Di Kampung Halamannya, Menteri Edhy Bangun Balai Riset Perikanan Darat Terbesar di ASEAN

0
504
Dok Foto: Humas KKP

Palembang (Samudranesia) – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo hari ini meresmikan Balai Riset Perikanan Perairan Umum Daratan atau  The Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC) – Fishery Resources Development and Management Department (IFRDMD/BRPPUPP) di Palembang, Sumatera Selatan. Ini adalah satu-satunya balai riset perikanan perairan darat di Asia Tenggara.

Dalam sambutannya, Menteri Edhy berpesan agar kajian-kajian di balai riset ini bisa ditransfer dengan baik ke masyarakat. Yang tujuan akhirnya tentu masyarakat, di Sumatera Selatan khususnya, memperoleh pengetahuan yang luas di bidang budidaya perikanan, terutama perairan umum darat.

“Peran Seafdec ini penting untuk mempererat kerja sama kita dengan negara-negara di Asia Tenggara. Walaupun demikian tidak ada gunanya bangunannya mewah, besar, megah tapi hanya lambang. Ilmunya harus bisa ditransfer ke masyakarat,” ujar Menteri Edhy dalam sambutannya, Senin (27/1).

Dengan adanya Seafdec ini, Menteri Edhy juga berharap bisa terbangun citra Sumatera Selatan yang notabene merupakan kampung halamannya sebagai sentra penghasil ikan air tawar di Indonesia, maupun di Asia Tenggara.

“Ikan tembakang digulai pindang; Lemak makannya disertai lalapan; Kan dek Sumsel maju berkembang; Ayo kita jaga perairan umum dan daratan,” kata Menteri Edhy menutupnya dengan pantun.

Sebelum membuka dan memberi sambutan, Menteri Edhy juga sempat melakukan  penebaran benih ikan ke sungai yang terletak di belakang kantor BRPPUPP. Ikan yang ditebar adalah ikan nilem (Osteochilus hasselti) sebanyak 5000 ekor benih dan 2100 ekor benih ikan tembakang (Helostoma temminckii). Kedua ikan tersebut merupakan ikan asli perairan umum daratan.  

Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja, menjelaskan bahwa SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP memiliki 3 fungsi utama, yakni mempersiapkan kajian stok ikan beserta wilayah pengelolaannya; konservasi wilayah perairan sebagai plasma nutfah; dan pengembangan Fish Passage / Fish Way di Indonesia.

“SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP juga berperan menciptakan output unggulan di pengelolaan perikanan perairan umum daratan, karenanya kami menciptakan sejumlah inovasi agar dapat memberikan dampak positif dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Sjarief.

Inovasi pertama yakni aplikasi DACOFA (Data Collection for Fishery Activities). Aplikasi yang dikembangkan oleh SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP ini memungkinkan para enumerator melakukan input data  secara cepat dan efisien. Dengan hadirnya aplikasi berbasis Android ini, penginputan data ikan menjadi mudah karena dapat dilakukan melalui smartphone, sehingga seluruh data akan terekam dalam satu pusat data. 

Output lainnya adalah aplikasi BATAS (Barrier Tracking System) yang diciptakan melalui kolaborasi riset antara BRPPUPP dan P2I LIPI. BATAS merupakan aplikasi untuk mengidentifikasi dan memetakan hambatan (barrier) yang ada di sungai Indonesia. Rencana jangka panjang dari BATAS adalah manajemen adapatif untuk pengoperasian bendungan dan penghalang di sungai-sungai Indonesia untuk mencapai pemulihan konektivitas aliran yang lebih efisien dan mengatasi dampak yang disebabkan oleh fragmentasi sungai.

Di samping itu, SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP turut memperkenalkan Buku Alat dan Metode Penangkapan Ikan di Perairan Umum Daratan Indonesia  serta model suaka perikanan PUD pada tipe daerah rawa banjiran yang bernama SPEECTRA (Special Area for Fish Conservation and Fish Refugia). SPEECTRA merupakan suaka perikanan buatan yang menjadi tempat berlindung ikan (spawning, nursery dan feeding ground) serta menjadi cadangan produksi ikan. 

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa PUD atau perairan darat di Sumatera Selatan saat ini tercatat menjadi yang terluas di Asia Tenggara dengan mencapai 2,5 juta hektar, yang di dalamnya terdapat 233 jenis spesies ikan. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pun berupaya meningkatkan pemanfaatan potensi perikanan tangkap di perairan darat yang hingga kini belum dikelola secara maksimal. 

“Dengan adanya SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP diharapkan dapat mengoptimalkan potensi perikanan darat Sumatera Selatan dengan membangun suaka ikan yang dipusatkan di science technology centre, kajian potensi perikanan perairan darat, dan menjadikan Sumatera Selatan rujukan jalur ruaya ikan (fish way) yang dipusatkan di wilayah komering,” tegasnya. (Tyo)