Hari ini 5 Tahun Lalu, Jokowi Kumandangkan Lima Pilar Poros Maritim Dunia

0
246
Presiden Joko Widodo dalam KTT APEC tahun 2014.

Jakarta (Samudranesia) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 13 November 2014 mengumandangkan visi Poros Maritim Dunia di hadapan para kepala negara yang hadir dalam Pertemuan Puncak KTT Asia Timur (EAS) di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Tepat lima tahun lalu, Presiden Jokowi memaparkan pembangunan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang memiliki lima pilar utama. Pidato bersejarah itupun terus terkenang hingga kini.

Bangsa Indonesia yang rindu untuk menjadi bangsa maritim sangat mengapresiasi visi dan kebijakan presiden tersebut, apalagi mengumandangkannya di forum internasional. Terlintas rasa bangga terhadap pemimpinnya yang bervisi maritim setelah satu dasawarsa lebih tak ditemui yang seperti ini.

Bahkan bukan hanya bangsa Indonesia saja yang terperanga dengan visi tersebut melainkan dunia pun bergetar. Mitos Indonesia sebagai negara maritim yang besar seakan berada di depan pintu gerbangnya.

“Indonesia akan menjadi Poros Maritim Dunia, kekuatan yang mengarungi dua samudera, sebagai bangsa bahari yang sejahtera dan berwibawa. Agenda pembangunan untuk mewujudkan Poros Maritim Dunia ini memiliki lima pilar utama,” kata Jokowi dalam forum tersebut.

Kelima pilar itu adalah, pertama, pembangunan kembali budaya maritim Indonesia.

“Sebagai negara yang terdiri dari 17 ribu pulau, bangsa Indonesia harus menyadari dan melihat dirinya sebagai bangsa yang identitasnya, kemakmurannya, dan masa depannya, sangat ditentukan oleh bagaimana kita mengelola samudera,” ulasnya.

Kedua,  komitmen untuk menjaga dan mengelola sumber daya laut, dengan fokus membangun kedaulatan pangan laut, melalui pengembangan industri perikanan, dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama.

“Kekayaan maritim kami akan digunakan sebesar-sebesarnya untuk kepentingan rakyat kami,” tegas Jokowi.

Ketiga, komitmen untuk mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim, dengan membangun Tol Laut, pelabuhan laut dalam, logistik, dan industri perkapalan, serta pariwisata maritim.

Keempat, diplomasi maritim yang mengajak semua mitra-mitra Indonesia untuk bekerja sama di bidang kelautan.

“Bersama-sama kita harus menghilangkan sumber konflik di laut, seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut,” ujar Jokowi..

Kelima, sebagai negara yang menjadi titik tumpu dua samudera, Indonesia memiliki kewajiban untuk membangun kekuatan pertahanan maritim.

“Hal ini diperlukan bukan saja untuk menjaga kedaulatan dan kekayaan maritim kami, tetapi juga sebagai bentuk tanggungjawab kami dalam menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim,” kata presiden.

Pidato ini telah menjawab penjabaran Poros Maritim Dunia yang terus didengungkan kala itu. Untuk pertama kalinya visi tersebut diurai dalam bentuk domain (bidang) maritim yang diterjemahkan dalam istilah “pilar pembangunan”.

Dalam perjalanannya, lima pilar Poros Maritim Dunia itu disempurnakan ke dalam Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI) melalui Perpres No.16/2017. Dari lima pilar kemudian menjadi tujuh pilar dengan ditambah Pengelolaan Ruang Laut dan Tata Kelola Lembaga Kelautan.

Seluruh visi kemaritiman itu berjalan di bawah komando Presiden Jokowi melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim). Sejak 2014, pos kementerian ini telah berganti 3 nakhoda mulai dari Indroyono Soesilo (2014-2015), Rizal Ramli (2015-2016) dan Luhut Pandjaitan (2016-sekarang).

Saat ini nama nomenklatur tersebut berubah menjadi Kemenko Kemaritiman dan Investasi. Yang jadi pertanyaan besar ialah bagaimana pencapaian pilar Poros Maritim Dunia setelah 5 tahun berselang?

Sejumlah kalangan menyebut perjalanan pilar tersebut masih jauh dari sasaran. Setiap pilar dinilai masih banyak permasalahan. Bahkan sejak setahun terakhir, hingar bingar Poros Maritim Dunia pun bak hilang ditelan bumi.

Terlihat saat kampanye Pilpres 2019, tidak ada Presiden Jokowi menyampaikan soal visi Poros Maritim Dunia. Hal yang berbeda jauh tentunya ketika Pilpres 2014. Hampir dalam setiap kesempatan, Jokowi selalu menegaskan Poros Maritim Dunia, termasuk saat momen pelantikannya di MPR tanggal 20 Oktober 2014.

Akankah gaung pilar maritim dalam KTT Asia Timur di Nay Pyi Taw, Myanmar 5 tahun silam itu terwujud di periode kedua ini atau bahkan tenggelam? Kita nantikan bersama. (**)