“Bhukere”, Uniknya Menangkap Ikan ala Masyarakat Ayapo

0
67
Dok. kebudayaan.kemendikbud.go.id

Jayapura (Samudranesia) – Masyarakat Ayapo memang identik dengan air. Disebut begitu karena keseharian mereka yang nyaris tak bisa lepas dari air. Sejak bangun tidur hingga menuju peraduan aktivitas mereka  sebegitu dekatnya dengan unsur alam ini. Tak berlebihan, jika gaya hidup mereka layak disandingkan dengan Suku Bajo di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Bedanya, hanya terletak pada tempat tinggalnya saja. Kalau masyarakat Suku Bajo menjadikan perahu sebagai tempat tinggal mereka secara permanen. Sedang masyarakat Ayapo tinggal di rumah-rumah panggung yang berdiri di atas air. Tak heran, kalau permukiman mereka dijuluki “kampung terapung”. Lokasinya, di Danau Sentani, di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Uniknya, posisi rumah-rumah mereka membelakangi daratan atau menghadap ke tengah danau yang luasnya 9.360 hektare itu. Mengacu pada lokasi Kampung Ayapo tak aneh jika seluruh kiprah mereka begitu lekat dengan air. Tak terkecuali tentunya menyangkut mata pencaharian. Secara umum untuk menghidupi keluarga, mereka mengandalkan hidup dari menangkap ikan.

Menangkap ikan bisa dibilang pekerjaan yang sangat dominan di kampung ini. Dan, tentu banyak cara yang bisa dilakukan  untuk menangkap ikan. Salah satunya yang khas bhukere. Cara menangkap ikan ala masyarakat Ayapo yang sudah mentradisi dan berlangsung sejak lama secara turun-menurun. Seperti apa sih bhukere? Alat tangkap ikan tradisional ini terbuat dari kayu yang banyak tumbuh di kampung ini. Namanya, kayu suang atau olulu.

Cara kerja bhukere statis. Alat ini dibuat setelah lokasi yang diklaim terdapat banyak ikannya di Danau Sentani ditentukan. Pengerjaannya beramai-ramai, termasuk kepala adat atau ondoafi. Setelah kayu suang atau olulu dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan, lalu ditancapkan sampai dasar danau dan tetap menyisakan ujung kayu tersebut di permukaan air. Bentuk bhukere melingkar, menyerupai pagar. Untuk menarik perhatian ikan-ikan, pada kayu-kayu tersebut ditaruh ranting atau dahan. Lalu dilakukan ritual khusus agar hasil tangkapannya berlimpah. Dilakukan oleh orang yang memang punya skill ini disebut kabulo.

Untuk mengetahui kapan harus memanen ikan dalam bhukere terbilang cukup unik juga. Bukan ditentukan oleh lamanya waktu seperti panen ikan dengan cara-cara konvensional, tapi berpatokan pada gejala atau tanda-tanda alam. Biasanya, ditandai apabila daun-daun yang ditaruh pada potongan kayu tersebut mulai bersemi. Atau, banyaknya ikan heuw – ikan endemik Danau Sentani – di seputar bhukere. Satu lagi, dengan melihat perjalanan matahari yang mengarah selatan. (Guss)