FGD PPAL, Cari Solusi Atasi Kemiskinan Nelayan

0
219
FGD PPAL tentang Peningkatan Kesejahteraan Nelayan di kantornya, Rabu (18/12).

 

Jakarta (Samudranesia) – Tingkat kesejahteraan nelayan yang masih sangat minim, terutama dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir menjadi sorotan dari banyak pihak. Terkait hal tersebut, Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL) mencari solusi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan Indonesia dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama stakeholder bidang perikanan terkait di Kantor PPAL, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Ketua PPAL Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi dalam membuka acara tersebut menyatakan bahwa nelayan memiliki fungsi strategis bagi pembangunan ekonomi dan pertahanan nasional. Bagi TNI AL, nelayan menjadi kepanjangan tangan TNI AL di laut.

“Dengan adanya nelayan bisa mencegah pencurian ikan oleh kapal asing, menjadi alat penghambat masuknya kapal kapal musuh ke perairan Indonesia serta menjadi informan yang handal tentang kondisi perairan wilayah,” tutur Ade.

Kasal tahun 2015-2018 itu menyebut pembangunan maritim nasional tidak bisa diserahkan pada satu pihak. Meski Indonesia jadi negara maritim tetapi keberpihakan kepada nelayan masih kurang sehingga kesejahteraan nelayan masih minim.

“Potensi perikanan besar tapi masih sedikit sekali yang bisa digarap. Banyak sekali hal yang perlu dibenahi. Untuk itulah melalui FGD ini diharapkan muncul solusi dan rekomendasi yang tepat,” ungkapnya.

Sementara itu Kasubdit Perikanan Bappenas Rahmat Mulianda menyatakan bahwa FGD ini sangat tepat waktunya dengan mulai disusunnya RPJMN 2020-2024 oleh pemerintah. “Sehingga rumusan-rumusan FGD ini bisa jadi masukan dalam RPJMN yang menjadi arah pembangunan nasional khususnya yang terkait dengan pembangunan perikanan 5 tahun ke depan,” kata  Rahmat..

Dengan semakin sejahteranya nelayan maka akan semakin banyak kapal kapal nelayan yang mencari ikan di perairan Indonesia. Jika kapal kapal nasional sudah memenuhi perairan maka potensi pencurian ikan oleh kapal asing bisa dihindari.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelasan Seluruh Indonesia (HNSI) Mayjen TNI Purn Yussuf Solichien menyatakan kondisia nelayan Indonesia masih dekat dengan kemiskinan. Kondisi itu terjadi secara struktural dan kultural.

“Nelayan miskin bisa dilihat dari ekonomi, kesehatan, pendidikan dan perumahannya. Kmeiskinan nelayan itu juga disebabkan karena kurang pengetahuan dan akses,” kata Yussuf.

Lebih lanjut mantan Komandan Denjaka itu mengungkapkan sebagian besar nelayan kita masih sulit dalam akses permodalan, BBM, dan banyak dihadapkan dengan permasalahan regulasi serta perizinan.

“Sudah saatnya stigma nelayan yang selalu dekat dengan kemiskinan, kekumuhan dan keterbelakangan dihapus dan berganti dengan nelayan yang berkecukupan dan sejahtera. pastinya nelayan sejahtera negara akan kuat,” tandasnya. (Tyo)