Impor Barang itu Mudah

0
1730
Ilustrasi Foto: Istimewa

Oleh: DR Dayan Hakim*

Era keterbukaan informasi membuat banyak sekali produk dari luar negeri yang biasanya diperoleh dari toko/distributor sekarang dapat diperoleh langsung dari produsennya di luar negeri. Bila kita hanya membeli produk seukuran 30x30x30cm mungkin tidak masalah karena pengiriman paket melalui JNE, DHL ataupun UPS yang sangat mudah.

Kita tinggal tunggu di rumah dan bayar tagihan PPN bila ada. Namun bagaimana bila produk yang kita inginkan berukuran besar padahal kita hanya ingin membeli sekali itu saja? Untuk pengusaha pabrik atau pedagang barang impor, mungkin hal ini sudah menjadi pekerjaan rutin, tapi tidak bagi masyarakat umum.

Padahal barang tersebut amat kita butuhkan segera. Untuk itu, perlu dipahami bagaimana melakukan prosedur impor barang dari luar negeri. Prosedur impor barang dari luar negeri itu mudah dan tidak mahal.

Langkah pertama adalah menghubungi si pemilik barang di luar negeri, apakah itu toko atau pabrik atau perorangan. Negosiasikan harga dasar barang dan cara penyerahan. Ada beberapa cara penyerahan yakni jika penjual memakai FOB (Free on Board) maka pembelian barang dimana semua Biaya Pengiriman atau O/F (Ocean Freight), Asuransi dan Harga Barang dibayarkan setelah kapal sampai di pelabuhan bongkar.

Selain itu, ada pula CFR (Cost and Freight) yakni penyerahan barang di mana pemasok menyerahkan barang setelah barang melewati batas pagar kapal di pelabuhan pengapalan dalam keadaan sudah mendapat izin ekspor, tetapi biaya pengangkutan sampai ke pelabuhan tujuan tetap menjadi kewajiban Pemasok. Ada pula CIF (Cost Insurance and Freight) yakni sistem pembelian barang di mana Biaya Pengiriman, Asuransi dan Harga Barang Anda bayarkan sebelum kapal berangkat di pelabuhan muat.

Cara lain adalah DDP (Delivered Duty Paid) yakni penyerahan barang di mana pemasok harus menyerahkan barang di suatu tempat yang Anda tunjuk dan berada di dalam wilayah kewenangan Anda dengan kondisi seluruh formalitas kepabeanan telah diselesaikan oleh Penjual (door to door service). Yang terakhir adalah FAS (Free Alongside Ship), yakni penyerahan barang dimana Pemasok wajib menanggung biaya dan resiko sampai dengan penyerahan barang disamping kapal di pelabuhan pengapalan dalam keadaan yang sudah mendapat izin ekspor, dan sebagainya.

Selanjutnya, kita hitung biaya tambahan yang harus dikeluarkan dari titik penyerahan sampai dengan tempat kita. Untuk itu dibutuhkan data produk yang akan di impor yakni spesifikasi, bobot dan dimensi.

Hal ini diperlukan untuk menghitung lama pengiriman dan dokumen tambahan yang diperlukan. Yang paling mudah adalah dengan menyerahkan kepada freight forwarder lokal. Tapi bila kita mau mengurus sendiri juga tidak terlalu sulit.

Setelah itu kita negosiasikan cara pembayaran (term of payment). Ada penjual yang minta pembayaran tunai, ada yang minta uang muka 30 persen dan sisanya dibayar bila barang telah diterima dan ada pula yang minta pembayaran dengan Letter of Credit. LC merupakan cara pembayaran internasional yang menjadikan memungkinkan seorang eksportir menerima pembayaran langsung tanpa menunggu berita dari luar negeri.

Pembayaran tersebut akan diterima setelah barang dan berkas dokumen dikirimkan ke luar negeri atau kepada pemesan. Purchase Order yang kita buat dan konfirmasi dari penjual kemudian kita serahkan ke bank untuk diproses. LC yang diterbitkan kemudian dikirimkan ke penjual. Selanjutnya penjual akan menyerahkan barang pesanan kita ke freight forwarding setempat.

Dari freight forwarding di sana kita akan menerima satu set dokumen berupa commercial invoice, bill of lading (BL) atau Airway Bill (AWB), packing list, certificate of origin dan surat keterangan lain dari instansi disana misalnya surat keterangan karantina, surat keterangan limbah, surat keterangan barang berbahaya (DG) atau apa pun yang menjelaskan mengenai produk yang kita impor. Satu set copy dokumen tersebut kita serahkan ke bank sebagai dokumen pendukung LC sedangkan yang asli kita pergunakan untuk mengurus penyerahan barang di pelabuhan.

Selanjutnya kita mengisi form Pemberitahuan Impor Barang (PIB) di Bea Cukai. Meski kita mengurus sendiri tetap harus memakai jasa PPJK (Pengusaha Pengurus Jasa Kepabeanan) untuk dapat melakukan input PIB ke dalam sistem Bea Cukai. Setelah diketahui pajak impor yang terutang kemudian dilunasi pembayarannya ke Bank.

Setelah barang tiba di pelabuhan Bill of Lading yang asli, kita serahkan kepada maskapai pelayaran atau penerbangan untuk ditukar dengan Delivery Order (DO). Selanjutnya satu set dokumen impor termasuk DO, PIB dan surat setoran pajak (SSP) impor kita ajukan ke kantor Bea Cukai setempat untuk dikeluarkan custom clearance. Bea Cukai akan menetapkan jalur hijau, kuning, merah, atau jalur prioritas terhadap proses impor Anda.

Bila dianggap perlu Bea Cukai akan melakukan pemeriksaan fisik. Terkadang ada produk yang memerlukan surat keterangan dari kantor karantina. Selanjutnya Bea Cukai akan menerbitkan Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB). Dengan menyertakan DO dan SPPB tersebut kita dapat mengeluarkan barang impor kita dari gudang untuk kita bawa ke tempat kita,

Saat ini banyak anak-anak muda yang menjadi pengusaha pameran atau hiburan. Produk-produk yang akan dipamerkan atau peralatan hiburan yang canggih harus didatangkan dari luar negeri. Padahal barang tersebut hanya dipergunakan sewaktu pameran atau acara berlangsung dan selanjutnya dikirimkan kembali ke negeri asal.

Tidak perlu khawatir, ada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 140/Pmk.04/2007 Tentang Impor Sementara yang memberikan pembebasan pembayaran PPN impor. Pengurusannya di kantor Bea Cukai. Cukup mudah, terlebih bila sudah memiliki Surat Ijin Kegiatan dari instansi berwenang.

Mengacu pada penjelasan tersebut ternyata prosedur impor itu mudah. Dengan demikian diharapkan semakin banyak pengusaha muda yang go-international. Hal ini akan semakin mendorong kreativitas generasi muda untuk terus berkarya dan berusaha.

*Penulis adalah Pelaku Usaha Logistik