Henry Sutioso: Menguatkan yang Lemah Tanpa Melemahkan yang Kuat

0
61

Dalam rangka membangun kemaritiman Indonesia yang lebih maju dan mensejahterakan rakyat, Ketua Umum Komunitas Maritim Indonesia (Kommari) Henry Sutioso membagi wawasan dan pengalamannya dalam sebuah wawancara khusus dengan tim Majalah Samudranesia, di Jakarta, Kamis (1/8/2019). Dengan suasana santai dan penuh keakraban, Henry menceritakan perjalanan hidupnya sebagai pengusaha muda yang berkecimpung di bisnis perikanan serta harapannya bersama Kommari sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara khususnya di bidang maritim. Berikut petikan wawancaranya

Bagaimana Anda mulai tertarik dengan bidang perikanan?

Kalau boleh dibilang saya ini anak seorang nelayan. Ayah saya kelahiran Bagan Siapi-api, Sumatera Utara. Waktu kecil ayah banyak main di sungai, terus sudah ikut menarik jaring udang rebon untuk dibuat terasi. Waktu ayah berumur 16 tahun nenek saya meninggal, jadi beliau terjun langsung ikut kapal, dengan hanya modal nyali. Mulai dari menjadi Anak Buah Kapal (ABK) hingga usia 20 tahunan, hingga menjadi juru mesin kapal. Semua dilakukan secara otodidak. Hingga akhirnya beliau memiliki kapal sendiri hasil patungan keluarga.

Dari kecil saya termasuk anak yang gampang diatur. Saat umur 5 tahun, saya sudah diajak kemana-mana sama ayah saya. Dari situ, sepertinya mulai terbentuk jiwa saya yang suka turun ke lapangan. Kira-kira kelas 4 hingga 6 SD saya sudah mahir menggunakan komputer dan mulai membantu ayah saya membuat laporan dan memo tugas harian. Itu saya lakukan sampai saya SMA. Ayah saya hanya mendikte terus saya yang ngetik. Ya, waktu itu semua hal tentang perikanan hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan saya.

Singkat cerita saya kuliah di University of Southern California, jurusan Finance-Acounting Double Major. Saya sempat tak mau pulang kampung menjalani kehidupan seperti dulu. Namanya sudah biasa menjalani hidup di negara modern, saya berat untuk kembali panas-panasan di kampung. Hingga suatu saat Ayah saya mengatakan, ‘kamu sudah bantu saya dari muda, kamu lihat, dong, prospeknya, membangun negara Indonesia itu antara darat dan laut bisa kamu bandingkan, menurut kamu sudah full potensial belum, sudah tergarap 100 persen belum?’

Jadi akhirnya saya ikuti kemauan ayah saya dan saya pulang, itu tahun 2013.

Di masa Pak Jokowi Anda makin bersemangat membangun bisnis di sektor perikanan, walaupun kita tahu perjalanan 5 tahun pertama ini dunia kemaritiman kita masih banyak raport merahnya, bagaimana menurut anda?

Tahun 2015 saya sempat patah semangat karena banyak menemui kendala. Terutama aturan yang belum jelas. Kita akui, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti paling mengedepankan kedaulatan maritim Indonesia. Terutama dalam hal pemberantasan illegal fishing. Illegal fishing itu sudah diberantas dan kedaulatan kita tegak, saya pikir kita bisa 100 persen merdeka dan nelayan lokal dapat secara penuh memanfaatkan potensi maritim kita di perikanan, tapi saya lihat di lokalnya malah tambah banyak aturan yang makin ruwet gitu. Sebenarnya kalau hanya pemberantasan illegal fishing saja yang dilakukan oleh Menteri Susi tanpa mengubah kebijakan lokalnya, saya rasa perikanan kita akan maju. Karena pencurian ikannya sudah tidak ada. Tinggal kesejahteraannya ini kita manfaatkan untuk kepentingan Indonesia dengan aturan main yang jelas, agar lebih sustainable.

Apa yang melatar belakangi berdirinya Kommari?

Di sini saya melihat di perikanan itu belum bulat dan belum ada asosiasi yang mencoba menggabungkan seluruh aspek kemaritiman seperti KEMENKO MARITIM yang dibentuk. Dari sini saya pikir, bagaimana caranya kita untuk mengkonsolidasikan teman-teman Dan kita pun mengusung konsep Penta Helix antara media, akademisi, pengusaha, pemerintah dan komunitas ini bisa bersinergi untuk mencari jalan tengah. Jadi kita mau cari jalan tengahnya mencari solusi, setiap sesuatu itu harus ada jalan tengahnya, setiap problem itu harus dicari solusinya, kalau tidak, masalah kecil itu bisa jadi besar.

Nah kita harapkan dengan Komunitas Maritim Indonesia ini kita mau mengajak nih mencari jalan tengah tersebut.

Jadi anda melihat fenomena tumpang tindih itu yang selama ini berkembang sehingga Kommari ini berdiri?

Niat kita ini bukan hanya ingin mengkritik pemerintah, bukan! Justru kita ingin pemerintah ini maunya bagaimana, masyarakat maunya bagaimana, industri maunya bagaimana, yuk kita duduk barengan cari jalan tengah demi negara kita. Kita justru mau bermitra buat semuanya, kalau cari musuh gampang.

Wawancara lengkap Henry Sutioso bisa Anda simak di Majalah Samudranesia Volume 3 Tahun 2019. Ingin mendapatkan majalahnya? klik Info Langganan.