan kemauan yang kuat dari pemerintah, industri, serta lembaga pendidikan untuk mempromosikan dan meningkatkan keunggulan industri cold chain di Indonesia.

Sebagai solusi, ALFI juga mengusulkan ke pemerintah RI untuk mengembangkan cold chain yakni; perbaikan sarana dan prasarana untuk menampung hasil pertanian dan perikanan, menyiapkan connected hub and spoke dalam transportasi maupun distribusi untuk menjaga kualitas produk dan efisiensi.

Selain itu, Yukki menambahkan perlunya mempersiapkan platform pendidikan berbasis IT yang lebih kuat dan adanya regulasi yang mengatur pasar serta industri terhadap pertumbuhan produk pertanian.

Masih kata Yukki, di tataran global, Taiwan telah dikenal sebagai produsen kualitas pertanian dan perikanan yang sukses dengan segudang pengalaman dan teknologi yang andal.

“Kami berharap industri cold chain Indonesia dapat belajar dan mereplikasi kesuksesan tersebut. Melalui seminar ini diharapkan agar kedua belah pihak dapat meningkatkan kerja sama,” pungkasnya. (Tyo)