Belajar Makna Bersyukur dari Nelayan Nusantara

0
183
Kapal nelayan Lebak.

Oleh: Ade Januar*

Bersyukur adalah berterima kasih. Berterimakasih atas apapun, termasuk atas segala limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan. Bersyukur juga merupakan bentuk terimakasih yang diwujudkan dengan suatu perbuatan. Bersyukur tidak memandang jumlah. Banyak atau sedikit, bersyukur perlu selalu dipelihara. Karena orang yang selalu bersyukur niscaya Allah SWT akan menambah kenikmatan tersebut. Bagi yang beragama Islam tentu tahu, sepotong ayat firman Allah SWT dalam QS Ibrahim : 7 yang artinya: “Barang siapa yang bersyukur atas nikmatku kata Allah, niscaya aku akan menambah nikmat itu. Akan tetapi barang siapa yang kufur atas nikmat Ku kata Allah, maka azab ku sangatlah pedih.”

Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut jadi salah satu cara memaknai rasa syukur. Menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah SWT. Bagi seorang muslim tentu biasanya secara spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah) Wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah). Hal itu atas dasar ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah.

Ada juga orang yang selalu menunjukan rasa syukur lewat perbuatan. Ini mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan. Satu cara lain yang biasanya dilakukan orang untuk bersyukur adalah memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan.

Bantuan kapal sebagai anugerah besar bagi nelayan

Beberapa tahun terakhir Pemerintah gencar membangun kapal perikanan yang merupakan program bantuan kapal perikanan kepada nelayan. Program ini dalam rangka untuk memanfaatkan peluang yang terbuka luas di lautan Indonesia guna meningkatkan kesejahteraan nelayan, agar nelayan memiliki kemampuan serta akses menangkap ikan dan memanfaatkan sumber daya ikan. Kebijakan pemerintah di sektor perikanan sangat berpihak kepada nelayan kecil, hal tersebut ditandai dengan keseriusan Pemerintah memerangi kegiatan illegal fishing dan kegiatan penangkapan di laut terlarang untuk asing, kebijakan tersebut membuka peluang besar bagi nelayan untuk berdaulat memanfaatkan sumberdaya ikan di negeri sendiri.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) memiliki komitmen untuk memberikan sumbangsih yang besar terhadap perekonomian dan kesejahteraan nelayan. Dengan tujuan memberikan peluang yang semakin besar kepada nelayan lokal agar bisa melaut, tahun 2017 membangun 755 unit kapal perikanan untuk nelayan. Pengadaan kapal pada tahun 2017 ini melibatkan nelayan sebagai calon penerima kapal bantuan. Sebelum lelang dilaksanakan, nelayan turut serta bersama tim Direktorat Kapal dan Alat Penangkapan Ikan, DJPT melakukan uji coba kapal bantuan (sea trial). Pun pada saat kapal dibangun, nelayan diberikan kesempatan untuk melihat proses pembangunan di galangan. Tujuannya agar bantuan kapal betul-betul sesuai dengan kebutuhan nelayan.

Tahun 2016 jumlah kapal yang terbangun sebanyak 754 unit. Jumlah ini terdiri dari 371 kapal berukuran di bawah 5 GT, 185 unit kapal dengan bobot 185 unit, kapal 10 GT sebanyak 120 unit, 60 unit kapal berukuran 20 GT, dan 18 unit kapal berbobot 20 GT.

Sudah banyak nelayan yang tergabung dalam koperasi menerima manfaatnya. Beragam pula cara mereka menunjukan rasa syukurnya. Sebut saja Kandi (47 tahun), nelayan kecil asal Binuangeun, Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Nelayan yang tergabung dalam Koperasi Mina Muara Sejahtera ini sudah lebih dari 20 tahun melaut, namun hanya sebagai buruh. Namun Koperasi memberinya kepercayaan untuk mengelola KM Nelayan 2017 – 228. Betapa senangnya dia mendapatkan kesempatan ke laut dengan kapal yang dibutuhkannya. “Tos 20 tahun leuwih abdi milarian rezeki di laut pak, ngan ngiring sareng batur. Ayeuna alhamdulillah tos keunging kapercayaan ti koperasi”, tuturnya dengan rasa senang.

Kandi (47) nelayan Binuangeun, Kab. Lebak merawat kapal yang dikelolanya

Sebagai bentuk rasa syukurnya, kandi merawat dengan baik anugerah besar yang diterimanya. Terlihat dia sibuk melakukan laminasi kapalnya untuk merawat bahan fiberglass kapalnya tetap awet. Tak lupa dia menambahkan beberapa komponen di kapalnya seperti rumah-rumah sederhana dan mengganti katirnya dengan bahan kayu yang lebih tahan ombak.

Lain lagi yang dilakukan Sandes Ibrahim (41 tahun), nelayan 3 anak ini telah bergabung dengan Koperasi Nelayan Mahkota Bahari 2 tahun lalu. Sejak bergabung dengan koperasi kehidupannya beranjak naik. Dulu dia harus ke sana kemari mencari hutang untuk modal ke laut dan memberikan bekal istri dan anak-anaknya. Namun setelah dia diberi kesempatan memanfaatkan KM Nelayan 2017 – 10 dia tidak perlu kesulitan mencari uang Rp. 60.000,- rupiah untuk membeli 10 liter premium modalnya ke laut.

Setiap kali pulang melaut selalu dia menyisihkan ikan-ikan hasil tangkapannya untuk memberikan lauk makan tetangganya yang kekurangan. Bukan hanya itu, dia juga selalu mengumpulkan kucing-kucing liar untuk diberi beberapa ekor ikan tangkapannya yang tentunya masih segar dan bagus. Sambal asik mengamati kucing-kucing makan, Andes begitu panggilannya, berkata “dulu setiap gelombang tinggi cam ni kami tak pacaklah nak ke laut. Kami pakai sampan kecik yang keno ombak besak dah karam”. Sejak mengelola kapal bantuan, Andes setiap melaut sedikitnya bawa pulang uang bersih Rp. 140.000 setelah dipotong modal, simpanan pokok dan wajib serta fee koperasi.

Aktifitas rutin Sandes Ibrahim (41), nelayan Bengkulu Tengah selepas melaut.

Inilah bentuk rasa syukur nelayan atas anugrah kapal bantuan yang diterimanya. Rasa syukur hakiki yang dibangun di atas lima pondasi utama. Sesuai janji Allah SWT, barang siapa yang dapat merealisasikannya, maka dia adalah seseorang yang bersyukur dengan benar. Lima pondasi tersebut adalah:

  • Merendahnya orang yang bersyukur dihadapan yang dia syukuri (Allah SWT)
  • Kecintaan terhadap Sang Pemberi nikmat (Allah SWT)
  • Mengakui seluruh kenikmatan yang Dia berikan
  • Senantiasa memuji-Nya atas segala nikmat tersebut
  • Tidak menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT

Dengan demikian syukur merupakan bentuk pengakuan atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan serta menyandarkan nikmat tersebut kepada-Nya, memuji Nya dan menyebut-nyebut nikmat itu, kemudian hati senantiasa mencintai Nya, anggota badan taat kepada-Nya serta lisan tak henti-henti menyebut nama-Nya.

*Penulis adalah Kasie Operasional Kapal Perikanan DJPT KKP