Huhate, Memancing Cakalang yang Unik dan Ramah Lingkungan

0
163
Ist

Nelayan Larantuka, Nusa Tenggara Timur punya cara menangkap ikan, khususnya cakalang yang cukup unik. Caranya juga simpel, cukup dengan dipancing dari atas perahu yang didesain khusus. Dengan alat pancing yang sangat sederhana, atau malah bisa dibilang kuno, setiap nelayan ini mampu memancing cakalang 40 – 50 ekor per menit. Luar biasa. Alat pancing jauh dari kata modern, tapi mampu menangkap cakalang dalam waktu singkat dengan jumlah fantastis.

Itulah huhate, teknik memancing yang menjadi tradisi nelayan Larantuka, dan umumnya sebagian besar nelayan di Indonesia Timur. Dan, yang jadi sasaran utamanya adalah ikan cakalang. Meski tak jarang pula menyasar pada ikan lain, seperti tuna atau tongkol. Melihat teknik plus peralatannya, huhate atau disebut juga pole and line tentu sangat ramah lingkungan. Karena dalam praktiknya, selain tidak merusak lingkungan, juga tidak menyasar pada ikan-ikan kecil. Sehingga, bisa dipastikan kelestarian laut dan keberlanjutan sumber daya ikan akan tetap terjaga.

Lalu seperti apa sih alat pancing huhate itu? Yang jelas, jorannya dari bambu lentur, berukuran sekitar 2,5 m, berdiameter 3 – 5 cm pada bagian pangkal dan 1,5 – 2 cm di bagian ujung. Tali utamanya berbahan polyethylene diameter 0,5 panjangnya 1,5 – 2 m. Atau disesuaikan dengan panjang joran, teknik pemancingan, tinggi haluan perahu dan jarak penyemprotan. Tali sekunder monofilament berwarna putih sekitar 20 cm. Fungsinya, sebagai ganti tali utama jika terputus akibat digigit cakalang atau ikan lain.

Mata pancing atau hook bernomor 2,5 – 2,8 dan tidak berkait. Dilengkapi timah berbentuk silinder panjang 2 cm berdiameter 8 mm, dilapisi nikel yang mengkilap, untuk menarik perhatian cakalang. Di sisi luar silinder terdapat cincin, tempat mengikat tali sekunder. Di mata pancing dilapisi guntingan tali rafia berwarna merah, membungkus rumbia tali merah yang juga berwarna sesuai umpan tiruan. Pemilihan warna disesuaikan dengan warna ikan umpan yang juga berwarna merah.

Keunikan lain dari huhate adalah perahunya punya desain khusus. Pada bagian haluan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga para pemancing bisa duduk atau berdiri mengelilingi tepian kapal. Lalu, hampir seluruh tepian perahu dilengkapi instalasi pipa untuk menyemprotkan air (sprayer). Gunanya, untuk mengelabui cakalang. Plus, di dek terdapat sejumlah tempat penyimpanan umpan hidup.

Proses pemancingan

Tradisi huhate dimulai dari persiapan segala macam kebutuhan, termasuk umpan hidup, biasanya ikan teri. Baru setelah itu mencari posisi kawanan cakalang, oleh seseorang yang ditugasi mengintai, menggunakan teropong. Setelah diketahui posisinya, perahu pun diarahkan untuk mendekati mereka. Dan, para pemancing pun bersiap pada posisi masing-masing di sudut kiri-kanan haluan perahu. Perahu mendekati posisi ikan harus dari sisi kiri atau kanan, bukan dari belakang.

Setelah cakalang berada dalam jangkauan, umpan ditebar, dan ikan itu pun dituntun ke arah haluan

perahu. Umpan ditebar secepat mungkin, dan ikan pun mengikuti gerakan umpan menuju haluan. Bersamaan itu mesin penyemprot difungsikan, agar ikan tetap berada dekat perahu. Tapi, begitu kawanan cakalang sudah mendekati haluan, mesin perahu dimatikan. Lantas,  umpan yang ditebar mulai dikurangi untuk penghematan.

Pemancingan diupayakan secepat mungkin, demi menjaga kekhawatiran hilangnya kawanan cakalang secara tiba-tiba. Utamanya, jika ada ikan yang terluka dan berdarah atau lepas dari mata pancing. Di lain sisi, bisa dipastikan stok umpan ketika itu kian menipis. Logis, jika huhate  berlangsung tidak terlalu lama, hanya sekitar 15-30 menit. Dan, cakalang yang terpancing tak perlu dilepas dari mata pancing. Karena, mata pancingnya tidak berkait dan akan terlepas sendiri.

Terkait pemancing, dalam huhate biasanya dikelompokkan ke dalam pemancing kelas I. Mereka adalah para pemancing berpengalaman, dan ditempatkan di haluan kapal. Lalu, pemancing kelas II dan III, masing-masing ditempatkan di samping perahu, dekat haluan, dan agak jauh dari haluan. Pemancing kelas II dan III umumnya, mereka yang masih belajar, plus orang tua yang gerakannya sudah dianggap lamban. Dan, tempat mereka memancing dikenal dengan sebutan ”flying deck”.

Satu hal yang sangat tabu dalam huhate adalah ikan yang sudah terpancing, lalu terlepas dan jatuh kembali ke laut. Peristiwa ini tidak boleh terjadi, karena fatal akibatnya. Kawanan ikan itu bisa dipastikan akan kabur menjauhi perahu. Alhasil, mereka harus mencari kembali kawanan ikan yang baru. Ini artinya akan menghabiskan waktu lebih lama. Sekaligus, pemborosan stok umpan hidup yang ada.(Guss)