Bisnis Perikanan Tangkap di Sibolga Sangat Potensial Namun Butuh Infrastruktur Penunjang

0
224
Aktivitas perikanan di PPN Sibolga. Foto: Dok Pribadi Ari Chandra.

Sibolga (Samudranesia) – Kota Sibolga yang terletak di pesisir barat Sumatra Utara yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia merupakan daerah penghasil ikan.  Berjarak kurang lebih 350 km dari kota Medan (waktu tempuh 8 jam perjalanan darat), Sibolga memiliki luas ssekitar 10,77 km² dan data Badan Pusat Statistik kota Sibolga tahun 2020 menujukan jumlah penduduk sekitar 87.626 jiwa di tahun 2019.

Mendapat julukan sebagai kota ikan tapi industri hilirisasi perikanan juga hasil olahan ikan belum hadir di kota ini. Hal itu yang menjadi pertanyaan para pelaku usaha perikanan terkait dengan komitmen pemerintah baik pusat maupun provinsi untuk memaksimalkan potensi tersebut.

“Saya mengamati dari dekat bagaimana proses bisnis ini bergulir mulai dari proses ikan datang, penimbangan, pengiriman hingga penjualan dilakukan. Yang membuat lebih leluasa adalah karena teman saya baru membeli kapal tangkap kapasitas 5-10 ton yang bersandar di dermaga pribadi milik keluarganya. Dermaga ini biasa dimasuki sekitar 30 kapal untuk menimbang hasil tangkapannya. Per kilogramnya dikenakan biaya 0,1 persen tanpa biaya turun jangkar, biaya bulanan atau sewa lainnya,” ujar salah seorang pelaku usaha perikanan, Ari Chandra Kurniawan dalam pesan elektroniknya kepada redaksi, Jumat (23/10).

Archan biasa disapa, selama beberapa hari ini mengunjungi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga. Pelabuhan ini sudah dibangun pemerintah sejak 1993, namun masih banyak infrastruktur penunjang yang belum memadai.   

“Jadi memang berbeda kebijakan dengan dermaga-dermaga lainnya yang lebih komersil dalam proses bisnisnya. Bukan hanya dermaga, keluarga dari kawan saya juga memiliki lahan sekitar 2 hektar persis di depan pasar ikan Nauli. Lahan ini sudah dibangun kios-kios untuk dikerjasamakan kepada para pedagang lainnya. Sekali lagi, dikerjasamakan bukan disewakan!” kata Archan yang juga merupakan Anggota Bidang Ekonomi, UMKM, dan Tenaga Kerja Majelis Pengurus Nasional Pemuda Pancasila (MPN PP) tersebut.

Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2019, PPN Sibolga memiliki produksi perikanan dari bulan Januari sampai dengan Mei 2019 yaitu 13.902 ton, atau mencapai 60,45 persen dari target (23.000 ton). Pada bulan Mei 2019 (3.75.100 kg) angka produksi naik 44,03 persen dari bulan April 2019 (2.605.820 Kg). Sementara untuk Nilai Produksi pada Januari sampai dengan Mei 2019 senilai Rp. 205.825.879.200,-. Untuk nilai produksi pada bulan Mei 2019 (Rp. 50.409.425.000,-) mengalami peningkatan 39,05 persen dari bulan April 2019 (Rp. 36.252.470.000).

Hasil tangkapan nelayan Sibolga. Dok Foto: Ari Chandra

Lanjut Archan, potensi perikanan yang melimpah di Sibolga itu harus membawa dampak kesejahteraan yang baik buat masyarakat pesisir khususnya nelayan. Terutama di masa pandemi Covid-19 ini, sektor perikanan Sibolga bisa menjadi sumber protein untuk memperbaiki gizi masyarakat dan penggerak pemulihan ekonomi akibat pandemi.

“Diam-diam saya menghitung, berapa banyak cuan yang dihasilkan setiap harinya. Lumayan gurih juga sih dan nggak ngaruh dengan pandemi. Tapi, masih ada ruang sangat lebar untuk berinvestasi di sini dan ini sangat tebal cuannya dengan captive market yang sangat luas,” ungkapnya.

Menurut dia, usaha turunan yang berpotensial dalam pengembangan bisnis antara lain pabrik es batu balok karena saat ini cukup jauh dari pasar yaitu sekitar 10 KM. Sehingga perlu biaya transportasi dan angkut.

“Just info, kebutuhan es batu per hari itu 300-an balok per dermaga. Harga per balok kisaran Rp 20ribuan, sementara ada sekitar 30 dermaga yang membutuhkan setiap harinya. Tinggal dihitung saja uang masuk setiap harinya,” jelasnya.

Masih kata Archan, jika di lahan depan pasar dan dermaga itu dibuat pabrik es maka otomatis para nelayan dan pedagang akan beralih kepada pabrik yang akan didirikan itu.

Kemudian, lanjut dia, dari sekian banyak dermaga yang disayangkan adalah belum adanya cold storage di sekitar dermaga dan pasar ikan ini. Sehingga para nelayan harus mengalihkan simpanan ikannya di luar kota Sibolga dengan harga yang jauh lebih tinggi. Atau harus segera dijual habis kalau tidak mau ikan tangkapannya membusuk semua.

“Dengan adanya cold storage, para nelayan dan pedagang tak perlu risau lagi karena cool storage ada di dekat mereka cukup ayunkan beberapa langkah kaki saja. Dengan dua stream income ini saja maka uang akan mengalir deras setiap harinya. Belum lagi dari sumber turunan lainnya. Gimana sudah kebayang potensinya,” tandas dia. (Tyo)