AB Lapian, Wartawan yang Menjadi Sejarawan

0
384
Sejarawan Maritim AB Lapian. Foto: Republika.co.id

Jakarta (Samudranesia) – Mendiang Adrian Bernard Lapian atau yang dikenal dengan AB Lapian merupakan sejarawan maritim besar yang dimiliki Indonesia. Salah satu karyanya yang berjudul ‘Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX’ telah membuka tabir mengenai sejarah maritim Nusantara secara komprehensif.

AB Lapian yang dilahirkan pada tanggal 1 September 1929 yang kemudian diperingati kelahirannya dalam acara webinar bertajuk ‘Jangan Lupa Lautan: Mengenang 91 Tahun AB Lapian’ yang diselenggarakan oleh Komunitas Bambu bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa (1/9).

Baca Juga: Membangun Maritim Bangun Lewat Karya AB Lapian

Dalam pemaparannya, Albert Lapian yang merupakan perwakilan keluarga AB Lapian menuturkan bahwa almarhum seorang yang tekun dalam belajar dan ikut berjuang di masa kemerdekaan. Penguasaan bahasa asing yang dimiliki oleh AB Lapian seperti Belanda dan Jepang diperolehnya karena sebagai penjajah otomatis menjadi pelajaran wajib bagi anak-anak bangsa Indonesia di masa tersebut.

“Saya baca literaturnya dan mendapat pujian dari promotor saat memperoleh gelar doktornya di UGM itu karena ketekunannya sudah mulai dari kecil. Saya kira untuk profesinya bapak-bapak di sini lebih tahu,” ujar Albert Lapian.

Kenangan yang diingatnya ialah ketika almarhum menumpang kapal Pelni saat berlayar ke Manado. Saat itu, dirinya tidak ikut mendampingi pelayaran tersebut. Namun dikatakan oleh AB Lapian, dirinya tidak takut sama sekali menaiki kapal walaupun terjadi trouble engine atau kapal mogok di tengah laut.

“Jadi saat terjadi trouble engine, almarhum menemukan orang navigasi malah main karambol di atas dan tidak ada rasa takutnya sama sekali. Jadi beliau ikut berlayar itu bukan cuma sekadar ikut menumpang tapi dia teliti juga kehidupan di atas kapal,” ungkapnya.

Sementara itu, Alex Ualen yang merupakan pemerhati sejarah yang cukup lama mengenal AB Lapian mengaku sangat kagum dengan pemikiran-pemikirannya. Ia menyebut Anthony Reid, seorang sejarawan terkemuka yang meneliti Asia Tenggara mengemukakan dalam halaman belakang buku ‘Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX’ soal kekagumannya pada AB Lapian.

“Menurut Anthony Reid tidak ada sarjana Indonesia yang telah mendemonstrasikan keahliannya sebagai sejarawan yang lebih baik dari AB Lapian, tentu di masa itu. Kenapa Anthony Reid berkomentar seperti itu karena komentar Pak Sartono (Kartodirjo), pembimbingnya, bahwa apa yang dilakukan oleh AB Lapian dengan karyanya ini benar-benar suatu keberhasilan yang cemerlang,” kata Alex.

Buku ‘Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut’ karya AB Lapian

Ia menambahkan bahwa buku yang ada itu hanya secuil dari gagasan AB Lapian. Menurutnya, AB Lapian merupakan produk pendidikan di zamannya dan sentuhan orang tua yang sangat nasionalis.

Alex juga mengisahkan bahwa AB Lapian semasa kuliahnya pernah bekerja sebagai wartawan. Sehingga hal itu membuat karya tulisnya mengalir dan enak dibaca.

“Cara menulis sebagai seorang wartawan, bekerja di desk Indonesia Observer itu membekali dia dengan kemampuan bagaimana menuangkan gagasan tapi bagaimana dia menuturkan itu dengan sederhana,” jelasnya.

Peneliti LIPI Dedi S Adhuri yang merupakan salah seorang anak didik AB Lapian mengutarakan bahwa almarhum merupakan peneliti di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya – LIPI.

“Di sana beliau membuat kelompok studi maritim, beliau yang membentuk, beliau yang mengoordinir sampai pensiuannya beliau dari LIPI dan saya dengan beberapa teman melanjutkannya sekarang,” ucap Dedi.

Ia mengaku perjalanan karirnya di LIPI telah dibidani oleh AB Lapian. Sehingga banyak kisah yang terpatri dalam sanubarinya mengenai kedekatan dengan sang guru saat memulai karirnya.

Bermula dari skripsi yang ditulisnya di pertengahan tahun 1990 dengan fokus kajian tentang nelayan di Pulau Tidore, Dedi berjumpa dengan AB Lapian di LIPI. Saat itu, datang tawaran kepadanya untuk bekerja di LIPI.

