Film “Rumah Merah-Putih” Membangun Nasionalisme dari Perbatasan

0
51
Dok. movieden.net

Jakarta (Samudranesia) – “Merah Putih” memang bak jargon yang pastinya berbau patriotik bagi bangsa kita. Tak aneh, jika kata-kata ini kemudian senantiasa melekat begitu kuat di dada setiap insan di negeri ini. Seolah sebagai penyemangat, frase Merah-Putih tak jarang menjadi trigger bagi segenap anak negeri untuk berbuat sesuatu demi kedigjayaan negeri. Kalau boleh disandingkan Merah Putih tak ubahnya sebagai manifestasi rasa cinta anak bangsa terhadap negaranya. Merah Putih identik dengan cinta negeri yang sudah menjadi harga mati. Makanya, jangan heran jika sedikit saja ada yang ingin mencoba “melukai” Merah Putih, semua anak bangsa pasti bakal sangat murka.

Untuk mengulik seberapa kuatnya cinta anak bangsa ini sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Banyak sisi kehidupan yang bisa dijadikan acuan untuk itu. Dan, memang kenyataannya fakta-fakta itu sangat mudah ditemukan dalam keseharian kita. Contoh paling simpel semisal, taat pajak, tidak merusak alam serta banyak lagi yang lainnnya. Jadi, sejatinya terdapat beragam trik bagi anak bangsa ini untuk mengungkapkan rasa cinta terhadap Ibu Pertiwi.

Dalam konteks sinematografi, film “Rumah Merah-Putih” kiranya sangat layak disebut sebagai salah satu representasinya. Dari judulnya saja, bisa dipastikan secara implisit tersimpan jiwa patriotisme, sekaligus semangat cinta tanah air yang kuat. Film yang diproduksi oleh Alenia Pictures ini memang seolah sengaja ingin menampilkan wujud rasa cinta terhadap negeri. Makanya, dari judul hingga konten cerita ini benar-benar terinspirasi dari potret kehidupan yang faktual di tengah masyarakat kita. Untuk film yang satu ini menyasar pada masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah perbatasan, utamanya Indonesia – Timor Leste.     

Film “Rumah Merah Putih” merupakan bagian pertama dari rencana trilogi film bertema anak-anak yang tinggal di daerah perbatasan. Jadi, masih ada dua film serupa yang akan digarap ke depan, tentang anak-anak di perbatasan Kalimantan dan Papua. Terkait mana yang akan digarap lebih dahulu, belum bisa dipastikan.

Menelisik ceritanya, film ini sebenarnya berintikan tentang persahabatan dua anak Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan. Digambarkan bahwa, meski mereka hidup di pinggiran negeri yang jelas-jelas berbatasan langsung dengan negeri tetangga, dan notabene jauh dari pola hidup yang serbakecukupan seperti saudara mereka yang hidup di kota-kota. Tapi, tak sedikit pun kemudian kondisi itu mengurangi spirit mereka, rasa cinta mereka terhadap negeri ini. Dengan segala keterbatasan mereka seperti tak kehilangan semangat untuk berjuang meraih angan-angan.  

Potret kegigihan mereka dalam mengatasi segala keterbasan hidup di perbatasan terungkap jelas dalam film “Rumah Merah-Putih”. Film ini secara gamblang memaparkan bagaimana upaya tokoh utama cerita Farel Amaral yang diperankan oleh Patrick Rumlaklak dan Oscar Lopez diperankan Amori De Purivicacao seperti tak kehilangan akal ketika menghadapi persoalan pelik. Ceritanya, desa mereka dan seluruh warganya berencana akan merayakan HUT RI. Mereka pun bermaksud ingin memerah-putihkan semua rumah di desa mereka.

Untuk memeriahkan Kemerdekaan RI ini memang seluruh warga mendapatkan jatah cat merah dan putih dari Pemerintah setempat. Cuma sayangnya, cat merah-putih milik Farel tumpah gegara bercanda. Farel pun kebingungan. Ditemani Oscar, ia mencari akal untuk mendapatkan kembali dua kaleng cat pengganti. Banyak hal yang dilakukan demi dua kaleng cat itu. Bagaimana mereka harus bolak-balik ke kota, sampai tidur di emperan toko untuk menukar cat yang ternyata salah warna.

Perjuangan keduanya tak hanya sampai di situ. Demi mendapatkan cat merah-putih, Farel terpaksa harus menjual ayam jago milik ayahnya. Tak tanggung-tanggung, untuk menjualnya mereka harus menyusuri “jalur tikus” agar bisa menyeberang ke negeri tetangga, Timor Leste, menemui sahabat mereka di sana. Dan, uangnya ternyata hanya untuk menambah ongkos ke kota. Luar biasa!

Dari rentetan cerita itu tergambar betapa tokoh cerita film ini pantang menyerah demi mewujudkan angan-angan, memeriahkan hari Kemerdekaan RI. Angan-angan yang sejatinya sangat sederhana, tapi secara tersirat terkuak betapa kecintaan Farel dan Oscar terhadap Indonesia sebenarnya sangat besar. Dan, bisa jadi kecintaan Farel ini merupakan representasi Farel-Farel yang lain di seluruh negeri. Khususnya, di daerah perbatasan.

Selain Patrick Rumlaklak dan Amori De Purivicacao, film “Rumah Merah-Putih” diramaikan pula dengan kehadiran aktor – aktris kenamaan nasional, seperti Pevita Pearce, Yama Carlos, Abdurrahman Arif dan Shafira Umm. Naskah ditulis oleh Jeremias Nyangoen dan dibesut oleh Sutradara Ari Sihasale yang sekaligus bertindak sebagai produser. Film yang pengambilan gambarnya di NTT ini dihiasi sebuah theme song yang begitu apik ciptaan mendiang Elfa Secioria berkolaborasi dengan Vera Syal, berjudul “Sahabat Tersayang”. Dinyanyikan oleh Amora Lemos, putri pasangan penyanyi Krisdayanti dan pengusaha dari Timor Leste, Raul Lemos. Penasaran, ingin menyaksikan film ini secara utuh, sekaligus merasakan nuansa kehidupan masyarakat di perbatasan seperti sesungguhnya? Saksikan “Rumah Merah-Putih”! (Guss)

Agus A. Abdullah/Berbagai sumber