Dari NTT Mencari “Alien”

0
145

NTT (Samudranesia)-Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN akan memulai misi pencarian kehidupan di luar planet Bumi. Mengandalkan teleskop 50cm, misi yang nantinya dipusatkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp340 miliar yang diambil dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

LAPAN saat ini tengah mengebut pembangunan fasilitas observatorium nasional di Gunung Timau, Kupang, NTT. Mereka menargetkan fasilitas tersebut bisa rampung pada tahun 2021. Nantinya pusat observatorium ini akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Pemilihan lokasi di Gunung Timau, menurut pihak LAPAN, sudah melalui berbagai pertimbangan. Yaitu daerah yang bebas dari polusi cahaya dan udara. “Di daerah dengan polusi cahaya sangat rendah kita bisa melihat bintang yang berkelip di atas kita,” ujar Halimurrahman, Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer saat menggelar talkshow virtual bertema ‘Iptek Pengembangan dan Antariksa Bagi Indonesia Maju’ di Jakarta, Agustus 2020 lalu.

Menurut Halimurrahman, observatorium di Gunung Timau nantinya akan menjadi Taman Nasional Langit Gelap pertama di Indonesia. Setelah selesai pembangunannya, observatorium akan dilengkapi dengan teleskop 380cm yang menjadi teleskop terbesar di Asia Tenggara.

“Pemanfaatan teleskop ke depan selain kepentingan ilmiah juga memantau benda buatan manusia seperti satelit, di sekitarnya apakah ada objek lain yang membahayakan,” tutur Halimurrahman.

Komplek observatorium dibangun di atas tanah seluas 40 hektare di Kawasan Hutan Lindung Gunung Timau pada ketinggian 1.300 mdpl. Pembangunan observatorium ini terlaksana atas kerjasama LAPAN dengan Institut Teknologi Bandung, Universitas Nusa Cendana, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Kabupaten Kupang sedang membangun Observatorium Nasional Timau, di daerah Gunung Timau, NTT.

Selain menjadi pusat penelitian antariksa untuk Indonesia bagian timur,  observatorium Gunung Timau juga akan dibidik menjadi destinasi wisata. Untuk mendukung tujuan itu, LAPAN juga kabarnya akan membangun Pusat Sains di Desa Oelnasi, Tilong. Pusat sains ini nantinya bisa disambangi oleh peneliti nasional dan internasional yang sedang melakukan pembelajaran mengenai tata surya.

Sementara peneliti Pusat Signis Antariksa LAPAN Rhoram Pryantikanto membocorkan jika pembangunan observatorium di Gunung Timau menghabiskan dana sekitar Rp340 miliar yang bersumber dari APBN.

Menurutnya, LAPAN akan menggunakan fasilitas observatorium untuk mengamati komet dan asteriod.  Tak hanya itu, LAPAN juga sedang merencanakan program pengamatan transient project yang dimulai tahun ini. Tujuannya untuk memecahkan teka-teki mengenai ada tidaknya kehidupan di luar Bumi.

“Eksoplanet dan supernova adalah contoh objek transien. Dengan kata lain, kami akan mulai mencari dan mempelajari eksoplanet dengan lebih sistematis. Salah satu arahnya memang menjawab apakah ada kehidupan di luar sana,” ujarnya.