“Saat itu Pak Lapian bilang ‘yaudah kalau kamu mau kerja di LIPI besok langsung masuk, tapi karena kita enggak bisa langsung kasih gaji, kalau kamu ada pekerjaan di luar silakan saja, tapi kalau tidak ada masuklah ke sini kita belajar bersama’. Itulah yang membuka LIPI khususnya kelompok studi maritim memberi kesempatan saya untuk menajdi murid beliau dan saya menjadi anggota dari kelompok itu,” kenangnya.

Tidak selang lama ia langsung diikutkan dalam proyek ‘The Maritime Silk Route Expedition’ yang diselenggarakan oleh UNESCO. Proyek ini meneliti jalur sutra maritim dari Italia sampai ke Jepang.

“Saya diaturkan waktu oleh Pak Lapian untuk ikut dari Karachi, Pakistan sampai Surabaya. Itu pengalaman yang luar biasa dari sisi substansi, karena saat itu saya anak bawang saja bukan tapi cucu bawang dalam segi penguasaan akademis dari sisi sejarah maritim dan kajian-kajian akademis, tapi beliau langsung melibatkan saya dalam proyek ini,” kenangnya lagi.

AB Lapian berpesan kepadanya dalam kegiatan itu tidak hanya melihat kajian-kajian maritim yang ada di Indonesia saja, tetapi juga di dunia luar yang lebih luas. Kemudian, AB Lapian berharap dirinya bisa menjalin network yang lebih luas secara global untuk keperluan kita sebagai sebuah bangsa.

Hasil kajian yang diperolehnya dari kegiatan itu ialah tentang bagaimana suku-suku bangsa di Indonesia yang merupakan diaspora dari berbagai suku yang ada di berbagai daerah. Sehingga banyak suku-suku di Indonesia merupakan mix antar suku bangsa.

“Yang menarik bagi saya adalah ketika kita membelah sejarah maritim, sejarah pelayaran dari kajian antropologi, sebenarnya kita bisa melihat bahwa realitas kebhinekaan Indonesia itu merupakan wujud natural yang berkembang di antara suku-suku bangsa yang ada di Indoensia sendiri,” bebernya.

Dedi menyatakan banyak hasil kajian dari AB Lapian yang digunakannya dalam mempengaruhi kebijakan kelautan di Indonesia. Salah satunya mengenai hak ulayat suku-suku laut atau komunitas maritim yang termarjinalkan akibat kebijakan negara.

“Yang kami masih berutang kepada Pak Lapian soal kajian tentang Bajau. Pak Lapian pernah meng-organize International Conference Bajau People di tahun 1993. Di LIPI sendiri secara spesifik belum dilakukan penelitian meskipun kami terlibat dengan advokasi-advokasi terhadap tuntutan orang Bajau, tuntutan sebagai orang-orang ilegal yang tidak punya kewarganegaraan di Indonesia. Ini utang kami kepada Pak Lapian yang sebenarnya fondasinya sudah ditanamkan oleh beliau,” terang Dedi.

AB Lapian, sambung Dedi juga telah membangun fondasi-fondasi kajian maritim kontemporer melalui data sharing untuk membantu masyarakat pesisir dalam mitigasi bencana.

“Pak Lapian buat kami masih hidup. Kami terus hidupkan fondasi kajian-kajian maritim. Bahkan kami sudah kembangkan kajian maritim yang kontemporer. Terakhir kami berutang untuk mengadakan memoriam lecture yang kontinyu dan reguler sebagai nakhoda kajian maritim,” tandasnya.

Narasumber lainnya yaitu Susanto Zuhdi, menyampaikan beberapa jasa AB Lapian sebagai pembimbingnya. Salah satu yang diingatnya yaitu prinsi ABC dalam menulis, yang sangat simpel tapi sangat mendalam.

“Pegangan kita dari beliau itu Cuma 3 huruf saja ABC. Benar tadi apa yang sudah disampaikan kalau tulisan-tulisan beliau itu accurate, bright and clear. Ini adalah tantangan bagi kita untuk bagaimana tulisan-tulisan kita bisa seperti beliau,” kata Susanto.

Selanjutnya, ia sangat mengingat sekali jasa-jasa besar AB Lapian dalam mempertahankan Jurusan Sejarah di Universitas Indonesia (UI). Susanto mengaku dirinya bisa menjadi seperti saat ini tentu berkat jasanya.

“Sebenarnya dulu Jurusan Sejarah sempat ingin ditutup sesudah Prof. Nugroho wafat pada tahun 1985. Sebetulnya orientasi ke mana Jurusan Sejarah ke depan itu agak menjadi masalah karena belum ada kader-kader yang akan menjalakan program yang sudah ditetapkan,” ungkap dia.

Menurutnya, UI sebagaimana diketahui lebih fokus dalam sejarah kontemporer dan politik. Akhirnya AB Lapian datang dengan menawarkan sejarah maritim.

“Untuk menyiapkan kader setelah Prof. Nugroho, diadakan sandwich program ke negeri Belanda. Jadi kami dipersiapkan sekaligus menyiapkan bekal untuk mengambil tema abad ke-19. Jadi yang membawa saya ke laut itu ya Pak Lapian,” pungkasnya. (Tyo)