Hadiri Panen Udang Vaname, Menteri Edhy Apresiasi Budidaya Udang di Sulsel

0
43
Menteri Edhy Prabowo di Kabupaten Barru, Sulsesl, hadiri panen raya udang vaname.

Barru (Samudranesia) – Dalam kunjungan kerjanya di Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (1/12), Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo didampingi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto melakukan kegiatan panen udang vaname dan meresmikan 4 unit Hatchery milik PT Esaputlii Prakarsa Utama (Esapratama Fishery Company) di Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulsel.

Turut hadir Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sulaiman Sudirman, perwakilan PT Esaputlii Prakarsa Utama Eddy Baramuli, Bupati Barru Suardi Saleh, jajaran pejabat daerah lainnya, serta para pembudidaya dan stakeholder kelautan dan perikanan lainnya.

Dalam laporannya, Eddy Baramulimenyampaikan,  udang vaname sudah dikenal di Sulsel sejak tahun 2003 dan mulai diekspor pada tahun 2008 sebanyak 7.055 ton. Sulsel memiliki potensi tambak efektif untuk budidaya udang vaname seluas 96.000 hektar, udang windu 38.000 hektar, dan sisanya untuk budidaya ikan bandeng dan sebagainya.

PT Esaputlii Prakarsa Utama sendiri bergerak dalam pembenihan udang vaname dan bandeng dan pembesaran udang intensif dengan kapasitas produksi yang besar. Melalui penerapan budidaya sistem intensifikasi, perusahaan ini berhasil menjadi penyuplai udang vaname terbesar di Sulsel bahkan di seluruh provinsi nusantara.

Pada tahun 2014 mereka berhasil melakukan panen udang hingga 29 ton per satu kali panen untuk 1 petak tambak dengan luas 3.000 m2. Ini disebut menjadi rekor panen udang terbesar di dunia.

Saat ini mereka bahkan mampu menghasilkan udang 15,2 ton per 1.000 m2 dalam sekali panen.

Baramuli menambahkan, PT Esaputlii Prakarsa Utama juga mampu memproduksi benih udang (benur) hingga 7,2 miliar ekor per tahun.

“Mengingat besarnya potensi ini, hari ini dalam rangka mencari solusi terbaik untuk meningkatkan produksi ekspor hasil perikanan pada umumnya, dan hasil udang pada khususnya, kita berdiskusi dengan Bapak Menteri,” cetusnya.

Sementara itu, mengawali sambutannya, Menteri Edhy menyampaikan apresiasi atas pengembangan hatchery (pembenihan) oleh PT Esaputlii Prakasa Utama.

“Saya berharap keberadaan hatchery skala besar ini akan turut berkontribusi dalam pemenuhan benur udang dan bandeng yang bermutu di seluruh Indonesia. KKP sangat mendukung apa yang dilakukan perusahaan dalam pengembangan udang di Indonesia, apalagi saat ini KKP menargetkan ada peningkatan kontribusi devisa ekspor yang lebih signifikan dari komoditas udang. Kita menargetkan nilai ekspor udang meningkat hingga 250 persen di tahun 2024,” papar Menteri Edhy.

Menurut Menteri Edhy, dalam RPJMN 2020–2024, pengembangan udang dengan sistem kluster menjadi salah satu prioritas KKP. Pemerintah akan fokus pada kebijakan dan regulasi investasi udang sehingga investasi akan lebih mudah. 

“Kurang lebih sebulan ini, saya berkeliling ke sentral sentral produksi perikanan. Tentu tujuannya yakni untuk mendengar masukan, keluhan dari stakeholders sebagai bahan referensi kami dalam menyusun arah kebijakan sektor kelautan dan perikanan. Saya tidak ingin, sebuah aturan tiba tiba dibuat tanpa melihat dan mendengar langsung di lapangan karena bapak/ibulah yang akan menjalankannya,” jelasnya.

Menteri Edhy menambahkan, Presiden tengah merancang penyederhanaan regulasi melalui kebijakan omnibus law, sebagai upaya menghilangkan tumpang tindih aturan dan birokrasi. Setidaknya ada 11 klaster kebijakan omnibus law untuk Cipta Lapangan Kerja, dua di antaranya yakni penyederhanaan perizinan investasi dan pengembangan inovasi dan riset.

“Kita berharap kebijakan ini akan berdampak terhadap peningkatan investasi budidaya dan mampu mengakselerasi pengembangan budidaya di kawasan-kawasan potensial. Tentu akan banyak sektor yang terlibat, mulai dari obat, peralatan, serta penyerapan tenaga kerja sehingga akan banyak diperlukan investasi di sektor ini,” pungkas Menteri Edhy. (Rei)