Imlek Pergi, Semoga Asa pun “Bersemi”

0
39

Jakarta (Samudranesia) – Imlek memerahkan seluruh pelosok negeri. Bisa jadi tak hanya di sini, nuansa merah pun mewarnai di banyak tempat di dunia. Warna khas yang sudah membudaya pada setiap momen pergantian tahun penanggalan Tionghoa. Bisa dibayangkan, betapa nuansa merah nampak begitu dominan di banyak tempat, khususnya di wilayah yang menjadi konsentrasi warga keturunan Tionghoa.

Nuansa merah itu kian mentereng karena lampion-lampion yang tak kalah banyaknya seolah menjadi satu. Memang lampion harus diakui menjadi ornamen yang tak mungkin dipisahkan dalam perayaan Imlek. Kombinasi itu kian padu, seolah menjadi satu jalinan demi menciptakan perhelatan yang lebih meriah.

Baca Juga : Imlek, Bandeng, dan Tradisi Lamaran Betawi

Menghidupkan suasana Imlek dengan paradigma itu tentu bukan tanpa alasan. Ada filosofi yang tersembunyi di balik itu. Esensinya, warna merah bagi masyarakat Tionghoa adalah simbol pengharapan. Jadi, jelas pengharapan buat mereka merupakan kata kunci yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Logis, jika kemudian warna merah selalu mendominasi dalam setiap perhelatan Imlek.

Tak cukup sampai di situ. Jika ditelisik, masih banyak hal yang dilalukan demi mendukung terwujudnya harapan itu. Pengharapan dalam arti yang luas, tentu punya makna sekaligus tujuan yang banyak. Dan, itu biasanya disimbolkan melalui berbagai macam kegiatan. Karenanya dalam rangka menyambut Imlek sudah menjadi tradisi masyarakat keturunan Tionghoa melakukan pelbagai kegiatan yang dianggap krusial.

Mengawali serangkaian kegiatan menjelang dan pascaimlek masyarakat keturunan Tionghoa biasanya melakukan bersih-bersih rumah. Tradisi ini bertujuan membuang semua keburukan dan hal-hal negatif yang menghambat keberuntungan. Lalu, kumpul dan makan bersama sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan berdoa agar rezeki bertambah di tahun baru. Salah satu menu wajib yang harus disantap dalam kesempatan ini adalah “Yu sheng”. Makanan berbahan ikan plus sayuran yang diberi bumbu kayu manis, wijen, minyak ayam, lada putih dan saus plum. Ritual ini diklaim mewakili doa serta harapan dalam menjalani tahun berikutnya.

Kemudian dilanjutkan dengan sembahyang Imlek. Dilakukan sebelum Imlek. Sembahyang yang juga dikenal sebagai sembahyang leluhur ini biasanya disertai ritual penyajian  persembahan minuman dan makanan, teh dan arak. Lalu, keesokan paginya dilakukan sembahyang di klenteng, untuk memanjatkan syukur sekaligus minta perlindungan.

Lainnya adalah membeli barang-barang berwarna merah. Ini juga menjadi satu keharusan buat mereka. Warna merah selain menjadi simbol pengharapan, juga diyakini sebagai pembawa hoki. Dan, dua tradisi yang tak kalah pentingnya bagi-bagi angpao dan pesta kembang api serta petasan. Bagi-bagi angpao dipercaya akan memperlancar rezeki di kemudian hari sekaligus transfer energi dan kesejahteraan. Sedang pasang kembang api dan petasan simbol untuk mengusir nasib buruk di tahun sebelumnya dan harapan tahun baru yang lebih baik lagi.

Kegiatan yang nyaris tak pernah ketinggalan dan cukup menghebohkan adalah pertunjukan tarian niaga (liang liong)dan barongsai (singa). Kedua jenis tarian ini diyakini merupakan salah satu cara untuk mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu. Tak berlebihan jika Imlek merupakan event yang memiliki filosofi begitu dalam dan komprehensif, menyangkut hajat hidup yang luas. Tak heran, jika perhelatan Imlek selalu diikuti dengan pelbagai ritual yang seperti sudah terkonsep dengan matang. Wajar, kalau kemudian tumbuh harapan besar atas setiap tirual itu menjadi kenyataan. Semoga. (Guss)