“Campak Dalong” Suku Laut Kesenian yang Sarat Makna

0
219
Dok. netralnews.com

Koba (Samudranesia)- Istilah campak dalong harus diakui belum banyak dikenal masyarakat. Bahkan, bisa jadi  sedikit sekali yang tahu istilah itu. Pastinya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa dibilang mengenal campak dalong. Malah, mungkin lebih dari sekadar mengenal, mereka akrab dengan nama ini. Mereka tentu adalah masyarakat Suku Laut. Khususnya, Suku Laut yang tinggal di wilayah Bangka Tengah, Bangka Belitung.

Sangat masuk akal, jika masyarakat Suku Laut atau disebut juga Orang Sawang diklaim begitu akrab dengan campak dalong. Campak dalong memang adalah satu dari sederet kesenian tradisional khas Suku Laut. Seni tari dan seni lisan yang ditampilkan secara bersama. Cukup unik, sangat bersahaja dan tentunya sarat akan makna. Tak heran, jika seni tradisional ini begitu lekat, begitu mendarah daging dalam kehidupan mereka. Campak dalong sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari Suku Laut.

Lalu, apa sih arti campak dalong itu? Campak, dalam bahasa Orang Laut berarti menyepak atau menendang, dan dalong artinya kalung. Kalung yang terbuat dari kerang kecil dan dirangkai dengan seutas benang. Jadi maksudnya, gerakan menyepak yang kaitan ini adalah menyepak gelombang laut. Ini sekaligus merupakan filosofi campak dalong, “menyepak gelombang laut yang datang ke pesisir.”

Campang Dalong, bisa dibilang kesenian yang tak biasa ditampilkan begitu saja. Ada momen-momen tertentu saja pertunjukan ini bisa digelar. Momen itu salah satunya adalah saat ritual Muang Jong atau Buang Jung. Yakni, upacara adat untuk mensyukuri anugerah Tuhan kepada masyarakat suku ini. Dan, wujud syukur itu biasanya secara simbolis dengan melarung perahu miniatur berisi pelbagai jenis sesaji. Nah, saat itulah masyarakat, khususnya di wilayah Bangka Tengah dan sekitarnya bisa menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional ini.

Dalam tampilannya, tari tradisional ini  dimotori oleh seseorang yang disebut Batman, yang berperan sebagai penari  sekaligus penyanyi. Pertunjukan ini tambah meriah karena dilengkapi sejenis nyanyian yang berfungsi untuk memanggil roh-roh halus. Nyanyian ini biasa disebut deker. Nyanyian lainnya, loncong untuk mengantar jenazah Orang Sawang ke daratan, daek, lagu penghibur, dalong, lagu pemberi semangat saat akan melaut, gajah manunggang, lagu yang bercerita tentang kekuatan penguasa laut.

Untuk mendukung kesenian yang dipercaya sudah ada sejak 1010 M, dibawa nenek moyang Orang Laut dari Belitung ke Pulau Lepar ini dilengkapi sejumlah intrumen musik. Alat musik tersebut gendang nganak, gendang tengah dan gendang nduk, plus sebuah gong. Selain itu juga dimeriahkan dengan kehadiran seorang penyanyi, serta terkadang disertai sejumlah penari.